Menjaga Kebersihan Lingkungan Selama Pandemi

Menjaga Kebersihan Lingkungan Selama Pandemi

Covid-19, merupakan penyakit infeksi virus.  Penyakit ini umumnya menyerang saluran pernapasan, dapat menyebar dari manusia ke manusia dan menyebabkan risiko kesehatan masyarakat yang serius.

Infeksi virus Corona menjadi pandemi atau wabah di seluruh belahan dunia. Pada pandemi Covid-19 ini, terdapat kurva epidemiologi yang menggambarkan jumlah kasus baru dan waktu,  sejak kasus pertama kali ditemukan. Kurva tersebut memiliki tiga fase, yaitu fase awal, tengah, dan akhir. Pada fase awal, penyakit Covid-19 sudah mulai terjadi tetapi individu yang terinfeksi tidak mengetahui dan tetap melakukan kegiatan sehingga menular ke orang lain.

Pada fase tengah, terdapat adanya lonjakan yang cukup pesat dalam waktu singkat. Lonjakan kurva menggambarkan jumlah kasus baru yang banyak,  sehingga melebihi kapasitas fasilitas kesehatan. Hal ini terjadi karena individu yang terinfeksi virus Corona tidak melakukan isolasi diri,  sehingga penyebaran sangat cepat. Pada fase akhir, terjadi penurunan kurva yang dapat terjadi,  ketika semua orang sudah mengalami infeksi, vaksin telah ditemukan, atau seluruh pasien terinfeksi  meninggal.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh mayoritas masyarakat untuk memutus rantai penyebaran Covid-19. Seperti upaya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), menggunakan masker, physical distancing, mengkonsumsi rempah, vitamin, dan lain sebagainya.

Hal yang juga penting adalah menjaga kebersihan lingkungan. Kebersihan rumah atau tempat tinggal jadi wajib diperhatikan.

Perhatikan Kebersihan Pribadi

Agar semua itu bisa berjalan, pertama adalah dari disiplin pribadi. Setiap anggota keluarga wajib mencuci tangannya dengan sabun dan air mengalir beberapa kali dalam sehari. Ini untuk  membersihkan mikroba yang mungkin menempel di kulit.

Selain itu, hindari menyentuh mata, hidung, atau mulut dengan tangan yang belum dicuci. Kegiatan mencuci tangan harus dilakukan saat usai belanja, di fasilitas umum seperti ATM, ke supermarket atau pasar. Usai  bersin, batuk, atau membersit hidung. Setelah menggunakan kamar mandi atau toilet. Sebelum mempersiapkan makanan dan sebelum makan. Setelah merawat anggota keluarga yang sakit.

Tangan harus dibersihkan dengan sabun dan digosok secara menyeluruh selama 20 detik, sebelum dibilas dan dikeringkan dengan handuk bersih.  Bila tidak ada sabun cair gunakan  hand sanitizer dengan kadar alkohol minimal 60 persen.

Penggunaan Sekali Pakai

Ada beberapa produk kesehatan yang digunakan untuk sekali pakai, seperti sarung tangan dan masker kertas. Gunakan sarung tangan sekali pakai untuk melindungi kulit dari paparan mikroba dan zat kimia,  saat membersihkan rumah menggunakan disinfektan. Bila menggunakan sarung tangan yang bisa dipakai berulang, jangan gunakan sarung tangan itu untuk keperluan lain.

Hal yang seringkali dilupakan oleh masyarakat, yakni pengolahan tisu dan masker yang baik. Tisu, masker, dan dispossable cloth telah digunakan sebagai alat kesehatan untuk penanganan pasien Covid 19. Barang-barang ini merupakan limbah medis yang infeksius. Maka, dalam pengolahannya harus dipisahkan dan disimpan setidaknya selama 72 jam atau 3 hari. Baru dapat dibuang di tempat sampah.

Menanggapi hal tersebut, salah seorang Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR), dari Departemen Kesehatan Lingkungan (Kesling) Prof. Soedjajadi Keman, dr., MS., Ph.D., mengatakan bahwa cara tersebut tidaklah efektif. Seharusnya limbah medis untuk penanganan Covid-19 harus dilakukan desinfeksi terlebih dahulu sebelum akhirnya dibuang. “Limbah medis seperti masker,  kalau mau dibuang harus didesinfeksi dulu biar tidak menular pada yang ngangkut sampah atau orang disekitarnya,” ungkap Prof Soedjajadi ketika memberikan materi Pengolahan Limbah Medis Rumah Sakit di kuliah online pada  mahasiswa minat Kesehatan Lingkungan.

Untuk masker sekali pakai, setelah dilakukan proses desinfeksi bisa langsung dibuang di lingkungan karena sudah aman dari mikroorganisme. Kalau menggunakan masker bekas pakai, maka  dianjurkan masker bekas pakai tersebut  sebaiknya direndam selama sekitar 10 menit pada cairan desinfektan, seperti cairan klorin, karbol, lysol, detol, atau yang lainnya. Kemudian, bisa dicuci menggunakan sabun atau deterjen, dan dijemur. Setelah itu, masker bisa disetrika kemudian digunakan kembali.

