Memonitor Penumpukan dan Pergerakan Sampah di Sungai dari Langit

Memonitor Penumpukan dan Pergerakan Sampah di Sungai dari Langit

Sampah plastik menjadi salah satu isu lingkungan yang paling populer dan banyak dibicarakan saat ini, tapi tetap saja, masalahnya masih pelik. Data yang dihimpun Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), menunjukkan bahwa sampah plastik di Indonesia pada 2019 mencapai 62 juta ton, dimana 3,2 juta ton dibuang ke laut.
M Saleh Nugrahadi, Asisten Deputi Pengelolaan DAS dan Konservasi Sumber Daya Alam mengatakan, ada sejumlah tantangan utama yang membuat pengelolaan sampah di Indonesia tak kunjung membaik. Pertama adalah persoalan keterbatasan pembiayaan, dimana alokasi anggaran pengelolaan sampah tiap daerah masih sangat minim. Rata-rata, anggaran pengelolaan sampah hanya dialokasikan 2,6 persen dari APBD, padahal idealnya minimal 5 persen.
Selain itu, dalam pengelolaan sampah juga tidak ada mekanisme balik modal yang berkelanjutan. Akibatnya, investasi pengelolaan sampah menjadi sangat minim, padahal kebutuhan pelayanan kebersihan terus meningkat.
Di wilayah kepulauan, pengelolaan sampah menjadi semakin kompleks. Sayangnya, daya pemilahan, pengumpulan, serta pengangkutan sampah masih rendah sehingga berpotensi terhadap kebocoran sampah plastik di lingkungan. Aktivitas pariwisata juga ikut berkontribusi dalam menghasilkan sampah plastik.
“Ditambah dengan belum tersedianya TPS 3R atau TPST, dan industri daur ulang. Sampah harus dibawa keluar pulau, sehingga memerlukan biaya operasional tambahan,” ujar Saleh Nugrahadi dalam seminar daring yang diadakan oleh LAPAN pekan kemarin.
Di negara-negara maju, menurutnya teknologi pengelolaan sampah merupakan yang utama diterapkan. Setelah itu, baru dilakukan pengumpulan sampah yang terstruktur. Terakhir, bagaimana meningkatkan daur ulang sampah untuk meningkatkan perekonomian.
Pemerintah,kata Saleh, telah melakukan sejumlah upaya untuk mengatasi permasalahan sampah yang ada. Salah satu yang jadi andalan adalah percepatan pembangunan Refuse Derived Fuel (RDF). Teknologi ini menurutnya cukup berpotensi mengatasi permasalahan sampah di Indonesia karena mampu mengatasi permasalahan sampah hingga 25 persen.
“Dan ini juga bisa menjadi sumber energi baru misalnya di PLTU dan pabrik semen,” lanjutnya.
Teknologi ini menurutnya sudah diujicobakan di Cilacap, Jawa Tengah. Rencananya, teknologi ini akan dikembangkan di 10 lokasi lainnya menggunakan pola kemitraan sebagai proyek padat karya.
Penerapan Teknologi Penginderaan Jauh
Penginderaan jauh atau inderaja menurut Saleh Nugrahadi merupakan salah satu teknologi yang penting untuk diterapkan dalam pengelolaan sampah. Secara spasial-temporal, inderaja dimanfaatkan untuk melihat pergerakan sampah plastik di laut dengan mempertimbangkan debit sungai, aktivitas di laut, akumulasi di pantai, serta hotspot di laut.
Monitoring sampah secara langsung bukan pekerjaan mudah, dan perlu infrastruktur, waktu, serta biaya yang besar. Karena itu menurut Saleh, inderaja yakni memonitor pergerakan sampah dari langit, diperlukan sebagai alternatif dalam melakukan monitoring sampah laut.
“Tantangan dalam inderaja ini kita harus mengetahui bagaimana karakteristik sampah tersebut, dan apakah ada spektrum indera yang sesuai agar data ini bisa kita peroleh,” ujar Saleh.
Kementerian KKP bersama Bank Dunia sebenarnya telah melakukan kerja sama untuk melakukan monitoring sampah laut di Indonesia. Kerja sama itu dalam bentuk pemasangan mesin tracker sampah di sejumlah sungai seperti Cisadane, Musi, dan Bengawan Solo yang masing-masing dipasang 5 mesin tracker.
“Data ini nanti bisa berkolaborasi dengan pemodelan dan juga inderaja,” lanjutnya.
Dari alat ini, ditemukan bahwa pergerakan sampah laut dari sungai-sungai tersebut telah menyusuri Laut Jawa. Dari sana ada yang keluar melalui Selat Lombok menuju Samudera Hindia. Temuan awal saat ini, 65 persen sampah plastik dari sungai terdampar di pantai mengikuti arus, sayangnya akumulasi hotspot sampah plastik di laut belum berhasil diidentifikasi.
Data seperti ini menurutnya dibutuhkan untuk menentukan strategi bagaimana mengatasi sampah-sampah yang ada di laut supaya tidak mencemari lautan lepas.
“Salah satunya adalah dengan menempatkan kapal-kapal penjaring sampah laut,” ujarnya.
Saat ini, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan sampah laut adalah lemahnya sistem monitoring yang ada. Indonesia sampai sekarang belum punya sistem monitoring yang terpadu dan sistem monitoring reguler.
“Selain itu juga memang metodologi monitoring sampah ini sangat membutuhkan teknologi dan juga standarisasi agar bisa kita pakai,” ujar Saleh.
Masalah Multidimensi Berskala Global
Penanganan sampah laut merupakan isu global, tidak terhenti pada suatu wilayah dan akan terus berkembang. Sampah plastik menurut Saleh Nugrahadi juga merupakan isu multidimensi, sehingga penanganannya harus melibatkan berbagai stakeholder mulai dari pemerintah, peneliti dan akademisi, serta sektor swasta.
“Kemitraan antarpihak ini sangat dibutuhkan untuk mendukung target pengurangan sampah plastik tersebut,” ujar Saleh.
Dalam penanganan masalah sampah plastik, dibutuhkan kebijakan-kebijakan yang berbasis pada sains dan ilmu pengetahuan. Sehingga bisa ditemukan inovasi dan teknologi yang yang efektif untuk menangani masalah sampah plastik tersebut.
Yang masih menjadi PR utama saat ini adalah sistem monitoring terhadap sampah plastik di lapangan. Pasalnya sampai sekarang belum ada platform atau sensor tunggal yang bisa memonitor sampah laut tersebut.
“Selain itu juga, kita harus memadukannya dengan pemodelan distribusi sampah tersebut agar diperoleh verifikasi dan kalibrasi yang tepat untuk monitoring itu,” ujar Saleh Nugrahadi. (Widi Erha Pradana / YK-1)
sumber:kumparan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s