BMKG Ungkap Masa-masa Kritis Perubahan Iklim Dunia

Menurut BMKG, kenaikan suhu setiap tahun ditambah dengan curah hujan ekstrem merupakan bukti masa kritis iklim.

Jakarta, CNN Indonesia — 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengatakan perubahan iklim saat ini berada dalam kondisi kritis. Kenaikan suhu setiap tahun ditambah curah hujan ekstrem merupakan bukti masa kritis iklim.

“Semua ini merupakan bukti bahwa kita berada dalam masa krisis iklim yang terjadi pada skala lokal hingga global, yang membutuhkan perhatian serius kita untuk memperlambat perubahan iklim dan mengurangi dampaknya,” ujar Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG, Siswanto kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/10).

BMKG mencatat tahun 2016 dan 2019 merupakan dua tahun terpanas dalam catatan di Indonesia. Siswanto mengatakan dalam periode itu, Organisasi Meteorologi Dunia menyatakan 2019 sebagai tahun terpanas ke-2 setelah 2016.

Periode 2015-2019 adalah periode lima tahun terpanas dalam sejarah Bumi dengan peningkatan suhu rata-rata sekitar 1,1° C.

“Tahun terpanas 2016 diyakini telah dipengaruhi oleh peristiwa El Nino 2015/2016 yang kuat di Samudra Pasifik Khatulistiwa,” kata Siswanto.

Sedangkan 2019 dapat dikaitkan dengan peristiwa Mode Dipole Samudra Hindia (fase positif) terkuat dalam 100 tahun terakhir. Akibatnya, Indonesia mengalami kekeringan yang signifikan pada tahun 2019, meskipun tidak sekering tahun 2015.

Laporan terkini, meskipun saat ini sedang berlangsung La Nina di Samudera Pasifik yang dapat sedikit mendinginkan suhu permukaan bumi, NOAA mencatat bahwa September lalu sebagai bulan terhangat sepanjang data yang ada.

“Hal ini membuat  2020 mungkin mencapai rekor baru tahun terpanas di Bumi. Rekor menghangatnya suhu di Eropa dan Asia mengalahkan dampak pendinginan La Niña yang sedang berkembang,” kata Siswanto.

Sementara itu, Siswanto mengungkap dalam skala regional, 2019 menjadi terpanas kedua di Indonesia setelah 2016. Suhu rata-rata permukaan Indonesia tahun 2019 adalah 0,84° C, di atas rata-rata iklim periode 1981-2010.

Suhu Jakarta meningkat 1,6° C dalam 100 tahun terakhir, lebih tinggi dari kenaikan suhu global Pada skala lokal, suhu di Jakarta meningkat seiring dengan pesatnya urbanisasi dan pemanasan global. 

Selama satu abad terakhir, ditemukan kenaikan sekitar 1,6° C per abad untuk suhu rata-rata tahunan Jakarta selama periode 1866-2012. Kenaikan suhu di Jakarta lebih tinggi dibandingkan kenaikan suhu rata-rata global sebesar 1,1° C.

“Suhu ini lebih tinggi dari kenaikan suhu rata-rata global 1,1° C selama periode 1880-2019 ,” kata Siswanto.

Lebih lanjut, Siswanto juga mengatakan suhu maksimum meningkat lebih kuat dari suhu rata-rata dan suhu minimum dengan tren 2,12° C per 100 tahun.

Peningkatan tren Suhu minimum yang lebih tinggi terlihat selama 50 tahun terakhir dengan laju 0,42° C per 10 tahun.

Ia mengatakan sejalan dengan perubahan suhu, perubahan curah hujan ekstrem yang menyebabkan banjir juga terlihat jelas. Catatan sejarah menunjukkan bahwa bencana banjir terjadi berkali-kali di wilayah Jabodetabek sejak masa penjajahan.

Banjir tahun 1918 merupakan salah satu bencana yang paling merusak di wilayah ini, di mana wilayah Jabodetabek tergenang selama satu bulan. Siswanto mengatakan curah hujan ekstrem semakin sering menyebabkan banjir setiap tahunnya.

“Tetapi banjir zaman dahulu tidak terjadi sesering di masa sekarang. Curah hujan ekstrem pemicu banjir juga tidak setinggi hujan ekstrem saat ini,” tutur Siswanto.

Seiring dengan pemanasan global dan perubahan iklim yang terjadi, banjir besar lebih sering terjadi di Jabodetabek, seperti yang terjadi pada 1979, 1996, 2002, 2007, 2008, 2013, 2015, dan yang terakhir pada tahun 2020.

Curah hujan kumulatif ekstrem dalam 1 dan 2 hari dapat dikaitkan dengan peristiwa banjir tersebut dan diatribusikan sebagai pemicu banjir.

Di sisi lain, Siswanto mengingatkan perlunya diperhatikan bahwa curah hujan tidak selalu menjadi satu-satunya faktor penyebab banjir yang parah.

“Banjir tahun 2020, misalnya, disebabkan oleh curah hujan ekstrem harian yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam semua catatan curah hujan harian di wilayah Jabodetabek,” tutur Siswanto.

Siswanto mengungkap perubahan lingkungan antropogenik yang disebabkan oleh aktivitas manusia telah direspon oleh alam dengan cuaca ekstrem yang berdampak luas pada kehidupan manusia.

Perubahan iklim adalah perubahan yang terjadi secara signifikan dari pola-pola cuaca (suhu di atmosfer dan di laut, curah hujan, pola angin, dan variabel lainnya) yang dihitung berdasarkan statistik dalam rentang waktu puluhan hingga ratusan tahun lamanya dalam cakupan regional maupun global.

sumber: cnnindonesia.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s