Permintaan Gas Alam di Negara Berkembang Masih Besar, Batu Bara Ditinggalkan?

Kapal kargo Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair kelima bersandar di Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh Utara, Kamis (25/6). - Antara/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA – Walaupun gas alam mulai ditinggalkan oleh negara maju, permintaan dari negara berkembang diharapkan dapat menopang pemulihan harga energi substitusi batu bara tersebut di masa depan.

Permintaan gas alam dari negara berkembang diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Beberapa perusahaan gas pun terus mengembangkan eksplorasi dan infrastrukturnya untuk menangkap peluang di pasar negara berkemabng.

“Pertumbuhan LNG akan lebih kuat ketimbang sumber energi lainnya,” kata CEO Royal Dutch Shell Plc. Ben van Beurden, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (9/9/2020).

Analis Fitch Solution Daine Loh menunjukkan pergeseran di Vietnam yang lebih memilih gas dan energi terbarukan merupakan salah satu harapan dari pasar gas alam.

“Secara kasar ada proyek tenaga gas sebesar 26 gigawatts yang direncanakan untuk 2029. Itu cukup untuk menyerap 8 persen permintaan tenaga listrik di negara itu,” kata Loh.

Dari Afrika, Total SA di Mozambique juga telah menyelesaikan proyek pembangunan smelter LNG senilai US$16 miliar, atau proyek dengan penanaman modal asing (foreign direct investment) terbesar di Benua Afrika.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan gas alam dari Asia, Afrika, dan Timur Tengah masih akan meningkat dalam lima tahun ke depan. Di sisi lain, permintaan dari Eropa, Eurasia, dan Amerika Utara diperkirakan flat.

Adapun, pamor gas alam tampak tak jauh berbeda dari barang batu bara di negara maju karena muncul sumber energi yang lebih bersih dan murah seperti tenaga surya dan angin. Permintaan yang berkurang sementara pasokan melimpah membuat harga gas alam bertahan di level terendah dalam sedekade terakhir.

Head of Commodity Research di Legal & General Investment Management Ltd. Nick Stansbury mengatakan pembakaran dan kebocoran metana di gas alam telah merusak citra komoditas yang mengeluarkan emisi karbon dioksida lebih rendah daripada batu bara ini.

Investor pun kini menggeser alokasi dananya untuk proyek energi yang lebih sesuai dengan kesepakatan perubahan iklim Paris Agreement.

“Perusahaan gas tampak menyepelekan opini publik yang berubah sangat cepat. Lockdown virus corona juga memiliki peran besar dalam menyebabkan pergerseran itu,” kata Stansbury di London.

Berdasarkan data Fossil Free, kini terdapat lebih dari 1.200 institusi yang mengelola dana lebih dari US$14 triliun telah menarik diri dari proyek bahan bakar fosil. Jumlah tersebut naik dari 181 institusi yang mengelola dana lebih dari US$50 miliar lima tahun lalu.

Di Amerika Serikat, sebenarnya gas alam mendapat dukungan dari Presiden AS Donald Trump. Pendanaan untuk konstruksi pipa gas di Pesisir Atlantik senilai US$8 miliar telah disetujui. Tetapi, saat ini proyek pembangunan pipa gas senilai US$10 miliar bahkan telah dibatalkan karena alasan lingkungan dan prioritas anggaran.

Tak berbeda, di Eropa juga terjadi perdebatan sengit mengenai kelanjutan pembangunan jalur pipa gas alam dari Rusia ke Jerman oleh Nord Stream AG. Berbeda dengan di AS, perdebatan di Eropa lebih fokus pada tensi geopolitik alih-alih untuk menyelamatkan lingkungan.

Namun, pemerintah di Eropa terus mempertimbangkan untuk mengambil sumber energi berbeda pada era setelah pandemi yaitu energi yang lebih hijau.

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s