Konsistensi Jadi Kendala Kelola Sampah Keluarga

Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan jumlah timbunan sampah di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dengan 15 persen diantaranya merupakan sampah plastik yang sebagiannya belum dikelola dan terbuang ke perairan. ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan/wsj.

JAKARTA – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta menyebutkan, Jakarta Recycle Center (JRC) yang merupakan program pengelolaan sampah lingkup Rukun Warga (RW) masih mengalami kendala keaktifan warga.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Andono Warih menyebutkan, program JRC tersebut mengalami inkonsistensi dengan berbagai penyebab. Terutama, terkait sarana dan prasarana serta pendampingan.

“Program ini, dalam pelaksanaannya, terlihat partisipasi pemilahan sampah oleh warga mengalami fluktuasi keaktifan,” kata Andono di Jakarta, Jumat (16/10) seperti dikutip Antara.

Karena itu, dibutuhkan pendampingan intensif serta penyediaan sarana-prasarana yang menunjang pemilahan sampah.

DLH ingin berkolaborasi mengembangkan JRC dengan berbagai pemangku kepentingan. Bersama, kemudian mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam pengangkutan sampah terpilah dan terjadwal agar mempermudah daur ulang.

“Pemprov DKI Jakarta melihat adanya peluang kolaborasi antara lembaga pemerintah dan badan usaha swasta untuk membantu melakukan pendampingan pemilahan sampah kepada warga dari aspek sosial hingga aspek teknis,” ujar dia.

Sampai saat ini program JRC telah melibatkan sekitar 1.335 rumah tangga di lokasi pemukiman warga. Yakni, di Kompleks Bukit Mas, Ozone dan Taman Alfa Indah di Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Dalam program tersebut, setiap warga mendapatkan edukasi untuk melakukan pemilihan berdasarkan delapan kategori. Yaitu, sisa makanan, plastik, kertas, botol PET dan cup, logam, kaca, B3 dan residu.

“Petugas mengangkut sampah terpilah tersebut secara rutin sesuai jadwal yang sudah ditentukan,” kata Andono.

Program JRC ini diadaptasi dari Kota Osaki (Jepang) dan merupakan salah satu wujud implementasi dari Peraturan Gubernur (Pergub) Provinsi DKI Jakarta Nomor 77 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga (RW).

Memilah sampah memang harus disesuaikan dengan kebiasaan sehari-hari. Meski terkesan ribet, tapi setelah konsisten, pilah sampah ini justru akan memudahkan dan menyederhanakan hidup warga.

Sampah organik seperti sisa sayur buah, makanan dan tulang-tulang harus punya tempatnya sendiri. Jika sampah jenis yang mudah terurai ini digabung dengan sampah anorganik yang sulit terurai, maka jangan heran banyak masalah yang terjadi di rumah. Mulai dari bau tidak sedap, tikus dan kecoa, serta emosi karena petugas kebersihan tak kunjung datang angkut sampah.

Sampah organik itu adalah sumber makanan bagi makanan kita, maka mulailah dengan membuat kompos.

Mengutip zerowaste.id, kegiatan memilah dari rumah, akan memudahkan pekerjaan banyak orang. Seperti pemulung, pelapak, petugas kebersihan dan mereka yang terkait. Perlu diingat, recycle bukan jadi exit door dari pola konsumsi harian.

Hasil recycle akan dibuat produk lagi dan produk itu akan dipakai dan besar kemungkinan berakhir di TPA. Lebih baik kurangi sampah dengan cara mengurangi pola konsumsi agar tidak menciptakan timbunan sampah. (Leo Wisnu Susapto)

sumber: validnews.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s