Survei Mobil Listrik, Harga dan Stasiun Pengisian Daya Jadi Sorotan

Petugas bersiap mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU), di kawasan Fatmawati, Jakarta, Selasa, 15 Desember 2020. SPKLU tersebut didukung berbagai tipe gun mobil listrik ini merupakan upaya Pertamina untuk mendukung pemerintah dalam mendorong tumbuhnya ekosistem kendaraan listrik dalam negeri. TEMPO/Tony Hartawan

TEMPO.CO, Jakarta – Sebagian besar orang berminat untuk memiliki mobil listrik (electric vehicle/EV) dan sadar bahwa kendaraan itu mengurangi polusi udara atau iklim.

Meski begitu, ketersediaan infrastruktur pengisian daya, jangkauan kendaraan, dan harga mobil listrik masih menjadi pertimbangan utama yang menjadi disoroti.

Menurut hasil survei Consumer Reports di Amerika Serikat, tingkat ketertarikan masyarakat terhadap kendaraan listrik atau mobil listrik tinggi. Sebanyak 71 persen pengendara mengatakan mempertimbangkan membeli satu mobil listrik di masa mendatang.

Dari data yang dipublikasikan baru-baru ini tersebut, lebih dari 70 persen dari responden mengatakan mobil listrik mengurangi polusi udara atau iklim. Pembuat mobil [un harus menawarkan model pick-up listrik plug-in dan versi SUV, selain model-model lainnya.

“Konsumen dapat menghemat banyak uang dalam jangka panjang dengan beralih ke EV,” kata Chris Harto, analis senior soal kebijakan keberlanjutan di Consumer Reports, seperti dikutip hari ini, Jumat, 18 Desember 2020.

Chris jugav menulis studi mengenai manfaat biaya EV dibanding mobil BBM konvensional.

Dia mengatakan survei ini untuk mempelajari lebih lanjut tentang keakraban orang-orang dengan EV. Berdasarkan hasil survei, masalah jangkauan mobil listrik dan ketersediaan stasiun pengisian daya menjadi perhatian utama pengendara di AS.

Sekitar setengah dari responden menginginkan mobil listrik dapat menempuh jarak lebih dari 300 mil (sekitar 483 km) untuk satu kali pengisian daya penuh.

Kurang dari setengah responden mengatakan infrastruktur pengisian daya yang tidak memadai di sepanjang jalan raya sehingga mereka tidak membeli mopbil listrik.

Alasan tak membeli mobil listrik adalah soal harga (48 persen), pengetahuan yang tidak memadai tentang kendaraan bermotor (30 persen), dan kurangnya tempat untuk pengisian daya di rumah (28 persen).

Sebanyak 71 persen pengemudi yang mengikuti survei mengatakan akan melakukan sebagian besar pengisian daya mobil listrik di rumah. Menurut sigi, penggunaan mobil listrik dengan jarak 250 mil dapat melakukan 92 persen pengisian daya di rumah.

Berbeda dengan penghuni apartemen yang menyatakan akan mengisi daya mobil listrik di stasiun-stasiun pengisian cepat publik. DanLebih setengah dari mereka mendukung anggaran negara untuk infrastruktur pengisian daya mobil listrik dan insentif untuk menurunkan harga mobil listrik.

sumber: tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s