Serba Hijau dan Bukan Fosil

Pembangkit listrik tenaga angin di China -  Bloomberg

“Adakah yang bisa kita lakukan agar dunia tetap menjadi tempat di mana burung bisa terbang dan menyanyi. Tempat kita bisa menghirup udara yang bersih. Tempat kita tidak takut tenggelam atau takut mengalami kekeringan yang membakar. Tempat kita bisa membangun keluarga yang berkecukupan.”

Benar. Apa yang harus dilakukan? Pertanyaan ‘lugu’ Thomas L. Friedman (2009) tersebut seharusnya sudah terjawab sejak lama supaya tidak selalu diulang. Persoalannya, bila tidak sering diulang akan berbahaya sekali bagi keselamatan bumi manusia.

Semua pertanyaan elementer ini bermuara pada energi yang bukan lagi berbasis pada fosil.

Dunia makin maju dalam hal penggunaan energi hijau. Energi ramah lingkungan. Energi terbarukan. Semua negara berpacu untuk berada di ‘jalur hijau’ guna mendukung semua aktivitas kehidupan warganya.

Mulai dari kendaraan, bahan bakar, teknologi manufaktur, dunia kesehatan bahkan hingga kegiatan pertambangan yang berada jauh di perut bumi.

Indonesia pun tengah bergerak ke arah sana, menuju barisan negara yang ramah pada lingkungan. Peduli pada kelestarian alam. Regulasi mengenai peta jalan dan pengembangan mobil listrik misalnya, merupakan bentuk komitmen negeri ini untuk membangun wajah dunia yang lebih segar dan berseri.

Tak heran mobil listrik, walau masih terbatas, mulai berseliweran di Tanah Air. Program bauran energi pun dipercepat. B30 dikebut hingga berkemampuan hingga B100.

Tentu saja jalan masih panjang dan berliku menuju ‘Indonesia Hijau’ yang kita cita-citakan. Namun kita tidak boleh mundur lagi dari posisi hari ini.

Karena bila kita bermain-main dan berlindung atas nama waktu, sejatinya kita melipatgandakan ancaman dan risiko yang kian sulit dibendung.

Kerusakan lingkungan, pemanasan global, cuaca ekstrim, bencana alam hingga berbagai anomali misterius lainnya sudah muncul sebagai dampak dari keterlambatan warga dunia dalam mengambil sikap.

Andai pun sudah bersikap, bisa jadi belum menyentuh persoalan mendasar. Benar apa yang disampaikan Friedman mengenai ancaman global ini dan apa dampaknya terhadap warga dunia.

Pasalnya, bumi menjadi panas, karena kemajuan teknologi telah mempercepat laju peningkatan emisi gas-gas rumah kaca ke atmosfer, sehingga menghambat pelepasan hawa panas dari bumi ke ruang angkasa.

Pun, menurut dia, bumi menjadi rata karena kemajuan teknologi komunikasi dan transportasi memungkinkan siapa pun, di mana pun, dapat saling berhubungan dan saling bersaing dalam segala hal dengan mudah. Alhasil, seolah bumi seperti berada di atas sebuah pinggang yang datar.

Belum cukup! Bumi juga semakin sesak karena penduduk yang makin banyak akibat keberhasilan menekan angka kematian, dan industrialisasi, bertumpuk di kawasan perkotaan dan sekitarnya tanpa upaya yang seimbang dalam pembenahan sarana dan prasarana.

Tentu saja kita prihatin! Pilihannya sudah jelas: Terlena atau mati! Kecepatan pengembangan inovasi teknologi pemanfaatan energi hijau akan sangat menentukan nasib manusia.

Ungkapan ‘apa yang baik bagi General Motors tidak selalu baik bagi Amerika’ mungkin juga terjadi di negara-negara lain ketika upaya atau gerakan baru untuk meninggalkan bahan bakar fosil terasa jalan di tempat.

Kita tidak ingin seperti ini. Dengan peta jalan pengembangan mobil listrik misalnya, langkah maju harus dibuat, terukur, dan terimplementasi.

Tak ada salahnya belajar dari Denmark. Setelah krisis minyak menimpa dunia pada 1973, pemerintah negara kecil di Eropa itu langsung mengambil sikap tegas dan berani.

“Kami mengambil keputusan bahwa kami harus meninggalkan ketergantungan pada minyak,” ujar Connie Hedegaard, Menteri Urusan Iklim dan Energi (2007—2009).

Keputusan dan keberanian macam ini yang ditunggu-tunggu. Perjalanan Denmark juga tidak mulus. Namun visi dan misi sudah dicanangkan. Semua pemangku kepentingan sepakat untuk mengatakan ‘selamat tinggal minyak bumi’.

Minyak bumi adalah politik panas. Mereka melakukan debat serius mengenai kemungkinan pemanfaatan energi nuklir sebelum akhirnya wacana itu ditutup, karena ditolak pada 1985.

Ujungnya, Denmark menempuh kebijakan efisiensi energi dan sekaligus mencari energi yang terbarukan. “Kami memutuskan menggunakan pajak. Jadi energi dibuat relatif mahal dan orang tergerak untuk berhemat dan berbuat apapun di rumah masing-masing supaya lebih efisien,” kata Connie.

Dan ini pernyataannya yang juga relevan dengan dinamika di Indonesia. “Itu hasil sebuah tekad politik.”

Karena itu kita juga berhak mengetahui bagaimana perkembangan dunia energi terbarukan di Tanah Air? Mau pilih opsi yang mana? Cara Denmark, cara China atau cara yang sesuai dengan karakter bangsa Indonesia?

Bahkan proses menuju energi hijau di Amerika Serikat pun lebih heboh dan panas. Bisa dikatakan, ganti presiden, ganti kebijakan.

Ada kejadian lucu. Saat berkuasa, Presiden Ronald Reagan membongkar panel-panel surya yang pernah dipasang oleh pendahulunya, Jimmy Carter, di atap Gedung Putih.

Panel-panel surya itu akhirnya diberikan kepada sebuah perguruan tinggi di Maine, yang belakangan menjualnya lewat lelang online kepada kolektor benda bersejarah.

Associated Press (28 Oktober 2004), mengisahkan lelang tersebut: “Ketiga puluh dua panel ini pernah dipasang di rumah kediaman resmi presiden selama masa negeri ini mengalami dampak embargo minyak Arab. Tapi dibongkar selama masa kepresidenan Ronald Reagan pada tahun 1986, sesudah krisis energi dan kecemasan tentang ketergantungan kepada minyak dari luar negeri mereda.”

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s