Ketika Atap Pabrik Dipasangi Panel Surya, Emisi Karbon Pasti Berkurang

Indonesia Power (IP) meresmikan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Kompleks Perkantoran Bali Power Generation Unit dengan total daya 226 kWp pada Senin (24/2). -  Bisnis / Yanita Patriella

Bisnis.com, JAKARTA — Sebagai negara tropis, pemanfaatan energi surya bisa menjadi salah satu energi alternatif untuk yang bisa digunakan masyarakat bahkan hingga ke industri.

Sejalan dengan program Gerakan Nasional Satu Juta Surya Atap, pemanfaatan panel surya Indonesia tengah didorong guna mengurangi emisi karbon dari penggunaan energi konvensional.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, per Semester I/2020, sudah sebanyak 2.346 pelanggan PLN atap telah memasang pembangkit listring tenaga surya (PLTS) atap dengan total kapasitas terpasang sebesar 11,5 megawatt.

Namun, dewasa ini tren penggunaan PLTS atap untuk kebutuhan energi listrik sehari-hari tidak hanya dilakukan untuk sektor perumahan. Bahkan, PLTS atap sudah merambah ke sektor industri.

Baru-baru ini, PT Coca-Cola Amatil Indonesia meresmikan pemasangan atap panel surya di fasilitas pabrik yang berada di Cikarang Barat, Bekasi.

Presiden Direktur Coca-Cola Amatil Indonesia Kadir Gunduz menjelaskan bahwa atap panel surya yang dipasang tersebut merupakan yang terbesar pertama di region Asean, terbesar kedua di Asia Pasifik, dan terbesar keempat di dunia yang pernah dipasang di fasilitas pabrik produksi.

Adapun, atap panel surya itu terpasang di pabrik seluas 72.000 meter persegi dengan investasi Rp87 miliar.

Dia mengatakan bahwa langkah penggunaan atap panel surya dalam fasilitas pabriknya selain bertujuan untuk mengurangi jejak karbon dari proses produksi, atap panel surya juga menghasilkan listrik yang mampu menggantikan sekitar 13 persen dari kebutuhan listrik yang disuplai oleh PLN.

“Kami akan memperluas penggunaan atap panel surya di seluruh pabrik kami di Indonesia, terdekat adalah Medan, Semarang, dan juga Surabaya,” katanya.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengharapkan agar dengan proyek pelopor gagasan Coca-Cola nantinya diharapkan akan banyak pabrik lainnya yang menerapkan penggunanaan energi baru dan terbarukan dalam fasilitasnya.

“Pemerintah mendorong joint credit mechanism Indonesia-Jepang bekerja sama untuk mengurangi nilai karbon bisa juga didorong partisipasi oleh korporat dan juga banyak fasilitas yang diberikan pemerintah,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa yang juga memprakarsai Gerakan Nasional Satu Juta Surya Atap (GNSSA) mengatakan bahwa pada setahun terakhir pertumbuhan yang pesat PLTS atap justru ada di bangunan komersial dan industri.

Dia menilai PLTS atap masih memiliki potensi pasar yang cukup luas, tapi masih terkendala dengan biaya investasi yang harus dikucurkan di muka.

Menurutnya, untuk PLTS atap sebetulnya tidak diperlukan sebuah subsidi, tetapi yang diharapkan adalah adanya mekanisme pendanaan yang bisa dipinjam untuk menutup biaya investasi awal, dan pengembaliannya melalui cicilan tetap selama 3 tahun—5 tahun.

Fabby mengutarakan bahwa pihaknya merekomendasi pemerintah menyediakan dana yang dikucurkan di bank-bank BUMN dan swasta untuk skema pendanaan khusus PLTS atap untuk rumah tangga dan UMKM, dengan tingkat bunga serendah mungkin.

“Itulah mengapa kami usulkan pemerintah mendukung pendanaan dengan menyiapkan dana bergulir PLTS atap, kerja sama dengan Bank. Mirip dengan skema KUR [kredit usaha rakyat] tapi dengan tingkat bunga yang lebih rendah,” jelasnya.

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s