Benarkah Pola Diet Vegan Bantu Kurangi Dampak Perubahan Iklim?

diet keto

Liputan6.com, Jakarta – Apa sih pola diet vegan? Sederhananya, orang yang menganut pola hidup tersebut tidak mengonsumsi daging, produk susu hewani, atau telur. Keberadaannya makin jadi perbincangan, terutama setelah sejumlah penyelenggaraan acara penghargaan berskala dunia, seperti Emmy Awards dan Oscar, memasukkan menu vegan dalam sesi makan malam.

Banyak pro kontra mengiringi veganisme. Sebagian yang menolak, menganggap pola hidup vegan membuat orang kekurangan sebagian nutrisi yang dibutuhkan tubuh. Tetapi, para pendukungnya meyakini vegan menjadi cara menjaga kesehatan sekaligus berkontribusi bagi keberlangsungan hidup makhluk hidup dan alam sekitar.

Dilansir dari laporan ilmiah Stanford University pada 2018, studi menunjukkan adanya dampak veganisme pada kehidupan bumi. Dunia vegan mengurangi 49 persen emisi gas rumah kaca dari industri makanan. Selain itu, diet vegan ini akan mengurangi 50 persen pengasaman tanah dan menggunakan air 19 persen lebih sedikit.

Irene Umar, Founder Loka Padang, sebuah restoran padang khusus vegan, mengungkapkan bahwa setiap porsi makanan yang dipilih manusia, akan menyumbang penghematan tertentu untuk lingkungan ketika mereka menyadarinya.

“Ketika seseorang menginginkan daging sapi misalnya, maka permintaan untuk daging sapi akan naik dan sapi-sapi itu membutuhkan lahan bersih untuk hidup. Akibatnya, tanaman berkurang dan tidak ada yang menyerap CO2, (semua) hanya karena manusia yang ingin makan daging sapi. Jadi semuanya tergantung dengan pilihan makanan manusia,” kata dia dalam diskusi virtual yang diselenggarakan Project Planet ID, Sabtu, 12 September 2020.

Shanti Allen, Co-Founder & Recipe Creator Alchemy Bali juga mengatakan hal serupa bahwa bumi adalah refleksi dari apa yang dikonsumsi manusia di dalamnya. Ia menyatakan bahwa tanpa sadar atau secara sadar, masyarakat tahu ada yang salah dengan sistem makanan yang terjadi, tetapi tidak tahu betapa mudahnya menjalankan hidup sehat jika dibiasakan.

“You are what you eat. Planet kita adalah apa yang kita makan, apakah kita ingin planet dengan beragam hutan hujan dengan segala jenis kehidupan hewan dan tanaman di dalamnya, atau kita menginginkan adanya tanaman genetik, hewan yang diberi antibiotik dan hormon non-alami?” katanya.

Selain itu, dia percaya bahwa makanan adalah sesuatu yang memberikan energi dan tidak seharusnya membuat tubuh lelah setelah memakannya. “Kita harusnya mendapat kekuatan dan kesembuhan dari apa yang kita makan. Saya percaya bahwa makanan bukan hanya tentang lemak, karbohidrat, dan protein, itu adalah sesuatu yang hidup,” imbuhnya.

Lakukan Perlahan

Meski demikian, Irene menyadari tidak mudah untuk mengubah pola hidup seseorang, dari pemakan daging hingga berhenti memakan daging. Tetapi, sambung dia, dengan setidaknya menambahkan makanan non-daging dalam konsumsi sehari-hari secara konsisten akan berkontribusi bagi bumi. 

“Anda tidak perlu secara langsung berubah menjadi seorang vegan, you don’t have to, tapi kalau mau melakukannnya akan sangat baik. Lakukan dengan perlahan tapi konsisten,” ujarnya.

Shanti juga mengingatkan agar mereka yang memulai pola hidup vegan, tidak menganggapnya sebagai sebuah pengorbanan atau penderitaan. “Tambahkan saja hal-hal baik dalam daftar menu Anda setiap hari. Tambahkan salad, smoothie, tidak perlu sekaligus menyingkirkan daging dari menu,” katanya.

Ia mengatakan akan lebih baik dimulai dengan mengganti beberapa stok makanan di rumah dengan bahan makanan yang lebih sehat dan sesuai dengan tujuan pola hidup sehat. “Jangan terlalu keras pada diri Anda. Ini bukan tentang menjadi yang paling sempurna, tetapi teruslah berkomitmen. Mulailah di mana Anda berada, gunakan apa yang Anda miliki, dan lakukan sebaik mungkin yang Anda bisa,” imbuhnya lagi.

“Saya harap semua orang dapat merasakan kesehatan dan kebahagiaan yang luar biasa dengan melakukan plant-based diet, karena saya (sendiri) merasa adanya perubahan hidup sehat setelah menjadi vegan,” ucap dia.

Dukungan bagi Penganut Vegan

Sebagai dukungan terhadap para penganut vegan, Irene mendirikan Loka Padang. Ia ingin mengampanyekan bahwa pola hidup vegan yang sehat dan ramah lingkungan bukan berarti tidak bisa menikmati makanan yang lezat dan digemari banyak orang.

“Kami tahu sulitnya menjadi seorang vegan, selau dipandang bukan anak yang keren, dan betapa sulitnya mempertahankan gaya hidup seperti ini. Inilah awal terbentuknya Loka Padang,” katanya.

Begitu juga yang dilakukan Max Mandias, Co-Founder dan Chief Innovation Officer Burgreens & Green Butchers. Lewat brand makanannya, ia mengkreasikan bahan-bahan nabati rendah kalori dan menyulapnya menyerupai daging.

“Pada dasarnya orang sangat menyukai daging, tetapi sifatnya membahayakan lingkungan. Maka kami fokus ke makanan dan bahan-bahan masak yang mirip dengan daging tetapi sebenarnya bersumber dari bahan nabati,” imbuhnya.

Mengombinasikan makanan berserat dalam menu setiap hari menjadi tips menarik untuk bisa dilakukan untuk mencapai tujuan hidup vegan. “Ketika waktunya datang, semua orang akan berubah, semua butuh proses. Kita perlu menyediakan lingkungan di mana kita bisa sukses dalam melakukan pola makan nabati,” tambah Max. (Brigitta Valencia Bellion)

sumber: liputan6.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s