Mengenal ‘Power Bank’ Raksasa RI yang Diminati Tesla

Tesla Powerwall (Tesla.com)

Jakarta, CNBC Indonesia – Pemerintah mengungkapkan Tesla Inc., perusahaan mobil listrik asal Amerika Serikat, lebih tertarik untuk berinvestasi di sektor Energy Storage System (ESS) atau sistem penyimpanan energi di Indonesia.
ESS ini seperti ‘power bank’ dengan giga baterai skala besar yang bisa menyimpan tenaga listrik besar hingga ratusan mega watt (MW) dan bisa dijadikan sebagai stabilisator atau untuk pengganti pembangkit peaker (penopang beban puncak).

Hal tersebut diungkapkan Septian Hario Seto, Deputi Bidang Koordinasi Investasi dan Pertambangan Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi dan juga Ketua Tim Percepatan Proyek Baterai Kendaraan Listrik Agus Tjahajana Wirakusumah, kepada wartawan belum lama ini.

“Dengan Tesla, kita juga sedang dalam tahap negosiasi. Tesla baru belakangan masuk (menyatakan minat). Kita lagi pelajari dia mau masuknya ke mana. Dari pembicaraan kemarin, mereka sepertinya mau masuk ke ESS,” ungkap Agus Tjahajana saat diskusi dengan media dalam webinar “EV Battery: Masa Depan Ekonomi Indonesia”, Selasa (02/02/2021).

Septian pun mengatakan, ESS ini bisa dikombinasikan dengan pembangkit tenaga listrik berbasis energi baru terbarukan seperti Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

“Mereka sampaikan pada kita bahwa mereka dari sisi permintaan dengan negara lain sudah sangat tinggi, tapi suplai ESS tidak banyak. Mau kerja sama dengan Indonesia dengan negara kepulauan potensi EBT mereka bisa kombinasikan teknologi ESS di Indonesia,” jelasnya.

Lantas, seperti apa ESS yang sudah dibangun oleh Tesla? Apakah Indonesia sudah menggunakan ESS ini?

Unit bisnis Tesla di bidang penyimpanan energi ini yaitu Powerwall. Mengutip situs Tesla, Powerwall merupakan baterai penyimpan energi, pendeteksi pemadaman listrik dan secara otomatis menjadi sumber energi rumah Anda saat jaringan mati.

Tidak seperti generator bensin, Powerwall membuat lampu Anda tetap menyala dan ponsel tetap terisi daya tanpa perawatan, bahan bakar, atau kebisingan. Pasangkan dengan tenaga surya dan isi ulang dengan sinar matahari agar peralatan Anda tetap beroperasi selama berhari-hari.


Cara Pakai

Dengan memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap atau panel surya (solar panel), maka Powerwall ini akan menyimpan energi matahari pada siang hari.

Energi yang tersimpan dalam Powerwall ini bisa digunakan kapan pun di rumah.

Powerwall ini juga sangat bermanfaat bila digunakan pada malam hari ketika tidak ada lagi sinar matahari dan ketika terjadi pemadaman listrik dari sistem jaringan listrik domestik.

Energi bisa diisi ulang ketika matahari terbit keesokannya atau jaringan listrik domestik kembali menyala.

Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Andhika Prastawa, mengatakan ESS ini sudah digunakan di Indonesia pada pemanfaatan tertentu, seperti di stasiun penerima sinyal telekomunikasi (Base Transceiver Station/ BTS) GSM, listrik di pedesaan yang menggunakan PLTS atau Pembangkit Listrik Tenaga Banyu/ Angin (PLTB), Uninterruptible Power Supply (UPS) di pusat-pusat data, dan sebagainya.
“Pada umumnya masih untuk keperluan listrik untuk cadangan atau penyimpan energi pembangkit listrik di pedesaan dan terisolasi (off-grid),” ujarnya kepada CNBC Indonesia, Senin (15/02/2021).

Namun demikian, menurutnya ESS yang ditawarkan Tesla adalah untuk penggunaan yang lebih luas dari pemanfaatan untuk energi cadangan atau kelistrikan di pedesaan.

Tesla mengusulkan pemanfaatan di jaringan kelistrikan dengan skala besar untuk kebutuhan peningkatan keandalan jaringan dan kualitas jaringan karena penetrasi PLTS dan PLTB yang besar, sehingga flukstuasi dan intermittensi dapat diatasi.

“Begitu pula untuk kebutuhan perumahan yang menginginkan dipenuhi kebutuhan listriknya dari PLTS dapat menyimpan dalam powerwall,” ujarnya.

Sementara PLTS di Indonesia yang menggunakan ESS menurutnya pada umumnya yaitu yang dioperasikan di pedesaan. ESS atau baterai digunakan untuk menampung energi surya pada siang hari, dan dimanfaatakan pada malam hari.

Pemanfaatan ESS untuk PLTS di perkotaan masih sangat jarang karena harga investasi yang belum dapat bersaing dengan energi listrik konvensional.

“PLTS di perkotaan pada umumnya dengan teknologi terhubung jala-jala tanpa baterai, sehingga harga listrik PLTS lebih ekonomis dibanding dengan baterai,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana pun mengatakan, saat ini belum ada pemakaian ESS dari PLTS yang tersambung dengan jaringan listrik PLN. Untuk itu, menurutnya kini PLN mengusulkan untuk pemanfaatan ESS yang dikombinasikan dengan PLTS.

“Untuk yang interkoneksi dengan jaringan PLN memang belum ada yang menggunakan ESS, dan sekarang ada beberapa usulan dari PLN untuk pemanfaatan ESS dikombinasikan dengan PLTS,” tuturnya.

Dia pun mengatakan yang berjalan di Indonesia saat ini yaitu untuk penyediaan listrik dari PLTS off-grid seperti listrik untuk pedesaan terisolasi dan konversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) ke PLTS.

Andhika mengatakan bila Tesla jadi berinvestasi untuk membangun pabrik ‘power bank’ raksasa di Indonesia, maka ini sangat mendukung pemanfaatan PLTS di Tanah Air.
Jika teknologi ESS sudah semakin banyak, dan harganya semakin ekonomis, maka harga listrik dari PLTS yang disimpan di ‘power bank’ raksasa ini bisa sama atau bahkan lebih murah bila dibandingkan dengan tarif listrik dari pembangkit listrik konvensional saat ini.

“Bila teknologi ESS sudah demikian ekonomis, yaitu harga listrik dari PLTS dan disimpan ESS, harga listrik sama atau lebih murah dari tarif listrik (saat ini), tentu ini sangat membantu dalam mempercepat pemanfaatan PLTS,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dadan Kusdiana. Dadan mengatakan, bila industri ESS di Tanah Air semakin maju, maka ini akan mendorong pemanfaatan PLTS lebih besar lagi.

“Tentunya kalau nanti ada industri ESS di Tanah Air, ini akan mendorong pemanfaatan yang lebih besar di dalam negeri karena akan lebih kompetitif,” ujarnya.

Berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga 2020 telah terpasang 153,5 mega watt (MW) PLTS di dalam negeri. Adapun PLTB mencapai 154,3 MW.

Sedangkan potensi energi surya di Indonesia bisa mencapai 207,8 giga watt (GW) dan potensi PLTB mencapai 60,6 GW.

sumber: cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s