Tantangan Pengembangan Energi Terbarukan di RI: Harga Mahal hingga Infrastruktur

Tantangan Pengembangan Energi Terbarukan di RI: Harga Mahal hingga Infrastruktur

Mengembangkan energi terbarukan di Indonesia bukan perkara gampang. Ada berbagai macam tantangan yang harus dihadapi oleh para pihak terkait dalam proses meningkatkan potensi energi tersebut.

Direktur Panas Bumi Kementerian ESDM, Ida Nuryatin mengungkapkan, salah satu tantangan yang saat ini dihadapi adalah soal harga yang belum bisa bersaing.
“Hampir semuanya dalam pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan ini kita punya tantangan yang misalnya harganya masih relatif lebih mahal dibandingkan dengan pembangkit listrik konvensional batu bara,” kata Ida dalam webinar yang diselenggarakan dan ditayangkan di Youtube Katadata, Jumat (28/8).
Ida mengatakan, PLT batu bara kapasitasnya memang besar dan belum bisa dibandingkan dengan energi terbarukan. Selain itu, kata Ida, dalam proses mengembangkan energi terbarukan juga tidak bisa langsung memiliki kapasitas seperti PLT batu bara.
Ida membeberkan tantangan yang juga sedang dihadapi dalam peningkatan energi terbarukan adalah terkait keterbatasan jaringan transmisi dan distribusi di lokasi pengembangan.

“Jadi hampir semua sumber daya energi terbarukan itu adanya jauh dari sana-sini. Sehingga pada saat ngembangin energi terbarukan biasanya jaringan transmisi dan distribusi ini juga belum tersedia. Sehingga dua-duanya harus dibangun barengan,” ujar Ida.

“Pembangkit listrik energi terbarukan yang kapasitas bagus seperti hidro, minihidro, maupun panas bumi umumnya juga terletak di daerah konservasi, jauh dari mana-mana. Kemudian pasti ada tantangan di dalam geografis,” tambahnya.
Sementara itu untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya dan Bayu juga masih harus mempertimbangkan kesiapan sistem. Sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa dan Biogas tantangannya juga memerlukan jaminan suplai bahan baku selama masa beroperasi.
“Kemudian isu ketersediaan dan akuisisi lahan. Misalnya kalau sudah tahu ada proyek yang dibangun energi terbarukan dibangun, biasanya di daerah harga tiba-tiba naik dan ini menjadi tantangan tersendiri dalam pengembangan,” terang Ida.

Ida menuturkan, tantangan lain yang dihadapi saat ini tentunya adalah pandemi COVID-19. Ia mengatakan adanya virus tersebut membuat kegiatan seperti logistik sempat terganggu karena pembatasan yang harus dilakukan.
“Kan kita sempat ada PSBB di semester pertama, misalnya gangguan rantai suplai terganggu, dari sisi logistik, kemudian mengangkut peralatan, juga pertukaran crew orang juga berpengaruh di awal-awal. Sehingga memang beberapa proyek mengalami delay,” tutur Ida.

sumber: kumparan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s