Mobil Listrik, Strategi Penggunaan Tenaga Listrik di Masa Depan

Salah satu model mobil listrik yang diproduksi sebuah produsen mobil terkemuka Jepang dan siap menguasai ceruk pasar mobil listrik di Indonesia. (Foto: Carsome.id)

INDUSTRY.co.id – Jakarta – Ketika menumpang sebuah taksi yang mengantarkannya dari rumah ke kantornya di kawasan Sudirman Central Business District pada pagi hari, Haryono sangat terkesan karena memperoleh pengalaman baru yang luar biasa. Betapa tidak, sebuah mobil listrik yang dioperasikan oleh sebuah perusahaan taksi memberikan kenyamanan tersendiri, baik bagi penumpangnya maupun pengemudinya, bahkan juga bagi lingkungan sekitarnya.

Kinerja mobil yang ditumpangi Haryono tersebut tidak berbeda samasekali dengan mobil konvensional yang berbahan bakar minyak. Kinerja yang dimaksud di sini adalah tenaga mesinnya untuk mendorong atau menarik mobil tersebut ketika memulai perjalanan hingga kecepatan maksimum yang ditempuh sebuah mobil di jalanan ibukota juga dapat tercapai dengan baik. Secara umum, memang dari segi kinerja mesinnya tidak jauh berbeda dengan yang bermesin konvensional.

Menumpang mobil listrik dikatakan nyaman karena bisa bebas polusi suara alias tidak berbunyi jika kita berada di dalam kabin mobil tersebut. Deru mesin yang biasanya terdengar dari mesin-mesin mobil konvensional, kini tidak lagi terdengar. Selain suspensinya yang empuk, penumpang di dalam kabin mobil juga dapat menikmati kesunyian yang sebenarnya dari suara hiruk pikuk jalan raya yang ramai. Di samping itu, mobil tersebut tidak lagi menghasilkan limbah asap yang mencemari udara Jakarta. Ini adalah poin yang sangat penting dan memiliki porsi tersendiri bagi keberadaan mobil listrik di Jakarta, bahkan dapat diharapkan menjadi moda transportasi pilihan masa depan.

Boleh dibilang sejak mulai dioperasikan pada akhir April 2019 lalu hingga kini, pengoperasian taksi listrik tersebut memberikan pengaruh yang cukup signifikan. Terutama kepedulian operator taksi tersebut terhadap kenyamanan penumpang serta kepedulian terhadap kelestarian lingkungan hidup yang lebih nyaman. Pasalnya, operator taksi tersebut mulai berupaya untuk mengurangi polusi udara yang disebabkan oleh emisi gas buang kendaraan bermotor.

Untuk 2020 ini, pengoperasian mobil listrik seperti ini diperkirakan menjadi sebuah hal yang fenomenal bagi masyarakat Jakarta. Pasalnya, operator taksi tersebut berencana akan mengoperasikan hingga 200 unit taksi listrik hingga akhir 2020. Tapi entahlah karena ada pandemik Covid-19, apakah rencana itu bakal terealisasi hingga akhir tahun ini. Tapi yang terlihat hingga kini, pengoperasian dan keberadaan mobil listrik ini tidak terlepas dari rencana Presiden Joko Widodo yang bercita-cita ingin mewujudkan penyediaan listrik dari Sabang sampai Merauke hingga mencapai 35.000 megawatt (MW).

Akan tetapi hingga kini, masih banyak pihak-pihak yang pro dan kontra dengan mobil listrik ini. Memang Indonesia sebagai negara berdemokrasi memandang suatu hal yang wajar jika ada perbedaan pendapat terhadap sesuatu yang baru. Pasalnya, pihak-pihak yang saling berbeda pendapat nantinya dapat bermusyawarah untuk mencapai mufakat agar seluruh aspirasi yang dikemukakan oleh pihak-pihak tersebut dapat ditampung bahkan diaktualisasikan ke dalam sebuah tata laksana yang terpadu dan terukur serta berguna bagi kemaslahatan umat manusia.

Sebenarnya, silang pendapat pro dan kontra terhadap keberadaan mobil listrik, khususnya di Jakarta dan di Indonesia pada umumnya, janganlah sampai mengganggu kinerja pemerintah untuk mempersiapkan seluruh komponen yang ada untuk mendukung pelaksanaan kerja mobil listrik tersebut ke depan. Jika gangguan tersebut terus menerus berlangsung, maka hal tersebut dapat menghambat pemerintah di dalam menyediakan moda transportasi terbaik bagi masyarakat di masa depan.

