Dimulainya ‘Perang’ Memperebutkan Pasokan Baterai Mobil Listrik

Sebuah purwarupa mobil listrik mengisi daya di bawah panel surya di dekat kantor pusat Contemporary Amperex Technology Co. (CATL) di Ningde, Fujian, China, Rabu (3/6/2020). - Bloomberg/Qilai Shen

Bisnis.com, JAKARTA – Gencarnya produksi mobil listrik dan meningkatnya permintaan terhadap jenis kendaraan ini rupanya tidak diimbangi dengan ketersediaan baterai sebagai sumber dayanya.

Meski perusahaan-perusahaan yang memproduksi baterai Electric Vehicle (EV) di China, Jepang, dan Korea Selatan (Korsel) terus membangun pabrik baru, tetapi kecepatannya dikhawatirkan tidak bisa mengimbangi produksi mobil.

Padahal, banyak pembuat mobil listrik menjanjikan berbagai model EV baru, terutama untuk pasar AS, pada 2025. BNEF memproyeksi pada 2022 saja, lebih dari 500 model mobil listrik akan tersedia secara global.

“Ketersediaan baterai yang ada tidak mencukupi untuk memenuhi janji-janji pabrikan mobil listrik dalam jangka pendek. Banyak pabrik baterai yang sedang dibangun, tetapi masalahnya adalah suplai dalam jangka pendek. Banyak pabrikan mobil kewalahan saat ini,” papar Managing Director Cairn ERA Sam Jaffe seperti dilansir Bloomberg, Jumat (23/10/2020).

Cairn ERA adalah perusahaan konsultan energi di Colorado, AS.

Baterai mobil listrik mencakup 25 persen dari total ongkos produksi kendaraan listrik. Laporan UBS Securities yang dirilis pada awal pekan ini, menyebutkan enam pemasok utama mengontrol 87 persen pangsa pasar global pada tahun lalu.

Besarnya tekanan dapat terlihat dengan keputusan Audi, anak usaha Volkswagen AG, untuk menunda produksi seri e-Tron mereka pada Februari 2020 dan Jaguar Land Rover Automotive Plc pada bulan yang sama untuk memundurkan produksi I-Pace karena tersendatnya suplai baterai. Keduanya menggunakan baterai EV dari LG Chem Ltd. asal Korsel.

Selain LG Chem, produsen baterai EV besar lainnya adalah Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL) dan BYD. Kedua perusahaan ini berasal dari China.

Kondisi ini diperparah dengan adanya masalah logistik, penundaan produksi, dan kompetisi mendapatkan hak kekayaan intelektual.

Ford dan VW telah memperingatkan bahwa perselisihan antara LG Chem dengan SK Innovation Co., yang juga asal Negeri Ginseng, terkait rahasia dagang bisa memicu gangguan pasokan skala besar. Komisi Perdagangan Internasional AS dijadwalkan mengeluarkan putusan atas perkara ini pada 26 Oktober 2020.

Lantaran risikonya terlalu besar kalau hanya mengandalkan satu pemasok, maka banyak produsen mobil listrik bermitra dengan beberapa produsen baterai EV sekaligus.

“Pemasok baterai bisa sangat pemilih. Hanya ada beberapa pemasok yang bisa memenuhi permintaan kualitas dan volume. Pabrikan otomotif sekarang mau tak mau mengikuti kemauan para suplier baterai ini,” papar pendiri perusahaan konsultan Battery Lab, Nathalie Capati.

Capati sebelumnya adalah seorang insinyur baterai di General Motors Co. dan Apple Inc.

Adapun Kepala California Air Resources Board Mary Nichols menilai akan ada perang baru dalam mengamankan pasokan baterai EV. California Air Resources Board adalah lembaga pemerintah negara bagian California, AS yang mengurusi energi bersih.

Bulan lalu, California mengumumkan rencana melarang penggunaan mobil berbahan bakar bensin.

“Perang baru sudah dimulai. Ini adalah kompetisi untuk mendapatkan baterai dengan tenaga lebih besar dan harga lebih murah, dan ini adalah perlombaan yang diikuti pabrikan otomotif di seluruh dunia,” paparnya.

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s