PLTS Ditargetkan Penuhi 14% Total Kapasitas Pembangkit Listrik

Petugas membersihkan permukaan panel surya (solar cell) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di persawahan Desa Krincing, Secang, Magelang, Jawa Tengah, Senin (24/8/2020). Pemerintah desa setempat membangun PLTS menggunakan Dana Desa untuk menghidupkan mesin pompa air guna mengairi persawahan karena petani di wilayah tersebut sering kesulitan air untuk pertanian terutama saat musim kemarau. ANTARAFOTO/Anis Efizudin

JAKARTA – Pembangkit Listrik Tenaga Surya atau PLTS ditargetkan menyediakan listrik hingga 6,4 GigaWatt (GW) atau berkontribusi 14% dari total kapasitas pembangkit listrik Indonesia sebesar 45 GW.

Asosiasi Energi Surya Indonesia atau AESI mencatat, pada tahun ketiga Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap atau GNSSA dibentuk, pemanfaat listrik dari tenaga surya baru tumbuh 6.900 kiloWatt. Pada tahun 2017 ketika GNSSA dibentuk, kapasitas PLTS atap yang terdaftar pada PLN baru sekitar 600 kW. Tahun ini, kapasitasnya menjadi 7500 kW.

“Sangat dibutuhkan kolaborasi yang lebih intensif dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, PT PLN Persero, investor, serta pelaku bisnis dan perseorangan,” ujar Ketua Umum AESI Andhika Prastawa dalam Konferensi Pers Gerakan Nasional Sejuta Surya Atap 2.0, Rabu (16/9).

Andhika menegaskan hal tersebut harus dilakukan agar tingkat pemanfaatan teknologi listrik surya dapat tumbuh seiring dengan ketetapan capaian bauran energi terbarukan dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN).

Sebagai informasi, GNSSA yang dideklarasikan oleh Kementerian ESDM bersama para penggiat energi surya, merupakan gerakan mendukung dan mempercepat pemanfaatan teknologi listrik surya. Untuk memenuhi target pengembangan energi terbarukan yang ditetapkan KEN sebesar 23% dari total bauran energi primer pada 2025.

Andhika menyebut, energi surya memiliki potensi paling besar dibandingkan Energi Baru & Terbarukan atau EBT lainnya, yaitu lebih dari 207,8 gigaWatt peak (GWp) tetapi kapasitas terpasang per tahun 2018 masih 90 megaWatt peak (MWp).

Selain lewat inisiatif seperti GNSSA, pemerintah pun memaksimalkan potensi energi surya dengan mendorong investasi di sektor EBT.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM Harris Yahya mengungkapkan, pemerintah tengah melakukan berbagai upaya untuk mendorong investasi EBT. Termasuk dalam lini energi surya, dengan cara penciptaan pasar, perbaikan tata kelola pengembangan EBT, pengadaan PLT EBT berskala masif dan memberikan insentif dan kemudahan investasi.

“Pemerintah juga melakukan perbaikan regulasi agar penetrasi pemanfaatan listrik surya menjadi lebih tinggi dan dapat menjangkau 70 juta pelanggan listrik nasional. Kami berharap makin banyak pelaku bisnis yang menggunakan PLTS atap untuk penyediaan listrik,” ujar Harris.

Perlu diketahui, tahun lalu, 14 pebisnis Indonesia menyatakan dukungannya pada GNSSA. Mereka, di antaranya PT Softex Indonesia, PT Evi Asia Tenggara (CoHive coworking space), Griya Idola Industrial Park (Barito Pacific Group), Grand Splash Waterpark, Global Sevilla School, PT IndahTex Utama, dan PT Hakiki Donarta.

Tahun ini, daftar perusahaan yang menggunakan PLTS atap ditambah PT Xurya Daya Indonesia (Xurya), startup energi terbarukan yang memiliki metode Rp0,- dalam pembiayaan PLTS.

Dalam memperingati tiga tahun terbentuknya GNSSA, Xurya memperkenalkan layanan purna jual perawatan PLTS Atap, agar PLTS yang sudah terpasang di fasilitas mereka tetap berjalan aman dan efisien.

Layanan purna jual ini dilakukan oleh Xurya secara berkala, meliputi inspeksi visual & mekanikal balance of system (BOS), inspeksi visual modul & array, hingga ke pembersihan modul PV.

Managing Director Xurya Eka Himawan mengatakan, tahun ini kapasitas terpasang PLTS Atap oleh Xurya mengalami kenaikan sembilan kali lipat dibanding tahun lalu.

“Kami selalu berkomitmen dalam mendukung GNSSA. Salah satunya dengan memberikan layanan purna jual perawatan panel surya secara gratis kepada pelanggan. Memastikan panel surya selalu dalam keadaan bersih dan tidak ada kerusakan,” papar Eka dalam kesempatan yang sama.

Sebagai pelaku usaha di sektor EBT, ia mengapresiasi upaya pemerintah dalam membuat sektor EBT terutama panel surya menjadi semakin menarik di mata investor.

Eka mengakui, untuk mencapai target bauran energi bukanlah hanya tanggung jawab pemerintah, tapi juga melibatkan semua pihak, termasuk pengusaha di bidang EBT.

“Kami akan terus mengajak lebih banyak lagi para pelaku bisnis dan industri untuk mulai mengadopsi PLTS Atap, untuk masa depan Indonesia yang lebih bersih,” ungkapnya.

Di sisi lain, PT Softex Indonesia sebagai produsen popok dan pembalut yang berpartisipasi mendukung GNSSA menginformasikan, saat ini sedang menyelesaikan proyek pembangunan PLTS Atap sebesar 630 kWp di pabriknya yang berlokasi di Sidoarjo, Jawa Timur.

Sustainability Project Leader PT Softex Indonesia Honey Liwe menyebutkan, penggunaan PLTS Atap ini juga merupakan bentuk implementasi Softex Indonesia dalam menjalankan bisnis yang berkelanjutan.

Ia mengatakan, Softex Indonesia telah menjalankan program efisiensi energi dan material sejak 2017. Menurutnya, program ini tidak hanya untuk menurunkan konsumsi energi, namun juga berdampak pada penurunan emisi gas rumah kaca dan biaya operasional.

“Kalau dikonversikan, melalui pemasangan PLTS Atap ini kami akan menghemat kurang lebih 887.922 kWh setiap tahunnya dan menekan produksi CO2 sebesar 829.319 kg selama satu tahun,” ujar Honey.

sumber: validnews.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s