Batu Bara 20 Tahun Lagi Tak Laku, Begini Tren Konsumsi Dunia

Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia – Batu bara diperkirakan bakal tak laku lagi pada 20-30 tahun mendatang karena berbagai negara di dunia berlomba-lomba menggunakan energi bersih guna memerangi dampak perubahan iklim.


Lantas, seperti apa tren konsumsi batu bara dunia saat ini? Apakah benar tren konsumsinya terus menurun setiap tahunnya?

Berdasarkan data BP Statistical Review 2020, konsumsi batu bara global pada 2019 mencapai 157,86 exajoules, turun 0,6% dibandingkan 2018 yang sebesar 158,79 exajoules. Penurunan permintaan batu bara terbesar berasal dari negara uni eropa yakni mencapai 17,8% menjadi 7,69 exajoules dari 9,37 exajoules pada 2018.

Begitu pun dengan negara-negara maju tergabung dalam Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), konsumsi batu bara turun 11,3% menjadi 32,10 exajoules dari 36,19 exajoules pada 2018. Sementara negara-negara di luar OECD hanya naik 2,6% menjadi 125,75 exajoules dari 122,61 exajoules pada 2018.

Spesifik Asia Pasifik, konsumsi batu bara pada 2019 naik 2,2% menjadi 122,22 exajoules dari 119,62 exajoules pada 2018. Pertumbuhan tertinggi terdapat di Bangladesh yakni mencapai 41% menjadi 0,14 exajoules dari 0,10 exajoules pada 2018. Lalu, Singapura naik 30,8% meski dari sisi volume tidak banyak yakni menjadi 0,03 exajoules dari 0,02 exajoules. Di posisi ketiga ditempati Vietnam yang naik 30,2% menjadi 2,07 exajoules dari 1,59 exajoules pada 2018.

Adapun China yang merupakan konsumen batu bara tertinggi tumbuh 2,3% menjadi 81,67 exajoules pada 2019 dari 79,83 exajoules pada 2018. Lalu India tumbuh 0,3% menjadi 18,62 exajoules pada 2019 dari 18,56 exajoules pada 2018.

Sementara Indonesia tumbuh 20% menjadi 3,41 exajoules pada 2019 dari 2,84 exajoules pada 2018.

Untuk penurunan terbesar terjadi di Spanyol yakni turun 54,6% menjadi 0,21 exajoules pada 2019 dari 0,46 exajoules pada 2018. Lalu Portugal turun 49,4% menjadi 0,06 exajoules dari 0,11 exajoules pada 2018. Kemudian Denmark turun 41,8% menjadi 0,04 exajoules dari 0,07 exajoules pada 2018.

Sementara konsumsi batu bara di Amerika Serikat hanya turun 14,6% menjadi 11,34 exajoules pada 2019 dari 13,28 exajoules pada 2018.

Bila dilihat selama tujuh tahun terakhir, data BP Statistik ini menunjukkan bahwa terdapat penurunan konsumsi batu bara dunia sekitar 2,5% menjadi 157,86 exajoules pada 2019 dari 161,98 juta ton pada 2013. Tiap tahunnya menunjukkan tren penurunan konsumsi yakni menjadi 161,84 exajoules pada 2014, 157,84 exajoules pada 2015, lalu 155,50 exajoules pada 2016, namun pada 2017 ada tren peningkatan menjadi 156,09 exajoules, 158,79 exajoules pada 2018, namun turun lagi pada 2019 menjadi 157,86 exajoules.

sumber: cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s