Hewan Laut Migrasi Hindari Pemanasan Global, Spesies Ini Salah Arah

Sebuah perahu yang digunakan untuk mensurvei terumbu karang yang menjadi putih di Maldewa. Sekitar tiga dekade terumbu karang banyak yang mati karena sterss yang diakibatkan oleh pemanasan global. (The Ocean Agency/XL Catlin Seaview Survey via AP)

TEMPO.CO, Jakarta – Pemanasan global yang memicu perubahan iklim memaksa banyak satwa tak terkecuali spesies penghuni dasar laut mencari tempat baru agar bisa bertahan hidup. Mereka merespons menghangatnya air laut dengan bermigrasi mencari perairan yang lebih dingin.

Masalahnya, spesies dasar laut bukanlah perenang yang andal. Sebuah studi yang diterbitkan jurnal Nature Climate Change menemukan beberapa spesies di landas kontinen Atlantik Barat Laut seperti kerang, siput, bintang laut, dan cacing bahkan bermigrasi ke arah yang salah, yang justru mengancam keberlangsungan hidupnya.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa migrasi yang salah dipicu oleh peningkatan suhu yang berdampak ketika tiba musim bertelur. Peningkatan suhu itu menyebabkan spesies bertelur lebih awal. Telur yang menjadi larva akan terpapar pola angin dan arus laut yang membawa mereka ke arah daratan dan perairan yang lebih hangat–yang tidak mereka alami pada musim bertelur yang normal.

Akibatnya kesempatan mereka untuk hidup sangat kecil. “Hal itu akan meningkatkan kemungkinan mereka semakin langka dan berpotensi punah oleh perubahan iklim,” ujar ahli ekologi kelautan di University of California di Santa Barbara, AS, Steve Gaines, yang tidak terlibat dalam penelitian itu.

Anggota tim penelitinya, Heidi Fuchs dari Rutgers University, New Jersey, AS, mengatakan spesies-spesies tersebut cenderung melepaskan larva kecil ketika air menghangat pada suhu tertentu. Pelepasan larva tersebut biasanya terjadi di akhir musim semi atau awal musim panas di pertengahan Samudera Atlantik.

Tapi, selama beberapa dekade, suhu laut rata-rata di Samudera Atlantik telah meningkat sekitar 2 derajat Celsius, sehingga spesies bentik tersebut melepaskan larvanya lebih awal, sekitar satu bulan sebelum waktu normal.

Selain itu, para peneliti tersebut juga mempelajari data 60 tahun terakhir dari 50 spesies invertebrata yang tinggal di dasar laut yang sama. Mereka menemukan sekitar 80 persen telah menghilang dari George Bank dan lana kontinen terluar terluar antara Semenanjung Delmarva dan Cape Cod, termasuk di lepas pantai New Jersey.

“Sangat mengkhawatirkan bahwa begitu banyak spesies yang dulunya sangat berlimpah telah hilang di sana,” kata Fuchs. Beberapa spesies yang paling banyak mengalami penyusutan adalah sand dollar biasa serta kerang biru, dua spesies yang memiliki nilai ekonomis dan anggota kunci komunitas perairan pasang surut.

sumber: tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s