Sampah Elektronik Tak Bisa Didaur Ulang Ancam Dunia

 

New Delhi –  Seberang sungai Red Fort, New Delhi, India, warga di permukiman padat Seelampur hidup di antara tumpukan limbah buangan konsumen modern dunia. Sampah-sampah itu adalah barang elektronik dan komponen elektrik yang rusak dan usang.

Seelampur menjadi rumah terbesar bagi pasar sampah elektronik dunia. Persoalan di wilayah itu menjadi contoh dan sorotan khusus dalam laporan PBB yang dirilis, pekan lalu.

Dalam laporan tentang Pantauan E-Sampah Global 2020 ditemukan, dunia membuang sampah sebanyak 53,6 juta ton tahun lalu. Dari jumlah itu, hanya 17,4 persen yang bisa didaur ulang.

“Bahkan, negara-negara yang memiliki sistem manajemen pembuangan limbah elektronik pun menghadapi persoalan tempat penumpukan dan kemampuan daur ulang yang masih rendah,” demikian laporan itu.

Tiongkok, dengan 10,1 juta ton, merupakan negara terbesar yang menghasilkan e-limbah. Posisi kedua, AS dengan 6,9 juta ton, lalu India di tempat ketiga yang menyumbang 3,2 juta ton. Tahun lalu, tiga negara ini memasok sekitar 38 persen e-limbah dunia.

Walaupun dampak keseluruhan terhadap lingkungan dari sampah elektronik yang tidak bisa didaur ulang itu sulit dikalkulasi, namun pesan yang ingin disimpulkan dalam laporan itu: “Cara kita memproduksi, mengkonsumsi, dan membuang e-limbah tak bisa dipertahankan.”

Pemanasan global hanya satu isu yang dikaji dalam laporan itu terkait adanya 98 juta ton karbondioksida yang dilepas ke atmosfir sebagai hasil buangan produk lemari es dan AC “tak berdokumen”.

Di sisi lain, lockdown akibat pandemi Covid-19 tahun ini, makin memperburuk persoalan limbah elektronik. Banyak orang tertahan di rumah, begitu juga pekerja pendaur ulang sampah. Hanya segelintir yang bisa bekerja. Demikian disampaikan Kees Balde, Kepala Program Senior di Universitas PBB, yang menjadi kontributor laporan itu kepada Reuters.

Konsumen Baru
Apa yang terjadi di India dan Tiongkok merupakan gejala dari masalah yang lebih besar di negara-negara berkembang, di mana permintaan barang seperti mesin cuci, kulkas, dan pendingin ruangan (AC) meningkat pesat.

“Di negara-negara berpenghasilan menengah dan rendah, infrastruktur pengelolaan limbah elektronik belum sepenuhnya berkembang. Bahkan, dalam beberapa kasus, sama sekali tidak ada,” kata laporan itu.

Dinesh Raj Bandela, Wakil Manajer Program Pusat Ilmu Pengetahuan dan Lingkungan, sebuah badan advokasi dan riset di New Delhi mengatakan, fokus India terhadap e-sampah semestinya tak hanya soal mengumpulkan, dan pabrikan semestinya memproduksi barang-barang tahan lama dan minim kandungan toksin.

Meskipun India sebagai satu-satunya negara di Asia Selatan yang merancang peraturan e-sampah, persoalan mengepul sampahnya belum beres.

Buktinya, di Seelampur, masih terlihat labirin jalur kusam dipenuhi toko-toko barang bekas tempat ribuan orang bekerja. Para pekerja itu memisahkan apa pun yang bisa diselamatkan dari sampah-sampah elektronik yang dikumpulkan dari seluruh India bagian utara.

Di sisi luar tiap toko, tampak tumpukan layar monitor tua, desktop komputer, gagang telepon, telepon genggam, stabilisers tegangan listrik, AC, kulkas, microwave, penghisap debu, dan mesin cuci.

Gulungan kabel tua melintang dan menumpuk di sana-sini, menghiasi sampah elektronik yang menggunung.

Penjaga toko dan pekerja sangat curiga terhadap orang luar yang menelusuri jalur sempit, terutama jurnalis. Mohammed Abid, seorang pedagang limbah elektronik bekas, yang bersedia diwawancarai menyangkal cara-cara pengelolaan limbah elektronik di Seelampur melanggar hukum atau menimbulkan bahaya.

“Ada pekerjaan lain yang menciptakan banyak masalah bagi lingkungan, tetapi di pasar ini tidak ada pekerjaan yang merrusak lingkungan atau meningkatkan polusi,” katanya.

Padahal, bau busuk dari saluran pembuangan terbuka dekat tokonya terasa memenuhi udara di situ.

sumber: beritasatu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s