Limbah Pabrik Belum Ditangani Serius

Petugas memperlihatkan kontainer berisi limbah plastik di Terminal Peti Kemas Koja, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Rabu 18 September 2019.

Jakarta, Beritasatu.com – Maraknya limbah medis yang tidak ditangani dengan baik terus mencuat sejak merebaknya wabah Covid-19. Namun, persoalan limbah secara umum juga masih menyimpan banyak pekerjaan rumah, terutama di kawasan Jabodetabek. Salah satunya adalah pencemaran yang dilakukan sejumlah industri atau pabrik.

Beberapa informasi yang dihimpun SP menyebutkan sejumlah pabrik atau industri dari skala kecil hingga besar menyebabkan pencemaran di Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Kasus terakhir di Bogor dan Depok yang sempat terpantau adalah limbah pabrik tahu dan pabrik makanan atau pengolahan daging. Pekan lalu, warga Desa Desa Leuwinutug, Kecamatan Citereup, Kabupaten Bogor, mengeluhkan pencemaran Sungai Gudang yang diduga berasal dari sebuah pabrik bakso dan sosis. “Warga mengeluhkan pencemaran yang menyebabkan bau dan aroma seperti bangkai hewan,” ujar salah seorang warga.

Seperti diketahui, Sungai Gudang mengalir sepanjang 2 kilometer lalu bermuara ke Sungai Cileungsi yang akan berlanjut ke Kali Bekasi. Pada Juli lalu, warga melaporkan tiga kasus pencemaran Sungai Cileungsi ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kemitraan DLH Kabupaten Bogor Endah Nurmayati mengakui adanya pengaduan warga tersebut dan sudah menurunkan tim ke lapangan untuk memeriksa sampel air sungai.

Di Depok, pernah dilaporkan warga Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Cimanggis, yang mengeluhkan bau tak sedap dari air limbah dan suara bising mesin pabrik bakso di wilayah tersebut. Keluhan warga Mekarsari itu hanya memperkuat banyaknya aktivitas pabarik atau usaha yang tidak mengatur instalasi pengolahan air limbah (IPAL) dengan baik. Di sisi lain, tidak sedikit perusahaan di wilayah tersebut tidak memperbaharui instalasi standar pengolahannya sesuai peningkatan skala produksi yang di lakukan. Akibatnya hanya sebagian limbah yang diolah sebelum dibuang ke sungai sementara sebagian lainnya di biarkan tanpa melewati proses penyaringan.

Dalam survey yang dilakukan Wali Kota Bogor Bima Arya bersama tim menyebutkan cukup banyak aktivitas pabrik, khususnya pabrik tahu, yang membuang limbah di Sungai Ciliwung.
“Ada limbah yang dibuang langsung ke sungai, kebanyakan pabrik tahu. Dari Bogor sampai Depok ada 11 (pabrik tahu), dari Depok sampai Jakarta ada belasan juga,” katanya kata Bima Arya.
Akibat pencemaran dan vegetasi yang berkurang, Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengkhawatirkan kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung dalam kondisi kritis.

Dilaporkan
Kondisi yang sama juga terjadi di Tangerang Selatan yang bermuara di Sungai Cisadane. Calon wakil walikota Tangsel Rahayu Saraswati yang menyusuri Sungai Cisandane pekan lalu mendapatkan salah satu pabrik membuang limbah secara sembarangan ke sungai. Adapun limbah tersebut diduga berasal dari pabrik tisu yang ditengarai sudah beberapa kali membuang limbah sembarangan dan meresahkan warga sekitar pabrik tersebut.

Komunitas Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) menjelaskan pencemaran dari pabrik-pabrik tersebut sudah berlangsung lama dan sudah sering juga dilaporkan ke pihak yang berwenang.
Selain di sekitar DAS Cisadane, pencemaran juga terjadi sentra-sentra industri lainnya. Warga Desa Telaga Sari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, juga mengeluhkan sebuah pabrik coklat di kawasan tersebut yang dianggap melakukan pencemaran atau perusakan lingkungan.

Sedangkan di Bekasi, pencemaran pabrik di beberapa aliran sungai sudah sering terjadi. Salah satunya adalah pencemaran di Kali Bekasi yang terhubung dari Bogor dengan Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas. Belum lama ini, Kali Bekasi dipenui buih atau busa yang cukup banyak dengan aroma tidak sedap dan sangat menyengat hidung.

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi mengeluhkan hal tersebut dan sudah melaporkan kondisi tersebut ke Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk membantu mengatasinya.
Rahmat menuding sumber pencemaran berasal dari sejumlah industri di wilayah Cileungsi, Kabupaten Bogor. Sebab, hasil penelusuran limbah sudah ada di wilayah perbatasan tak jauh dari Curug Parigi (perbatasan) yang sekarang menjadi destinasi wisata alam di Bekasi.

“Saya yakin itu limbah bukan dari hulu-hulu banget dari Hambalang itu tidak. Paling di kawasan pabrik-pabrik saja yang dari Cileungsi sana,” kata Rahmat saat itu.

Sumber:BeritaSatu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s