KKP Selidiki Penyebab Mamalia Laut Terdampar

Warga melihat kondisi paus pilot yang mati terdampar di pantai Cemara Binuangeun, Lebak, Banten, Selasa (12/5/2020). Menurut keterangan warga setempat paus pilot dengan panjang sekitar dua meter tersebut terseret ombak hingga akhirnya terdampar di bibir pantai dan mati sejak sejak Senin (11/5) dini hari

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ingin mengetahui penyebab kejadian mamalia laut terdampar. Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL), KKP, Aryo Hanggono, mengatakan hal ini penting untuk mengantisipasi agar peristiwa mamalia laut terdampar tidak terjadi lagi di kemudian hari di lokasi yang sama dengan penyebab yang sama.

“Keberadaan mamalia laut sangat penting bagi keseimbangan ekosistem laut,” ujar Aryo dalam siaran pers di Jakarta, Senin (7/9).

Menurut Aryo, mamalia laut merupakan salah satu komponen kunci dalam rantai makanan, bersama dengan predator utama lainnya. Jika populasi cetacea terganggu dapat menyebabkan terganggunya rantai makanan secara keseluruhan.

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut (KKHL) Andi Rusandi menilai kejadian terdamparnya mamalia laut dapat merepresentasikan kondisi perairan laut.

“Laut Indonesia menjadi rumahnya mamalia laut, tapi belakangan ini sering terjadi kejadian mamalia laut terdampar,” ujar Andi.

Andi menjelaskan, bangkai mamalia laut terdampar dapat membahayakan masyarakat di sekitar lokasi kejadian jika tidak segera ditangani. Mamalia laut dapat membusuk dengan cepat, bahkan bisa meledak karena perutnya yang berisi gas. Bahayanya, isi perutnya bisa membawa bakteri yang berbahaya bagi manusia.

Kepala LPSPL Sorong Santoso Budi Widiarto menyampaikan apresiasinya kepada teman-teman first responder yang terlibat aktif dalam penanganan mamalia laut terdampar.

“Kejadian mamalia laut merupakan kejadian yang sulit diprediksi baik waktu dan tempatnya. Akan tetapi kejadian mamalia laut terdampar ini memiliki kemungkinan yang sangat besar terjadi setiap tahunnya,” kata Santoso.

Santoso menambahkan, hingga saat ini, pertanyaan penyebab kejadian mamalia laut terdampar banyak yang belum terjawab akibat keterbatasan pengetahuan. Menurutnya, diperlukan perspektif dari dokter hewan dan peneliti oseanografi untuk memberikan pengetahuan tentang kejadian mamalia laut terdampar.

“Pada 2019, ada 39 kejadian biota terdampar di wilayah kerja kami, yang meliputi Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Hanya 48 persen yang dapat ditangani langsung, sehingga penting keterlibatan mitra dalam membantu penanganan kejadian mamalia laut terdampar di remote area,” ungkap Santoso.

Dokter Hewan WWF Indonesia Dwi Suprapti memaparkan setiap kejadian mamalia laut terdampar membawa pesan yang cukup banyak. Menurutnya kejadian mamalia laut terdampar mengindikasikan apa yang terjadi di lautan, seperti indikasi pencemaran laut, aktivitas yang tinggi di laut, atau indikasi terhadap kondisi alam, cuaca buruk, dan gempa.

“Peran dokter hewan adalah melakukan nekropsi (pembedahan) pada mamalia laut yang terdampar, namun tetap tidak bisa sendiri, butuh peran dari berbagai pihak dengan porsinya masing-masing untuk mengungkap kejadian terdampar,” ucap Dwi.

Dwi menyebut 11 penyebab kejadian mamalia laut terdampar, yaitu akibat terjebak di air surut, penyakit, predasi, kebisingan, aktivitas perikanan, tertabrak kapal, pencemaran laut, gempa dasar laut, cuaca ekstrim, blooming alga, dan badai matahari.

“Dari 304 kasus kejadian mamalia laut terdampar yang terjadi selama periode 2015-2019, lebih dari 80 persen tidak terjawab penyebabnya karena keterbatasan SDM, biaya, dan informasi yang diperoleh. Dari 20 persen yang terjawab, yang tertinggi karena bycatch, cuaca, tertabrak kapal, dan predator,” kata Dwi.

Dari perspektif oseanografi, Dosen Ilmu Teknologi Kelautan IPB Agus Atmadipoera menyampaikan Wilayah Indonesia Timur dengan topografi yang kompleks berperan dalam kejadian mamalia laut terdampar. Menurutnya, propagasi gelombang pasang surut internal berpotensi menghempaskan mamalia laut dari kedalaman termoklin ke dekat permukaan. Hal ini dapat menyebabkan dekompresi mamalia laut akibat perubahan yang mendadak.

“Ada kecenderungan peningkatan yang terdampar pada periode transisi dan musim timur. Hal tersebut didapatkan dari analisis data kejadian dengan pola meteo dan oseano,” kata Agus.

sumber: republika.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s