Dijelaskan lagi oleh Prof Soedjajadi, lebih baik sampah melalui proses desinfeksi terlebih dahulu. Tidak disimpan lalu dibuang. Sebab sejatinya, virus dapat bertahan hidup pada benda,  atau permukaan selama beberapa hari. Sehingga, agar lebih efektif, masyarakat diimbau untuk mencuci masker bekas pakai setelah menggunakannya.

Ada lagi  satu barang yang masih sering diabaikan, yaitu penggunaan  tisu. Seringkali masyarakat setelah menggunakan tisu langsung dibuang, bahkan kadang di sembarang tempat. Hal tersebut ternyata harus dihindari. Virus dengan mudah bisa menempel pada tisu bekas penggunaan orang yang sedang sakit, baik ketika bersin, batuk, ataupun sekadar membersihkan ingus. Untuk tisu, bisa dilakukan desinfeksi terlebih dahulu. Namun jika tidak memungkinkan disinfeksi, tisu tersebut bisa dibakar. Dengan catatan, pembakaran tisu tidak boleh dicampur dengan sampah lain. Sebab dalam peraturan menteri kesehatan, tidak boleh menimbulkan asap tebal dalam pembakaran sampah.

“Untuk tisu jangan langsung dibuang, bisa dibakar. Namun, tidak boleh sampai menimbulkan asap tebal, karena itu juga bahaya untuk pernafasan,” ujar Prof Soedjajadi. Mengelola dengan baik tisu dan masker sebelum dibuang pada lingkungan dapat menjadi salah satu upaya  memutus rantai persebarannya virus Covid-19. Tak hanya Covid-19, namun juga virus atau bakteri lain.

Kebersihan Rumah

Sebelum lingkungan perumahan dibersihkan, maka sebaiknya membersihkan dulu kondisi lingkungan rumah. Berbagai barang di rumah seperti meja, kursi, pintu, jendela,   tombol lampu, kloset, remote TV, ponsel, dan barang-barang lain yang sering disentuh harus dibersihkan minimal dua kali sehari dengan disinfektan.

Kalau permukaan barang-barang itu sangat kotor, bersihkan terlebih dulu sebelum menggunakan disinfektan. Gunakan pembersih serbaguna, air hangat, dan kain mikrofiber untuk membersihkan permukaan. Microfiber memberikan abrasi yang lembut untuk mengangkat partikel yang kering. Bersihkan permukaan dengan menggunakan bahan kimia untuk membunuh kuman yang tersisa.

Mencuci karpet dan kursi dengan detergen dan cairan antiseptik. Melakukan vacuum cleaner setiap pagi dan sore. Lakukan penyemprotan di bagian yang dapat dicapai oleh tangan. Lalu jemur di bawah sinar matahari langsung, seperti pada siang hari. 

Harus sering menyapu seluruh lantai,  dan mengumpulkan kotoran dalam wadah plastik. Setelah itu, ikat dengan rapat. Buang  ke tempat sampah yang berada di luar rumah. 

Lantai harus di pel  dengan cairan antiseptik pembersihan lantai atau dengan cairan pemutih yang mengandung chlorin dengan takaran 50ml untuk 4 liter air.  Jika wadah untuk mengepel sudah mulai keruh, ganti dengan yang baru, dan bilas kembali kain pel yang digunakan. 

Di kamar-kamar, bersihkan dan rapihkan tempat tidur. Ganti sarung bantal dan seprai dengan cadangannya sesering mungkin. Cuci dengan menggunakan detergen.  Lakukan perendaman sekitar 5-10 menit dan dijemur langsung  di bawah sinar matahari.

Selain kasur di kamar-kamar yang ada, juga rapihkan pakaian-pakaian yang biasanya penggantung di dekat pintu. Kali ini jangan ada pakaian yang menggantung. Turunkan semua dan biasanyak keluarga untuk sering berganti pakaian.  Usahakan agar  selalu mengganti pakaian pada pagi dan sore hari. Bagi yang bekerja, sepulang kerja, berganti pakaian di luar rumah, di garasi atau pojok rumah. Siapkan pakaian pengganti di sana, jangan menumpuk pakaian terlalu lama dan harus segera dicuci dan gunakan cairan antiseptik pada bilasan terkahir. Jika di luar rumah, harus segera mandi. 

Bagian rumah lainnya yang juga harus sering dibersihkan adalah toilet. Pakai cairan antiseptic sesuai penggunaannya, seperti lantai, wastafel dan toilet, ada banyak merek cairan yang bisa dipilih.

Kebersihan berikutnya adalah bagian dapur.  Pisahkan makanan yang sudah tak dimakan dalam plastik dan langsung buang ke tempat sampah. Usahakan, jangan ada kontak tangan dengan tempat sampah. Cuci semua peralatan masak dan makanan dengan sabun cuci piring berkadar pH agar asam, seperti aroma  lemon dan jeruk nipis. Bilas kembali dengan air bersih. Gunakan air hangat untuk perendaman selama 15 menit. 

Sirkulasi udara di ruangan  juga harus diperhatikan. Setiap pagi  buka jendela agar sinar matahari masuk dan terjadi sirkulasi udara. Bersihkan tirai jendela dengan detergen selama dua kali dalam sepekan. Bersihkan kusen jendela dan teralis dengan cairan detergen. Mengganti kasa penutup lubang dengan yang baru. ars

sumber: koranjakarta.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s