Dari Gunung Sampah Jadi Wisata Edukasi, Begini Perubahan TPA Talangagung

MALANG – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Talangagung di Kabupaten Malang yang dulu terkesan jorok dan panas, kini bermetamorfosa menjadi tempat wisata edukasi yang rindang dan nyaman bernama Malang Recycle Center.

“Untuk wisata edukasi TPA Talangagung, masyarakat biasanya yang datang sendiri dan kita memberikan edukasi cara pengelolaan sampah yang baik,” ungkap Kepala Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup, Renung Rubiyartaji, pada Jumat (11/7/2020).
 
 
Renung menjelaskan, di TPA Talangagung kita dapat melihat berbagai pengelolaan sampah menjadi mainan, tanam lingkungan dan konservasi lingkungan. “Intinya yang datang kesini kita semangati untuk menjaga lingkungan,” tegasnya bersemangat.
 
“Jadi nanti sampah ini diolah dan mengajak masyarakat untuk memilah, sehingga saat di sini sampah residu itu ditanam,” sambungnya.
 
 
Memiliki luas sekitar 10 hektar, pengelola TPA Talangagung berencana menerapkan konsep bluth atau pengelolaan TPA berorientasi mandiri. “Jadi akan ada produk yang akan dijual di masyarakat untuk menghidupi diri sendiri,” paparnya.
 
Selain itu, Korea dan Denmark juga dikabarkan sedang membidik TPA Talangagung untuk dikucuri dana investasi.
 
“Kebetulan dari Korea mengatakan akan memberikan bantuan dana. Lalu dari Denmark juga ada. Seperti Kota Malang yang nilai investasinya sampai Rp 230 miliar. Kalau kita bisa setengahnya itu atau bahkan lebih,” ujar optimis.
 
 
Kini, TPA Talangagung sedang melebarkan sayap untuk mendirikan TPA di Kalipare dan di Gedangan. Di Kalipare sendiri sedang direncanakan untuk meminjam pakai lahan milik Perhutani seluas 10 hektar untuk dijadikan TPA.
 
 
“Lalu di Gedangan yang di dekat jalur lintas selatan itu dapat 6,25 hektar juga pinjam pakai. Karena di Malang Selatan juga belum ada TPA, jadi ini bisa dipakai untuk mengatasi sampah laut,” paparnya.
 
Terakhir, Renung mengatakan untuk masuk ke lokasi wisata edukasi TPA Talangagung tidak perlu mengeluarkan biaya alias gratis.
 
 
 
“Tapi memang saat ini kita tidak bisa menerima banyak pengunjung akibat COVID-19. Jadi, kita pecah per kelompok seperti pusat edukasi lingkungan dan pelatihan kompos sendiri-sendiri,” pungkasnya.
 
 
Di tempat yang sama, Bupati Malang, Muhammad Sanusi, mengatakan jika TPA Talangagung sudah menjadi finalis Kompetisi Inovasi Pelayanan Publik (KIPP) 2020 yang diselenggarakan Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
 
 
“TPA Talangagung menjadi role model untuk seluruh TPA di Indonesia,” ujar Sanusi bangga.
 
 
Dan TPA Talangagung ini telah mengubah citra buruk TPA yang dianggap menjijikkan menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat.
 
 
“Dari dulu TPA itu tidak disukai masyarakat, tapi TPA di sini menggunakan sistem landfill. Lalu diambil gas metannya untuk dimanfaatkan masyarakat,” jelasnya.
 
 
Dari pendayagunaan gas metan tersebut sudah ada 25 Kepala Keluarga (KK) yang memanfaatkannya. “Sudah ada 25 KK yang tidak memakai LPG lagi. Kalau mereka menggunakan gas metan itu jadi lebih hemat,” tukasnya.
 
sumber: kumparan.com

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s