Bangunan Hijau dan Sehat Semakin Dibutuhkan

Green Building/ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN — Senior Manager IT & ERP PT Pembangunan Perumahan (Persero), Wawan Setiawan mengatakan, selama ini bangunan mengonsumsi sumber daya yang besar. Energi dunia dan air 35 persen, sampah 25 persen, dan emisi gas rumah kaca 40 persen.

Ia melihat, bangunan hijau jadi yang paling memenuhi syarat-syarat lantaran kinerjanya terukur signifikan menghemat energi, air dan lainnya. Dilakukan lewat prinsip sesuai fungsi dan klasifikasi tiap tahapan penyelenggaraannya.

“Inti green building yakni efisien energi, air, sampah, dan sumber lain. Jadi, tidak fokus hijau saja, perlu kerja sama arsitek dan kontraktor agar desain bangunan standar dan tidak banyak sampah dihasilkan,” kata Wawan, dalam webinar yang digelar Prodi Arsitektur Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Rabu (9/9).

Ada enam prinsip bangunan hijau Indonesia. Pengembangan situs yang sesuai, efisiensi energi dan konservasi, konservasi air, sumber daya dan siklus material, kualitas kesehatan dalam ruang, dan pengelolaan lingkungan.

Strategi capai bangunan hijau secara umum ada desain pasif dan desain aktif. Desain pasif lebih ke pemanfaatan kaidah-kaidah arsitektur mendapat desain optimal, terutama terkait panas yang diterima dan penggunaan material lokal.

Sedangkan, lanjut Wawan, desain aktif biasanya baru dilakukan kalau desain pasif tidak bisa diterapkan. Tapi, dibutuhkan pemanfaatan teknologi yang tinggi namun rendah energi seperti lampu LED, eskalator atau elevator. “Dua strategi ini memerlukan kerja sama yang baik antara arsitek dengan kontraktor,” ujarnya.

Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan untuk mencapai desain pasif. Orientasi bangunan, rasio jendela ke dinding, kinerja kaca atau koefisien perolehan panas matahari, perangkat peneduh, atau lewat sistem fasad ganda.

Sedangkan, alternatif mencapai desain aktif bisa lewat di sistem AC efisien, benar dan tidak terlalu besar. Lalu, dalam pemulihan panas, kontrol otomatis BAS atau BMS, serta sistem dan desain pencahayaan berperforma tinggi.

Untuk gangguan lingkungan, ada enam langkah yang disebut Wawan bisa ditekan. Gangguan lingkungan selama konstruksi, sampah konstruksi, penggunaan SDA, pemakaian energi selama kontruksi, pemakaian air, kesehatan, dan keselamatan.

Wawan mengungkapkan, PT PP sedang memersiapkan pula konsep bangunan sehat. Sebab, ia merasa, 90 persen manusia hidup dalam bangunan yang artinya jika bangunan tidak sehat, maka penghuninya itu sendiri juga tidak akan sehat.

“Dalam indeks bangunan yang menjadi tempat tertinggi penyebaran Covid-19 ada terminal, stasiun, mal, rumah sakit, dan sebagainya,” kata Wawan.

Ciri bangunan tidak sehat seperti banyak orang berkerumun, ventilasi kurang bagus, dan jarak tidak baik. Hal yang diangkat dalam bangunan sehat terkait kualitas dan aliran udara, monitor CO2, kebisingan, dan kenyamanan visual.

Ada pula kenyamanan termal, penahanan kimiawi, dampak penularan material dan jarak, perawatan peralatan HVAC, dan pilihan material dalam ruangan. Secara umum, bangunan sehat fokus ke bangunannya, dan bangunan hijau ke penghuninya.

“Keduanya miliki persamaan seperti akustik, pencahayaan, kualitas air, area merokok, parkir sepeda, dan kualitas udara dalam ruang. Bangunan hijau mulai bergeser jadi bangunan sehat, sehingga arsitek harus memersiapkan diri,” ujar dia.

sumber: republika.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s