Salah satu tugas pemerintah di dalam pelaksanaan operasional mobil listrik adalah membangun sentra-sentra pengisian baterai listrik mobil-mobil tersebut dengan memanfaatkan tenaga listrik. Otomatis, investasi yang bakal ditanamkan untuk pembangunan sentra-sentra tersebut tidak sedikit. Di samping itu, untuk membangun sentra pengisian baterai mobil listrik tersebut dibutuhkan pula teknologi yang mumpuni agar dapat memasok tenaga listrik ke mobil listrik tersebut secara berkesinambungan melalui berbagai baterai yang ada. Kita sebagai masyarakat awam percaya, pemerintah akan memiliki banyak opsi untuk meminta kepada para produsen mobil listrik yang memasarkan produk-produknya di Indonesia ini untuk membangun sentra-sentra pengisian baterai listrik tersebut.

Dari sektor bisnis, para pengusaha juga berharap agar dengan adanya pengoperasian mobil listrik ini, maka mereka berharap agar pasokan listrik khususnya di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek) ke depan dapat berjalan secara berkesinambungan dengan besaran tegagan yang cukup stabil. Otomatis, pengoperasian mobil listrik ini juga akan menguntungkan para pengusaha tersebut yang pabrik-pabriknya juga membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah yang cukup besar. Mereka yakin jika pemerintah menetapkan pengoperasian mobil listrik ini, maka pasokan listrik dengan tegangan yang cukup stabil akan terus berjalan secara berkesinambungan. Kondisi itu juga akan membuat tegangan di jaringan listrik pabrik-pabrik mereka juga menjadi lebih stabil.

Di samping itu, para pengusaha juga lama-kelamaan bakal mengganti kendaraan angkutan untuk kegiatan distribusi barang-barang mereka dengan kendaraan listrik. Mereka berharap dengan menggunakan kendaraan listrik tersebut, otomatis biaya usaha mereka juga akan menjadi lebih hemat sehingga lebih dapat memberikan kesempatan kepada mereka untuk membukukan laba dalam setiap transaksi usaha mereka.

Kendati demikian, jika nantinya mobil-mobil listrik tersebut pada akhirnya berlalu lalang di Indonesia, maka pemerintah juga harus bersiap-siap untuk menerapkan teknologi wireless charging (penyimpanan daya listrik melalui sistim nir kabel) bagi mobil-mobil tersebut. Pasalnya, berbagai akses tol ke depan akan semakin panjang terhampar di berbagai bagian kepulauan Indonesia sehingga pemerintah juga nantinya akan menghadapi masalah untuk menyediakan lahan guna pembangunan berbagai sentra-sentra pengisian baterai mobil-mobil listrik tersebut.

Akan tetapi, jika pada akhirnya pemerintah dapat menerapkan teknologi wireless charging tersebut, maka itu artinya pemerintah sudah dapat memperoleh solusi terbaik untuk terus mendukung pengoperasian mobil listrik ini di tanah air. Pasalnya, seluruh mobil listrik melalui teknologi ini dapat menyimpan daya listrik ke dalam baterai mereka ketika mereka sedang berjalan, bahkan berlari kencang melalui berbagai jaringan panel-panel penyimpanan daya listrik yang dibentangkan di berbagai ruas akses tol. Hal tersebut tentunya akan menjadi lebih praktis dan ekonomis mengingat panel-panel tersebut dapat dipasang secara tersusun rapi bersama jaringan listrik yang digunakan untuk berbagai kegunaan lainnya. Teknologi wireless charging ini bukanlah teknologi yang mengada-ada. Pasalnya, kini sudah ada sistim pengisian daya listrik bagi berbagai telepon seluler (ponsel) yang dilakukan secara wireless charging. Hingga kini, tidak ada keluhan dari konsumen terhadap sistim pengisian daya listrik seperti itu. Mudah-mudahan pemerintah dapat menerapkannya demi pengoperasian mobil listrik di Indonesia secara berkesinambungan ke depan. (Abraham Sihombing)

sumber: industry.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s