Ganti Istilah ‘Perubahan Iklim’ Menjadi ‘Krisis Iklim’

Ganti Istilah 'Perubahan Iklim' Menjadi 'Krisis Iklim'

BANYAK aktivis lingkungan saat ini membuang istilah ‘perubahan iklim’ menjadi ‘krisis iklim’. Selain itu menggunakan istilah ‘global warming’ dianggap tidak tepat.

The Guardian menulis bahwa Richard Betts, orang yang memimpin penelitian iklim Kantor Met, mengatakan bahwa ‘global heating’ adalah istilah yang lebih akurat daripada ‘global warming’ untuk menggambarkan perubahan yang terjadi pada iklim dunia.

Salah satu media terbesar yang aktif melaporkan isu-isu lingkungan, The Guardian menyadari urgensinya isu lingkungan. Mereka menggantikan kata ‘perubahan’ menjadi ‘krisis, emergensi’, atau ‘kerusakan’. Ini waktunya kita semua untuk melakukan hal yang sama, mengapa?

Melansir laman Grist, istilah perubahan iklim dan pemanasan global terlalu netral, terlalu usang, dan terlalu bagus untuk menggambarkan krisis yang dihadapi planet ini. Apalagi bila melihat tingkat karbondioksida di atmosfer telah meningkat menjadi 415 bagian per juta, lebih tinggi dari sebelumnya dalam sejarah manusia. Kita sudah mengalami konsekuensinya seperti badai dahsyat, kebakaran hutan yang berkobar, hujan lebat, dan naiknya permukaan air laut.

The Guardian melaporkan tahun lalu bahwa skala parahnya krisis iklim dan satwa liar telah diungkapkan oleh dua laporan penting dari para ilmuwan dunia.

Pada bulan Oktober 2019, mereka mengatakan emisi karbon harus berkurang setengahnya pada tahun 2030 untuk menghindari risiko kekeringan, banjir, panas yang ekstrim, dan kemiskinan yang lebih besar bagi ratusan juta orang. Pada bulan Mei 2019, para ilmuwan global mengatakan manusia berada dalam bahaya akibat percepatan pemusnahan satwa liar dan kerusakan ekosistem yang mendukung semua kehidupan di Bumi.

Menurut Grist, penggunaan bahasa yang jelas dan akurat dalam meliput topik-topik kritis seperti darurat iklim bukan hanya pilihan bagi jurnalis. “Itu adalah tugas mereka,” kata Luis Fernández, wakil presiden eksekutif jaringan berita Telemundo dalam Grist.

The Guardian juga sering menggunakan metafora untuk berbicara tentang krisis iklim dengan istilah perang. Seperti, “proposal pajak karbon adalah “pertempuran” yang harus diperjuangkan. Emisi gas rumah kaca harus “dipotong”. “Eco-warriors” dan “elang iklim” memimpin serangan.

The Conversation menulis bahwa metafora perang dapat memberi hasil yang positif. Mereka dapat mendorong politisi untuk segera menangani perubahan iklim, dengan cara yang sama dimana ancaman invasi mendorong tekad Inggris untuk memproduksi senjata secara massal dan menerapkannya dalam Perang Dunia II. (lev)

sumber: merahputih.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s