Kelapa Sawit: Bersahabat dengan Lingkungan!

Kelapa Sawit: Bersahabat dengan Lingkungan!

Kehadiran kelapa sawit sepertinya menjadi ancaman bagi pihak-pihak antisawit sehingga tidak heran jika komoditas strategis ini kerap kali dituding sebagai “pembuat onar” dan bernilai minus. Disenggol dari aspek lingkungan, kelapa sawit seringkali difitnah sebagai tanaman perusak lingkungan dan menghilangkan sumber daya hutan.

Namun faktanya, tidak demikian. Keunggulan dan potensi kelapa sawit justru banyak disembunyikan dan ditutupi dengan isu negatif yang beberapa tahun terakhir telah berkembang. Berdasarkan sejumlah studi, penggunaan lahan kelapa sawit di hutan produksi hanya mencapai 3 persen dari total perkebunan kelapa sawit yang ada.

Selebihnya, kelapa sawit ditanam di lahan terlantar seluas 43 persen dari total perkebunan kelapa sawit nasional, di lahan terdegradasi 27 persen, lahan pertanian 14 persen, dan lahan Hutan Tanaman Industri (HTI) 13 persen. Merujuk data Gapki, penggunaan lahan untuk kelapa sawit tersebut tidak sebanding dengan klaim bahwa sawit merupakan driver utama deforestasi atau mengubah lahan hutan menjadi bukan hutan.

Tidak hanya itu, kelapa sawit juga dituduh berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Faktanya, kontributor terbesar atas peningkatan emisi gas rumah kaca adalah konsumsi energi, sedangkan faktor pertanian hanya menyumbang 14 persen dari emisi gas rumah kaca.

Jika dibandingkan dengan 10 negara kontributor emisi CO2 di dunia seperti Tiongkok, Amerika Serikat, India, Rusia, Jepang, Jerman, Iran, Kanada, Korea Selatan, dan Inggris (di atas 500 juta ton/tahun tiap negara), Indonesia menghasilkan emisi CO2 terbilang sangat kecil yakni 2,7 persen.

Berdasarkan riset Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2011–2014, terungkap bahwa kelapa sawit menghasilkan 3,6 ton CO2 per hektare, tetapi mampu menyerap CO2 hingga 13,7 ton per hektare, terdapat selisih 10 ton per ha dalam penyerapan CO2. Fakta ini menjadikan kelapa sawit sebagai penyerap emisi (absorber emissions) CO2 yang baik, bukan penyebab emisi (emitter). Perlu diingat, sebagai tumbuhan yang juga melewati proses respirasi, kelapa sawit tentunya mengeluarkan gas karbondioksida (CO2).

Masih soal lingkungan, tuduhan lainnya yakni berkaitan dengan serapan air kelapa sawit yang sangat boros di sekitar ekosistem. Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Bambang, menyebut, kelapa sawit justru membantu penghijauan dari lahan-lahan bekas penebangan hutan dan logging di Indonesia.

Sementara itu, menurut Gapki, kehadiran kelapa sawit dengan akar-akarnya justru memicu percepatan penyerapan air hujan yang untuk kemudian diuapkan kembali. Dengan fakta-fakta singkat tersebut, diharapkan masyarakat Indonesia khususnya pihak antisawit menyadari betul bahwa kelapa sawit bukanlah perusak lingkungan seperti yang dituduhkan.

sumber: wartaekonomi.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s