Kinerja Industri Daur Ulang Plastik ‘Tercemar’ Limbah Masker

Pemulung mengangkat sampah yang bisa didaur ulang di TPA Antang Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (5 Januari 2016).  -  Antara Yusran Uccang

Bisnis.com, JAKARTA — Pandemi Covid-19 memukul produksi industri daur ulang plastik pada tahun ini. Anjloknya harga minyak bumi, pengurangan konsumsi, dan penanganan limbah masker yang buruk diduga menjadi penyebab utamanya.

Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) menyatakan bahwa pengumpulan bahan baku selama pandemi turun lebih dari 50 persen pada periode yang sama tahun lalu. Alhasil, asosiasi meramalkan volume produksi pada 2020 akan anjlok setidaknya 50 persen dibandingkan dengan realisasi 2019.

“Banyak orang kerjanya dari rumah, jadi banyak yang tidak konsumsi apa-apa. Jadi, bahan baku berkurang banget. Impor [bahan baku] juga susah, saat ini banyak persyaratan-persyaratan yang menyusahkan,” ujar Ketua Umum Adupi Christine Halim kepada Bisnis, Senin (12/10/2020).

Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) mendata industri daur ulang berkontribusi sekitar 1 juta ton per tahun dalam memasok bahan baku industri plastik. Dengan kata lain, industri daur ulang maksimal hanya mampu memasok sekitar 500.000 ton hingga akhir 2020.

Selain pengurangan konsumsi, Christine menyatakan banyaknya limbah masker di tempat pemrosesan akhir (TPA) juga berkontribusi berkurangnya pengumpulan bahan baku.

Pasalnya, ujar Christine, para pemulung juga enggan mendekati sampah yang dekat dengan masker karena takut tertular Covid-19.

Kementerian Perindustrian mendata ada 88 pabrikan yang memiliki izin edar masker bedah dan masker N95 dengan total kapasitas produksi sekitar 470 juta unit per bulan. Kemenperin meramalkan akan ada sekitar 137 juta unit yang akan dipasarkan di dalam negeri hingga akhir 2020.

Christine mengatakan bahwa pihaknya belum menemukan mesin atau proses produksi yang dapat mendaur ulang masker medis di dalam negeri.

“Semua orang tidak siap dengan adanya pandemi ini. Jadi, banyak sampah masker yang menumpuk sejak awal pandemi di mana-mana dan orang buangnya dicampur dengan sampah-sampah lain,” ucapnya.

Christine menyampaikan masalah limbah masker medis tersebut turut berkontribusi membuat sebagian besar pengepul sampah plastik gulung tikar. Sementara itu, sekitar 30 persen—40 persen pabrikan daur ulang plastik menghentikan produksinya per September 2020.

Christine menyatakan pihaknya telah mencoba menyurati Kemenperin mengenai masalah tersebut. “Sudah mencoba [memulai] diskusi, tapi masih tidak ada respons.”

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s