Saham Perusahaan Energi Terbarukan Ini Meroket 300%, Kok Bisa?

Warga Desa Enem, Distrik Obaa, Kabupaten Mappi, Provinsi Papua kini mendapat pasokan listrik dari PLN. Pasokan listrik diperoleh melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 kwp.

PLTS yang hari ini diresmikan itu, masuk ke dalam program Papua Terang, dan sudah menyasar 51 desa di pedalaman Papua. Biaya investasi pembangunan infrastruktur kelistrikan di Enem ini senilai Rp 8,72 miliar.

Jakarta – 

Setelah bertahun-tahun tak dilirik, kini saham perusahaan tenaga surya jadi paling populer di Wall Street. Saham perusahaan tenaga surya terbesar di Amerika Serikat (AS), Sunrun melonjak hingga 300% sepanjang 2020 dan saham Invesco Solar ETF telah meningkat dua kali lipat tahun ini.

Pemerintah kini lebih banyak mendukung energi terbarukan dan Joe Biden juga telah menyerukan untuk menghapus emisi karbon dari jaringan listrik pada 2035. Sementara itu, investor telah membuang saham bahan bakar fosil, terutama perusahaan minyak besar.

ExxonMobil kini bukan lagi perusahaan energi terbesar di AS berdasarkan nilai pasar. Kedudukannya digantikan oleh perusahaan energi surya dan angin NextEra Energy (NEE).

“Ini hanya sebuah tanda bahwa energi terbarukan akan menjadi solusi yang tumbuh lebih cepat dan lebih terjangkau. Tidak dapat disangkal lagi,” kata Pendiri dan CEO Sunrun, Lynn Jurich, dikutip dari CNN, Rabu (4/11/2020).

Jurich pun menggandakan peningkatan tahun ini dengan mengambilalih perusahaan properti rumah pintar, Vivint seharga US$ 3,2 bulan Juli lalu. Kesepakatan itu menggabungkan dua perusahaan terbesar di AS.

Setelah transaksi itu, investor bergegas membeli saham Sunrun dengan harapan akuisisi dan dengan adanya kebijakan yang lebih menguntungkan dari pemerintah AS akan meningkatkan prospek perusahaan.

“Biden sangat mendukung energi terbarukan, khususnya solar residensial,” kata Sophie Karp, analis senior di KeyCorp.

The Invesco WilderHill Clean Energy ETF (PBW), yang memiliki saham di Sunrun, SunPower (SPWR), Tesla (TSLA) dan perusahaan terbarukan lainnya, sahamnya meningkat hampir dua kali lipat tahun ini. Sebaliknya, Dana SPDR Sektor Pilihan Energi yang didominasi oleh Exxon dan Chevron sahamnya turun 50%.

“Biden dihargai, Saya benar-benar berpikir kita akan melihat kekecewaan jika dia tidak menang,’ ujar Karp.

Joe Biden telah mengusulkan hampir US$ 2 triliun investasi untuk mengatasi krisis iklim dan menciptakan pekerjaan serikat pekerja yang tidak dapat dialihdayakan.

Satuan tugas iklim Biden menyerukan untuk memasang 8 juta atap surya dengan memotong birokrasi untuk mempercepat perizinan. Itu adalah target yang ambisius mengingat AS saat ini hanya memiliki sekitar 2,2 juta instalasi tenaga surya di rumah.

Rencana pajak yang diusulkan Biden juga menyerukan Kongres untuk memperluas kredit pajak energi terbarukan dan memulihkan Kredit Pajak Investasi Energi (ITC). Kredit pajak untuk pemilik rumah yang membeli atau mendanai instalasi tenaga surya di atap akan dihapuskan pada tahun 2022.

“Memperpanjang kredit pajak di bawah Biden, sesuatu yang semakin dihargai orang tahun ini, bisa menghasilkan banyak uang. Ini akan mempercepat pertumbuhan dan membuat tenaga surya lebih kompetitif,” kata Michael Weinstein, seorang analis di Credit Suisse.

Weinstein menekankan, energi terbarukan dan khususnya tenaga surya tidak lagi membutuhkan bantuan dari pemerintahan negeri Paman Sam itu untuk bersaing dengan bahan bakar fosil. Sebab biaya untuk membangun energi terbarukan telah turun drastis.

“Solar siap untuk berdiri sendiri. Tidak membutuhkan kredit pajak atau dukungan federal,” katanya.

sumber: detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s