Isu Lingkungan dalam Pengembangan Baterai Kendaraan Listrik Masih Dibahas

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika. Istimewa - Kemenperin

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Perindustrian dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan masih membahas pengembangan baterai kendaraan listrik.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah kemungkinan daur ulang baterai lithium ion bekas menjadi bahan baku untuk memproduksi baterai baru.

Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan (IMATAP) Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan terus menjalin koordinasi dengan sejumlah pemangku kepentingan. Menurutnya, dari berbagai kajian, baterai lithium ion dapat didaur ulang dan hasilnya 100 persen tidak ada yang terbuang, sehingga tidak menghasilkan limbah B3.

“Hal ini tentu sangat penting untuk menyokong produksi bahan baku baterai yang ada di berbagai wilayah seperti di Morowali, dan untuk itu kami terus berkoordinasi dengan KLHK terkait upaya daur ulang baterai lithium ion yang aman bagi lingkungan,” tuturnya dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2020).

Dalam pengembangan teknologi baterai kendaraan listrik, lanjut Putu, aspek ekonomi dan lingkungan harus dapat berjalan beriringan.

Dengan demikian, berbagai inovasi teknologi dapat berdampak positif terhadap industri dan masyarakat tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan hidup.

“Pada prinsipnya kemajuan teknologi di sektor otomotif melalui pengembangan baterai kendaraan listrik tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan sehingga dampaknya dapat dirasakan baik itu untu memajukan sektor ekonomi dan industri sekaligus tetap menjaga kelestarian alam,” tambahnya.

Saat ini, pemerintah berharap tumbuhnya investasi di sektor industri kendaraan listrik, baik dari sisi hulu maupun hilir.

Dari sisi hulu, Indonesia memiliki ketersediaan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan guna menciptakan kemandirian dalam pengembangan baterai kendaraan listrik.

Menurutnya, untuk memproduksi baterai kendaraan listrik, dibutuhkan bahan baku yang jumlahnya mencukupi di Indonesia, seperti nikel dan kobalt.
Untuk sektor refinery bahan baku baterai kendaraan listrik, Putu mengemukakan, Kemenperin telah menerima berbagai komitmen investasi.

Misalnya saja di Morowali, Sulawesi Tengah misalnya, PT QMB New Energy Minerals telah berinvestasi sebesar US$700 juta. Selain itu, PT Halmahera Persada Lygend juga telah berkomitmen menggelontorkan dananya sebesar Rp14,8 triliun di Halmahera, Maluku Utara.

Selanjutnya, untuk produksi baterai cell lithium ion, terdapat investasi sebesar Rp207,5 miliar yang dikucurkan oleh PT International Chemical Industry. Perusahaan ini akan memproduksi sebanyak 25 juta buah baterai cell lithium ion yang setara dengan 256 MWh per tahun.

“PT International Chemical Industry akan mulai masuk tahap pra-produksi komersial pada akhir tahun 2020 dan mulai masuk tahap produksi komersial di tahun 2021,” jelas Putu.

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s