Net City, Kota Masa Depan Tencent dengan Polusi Minim

Net City kota minim polusi yang dibangun Tencent di atas tanah reklamasi di Shenzhen. Dok. NBBJ

TEMPO.COJakarta – Cina bakal memiliki kota masa depan, dengan polusi minim. Ini merupakan antitesa dari kota-kota di Cina saat ini, yang memiliki polusi tinggi. Kota masa depan itu bakal dibangun oleh raksasa teknologi Tencent.

Proyek ini, dikutip dari CNN, tak main-main. Pasalnya, ukurannya setara Monako dan seluruhnya bebas mobil berbahan bakar fosil. Lokasinya berada di Kota Shenzhen,  telah meluncurkan rencana untuk “kota masa depan” yang hampir seluruhnya bebas mobil. Ukurannya setara dengan Monako, di kota metropolis Cina di Shenzhen, Provinsi Guangdong.

Menurut desainernya, kota yang dijuluki “Net City,” itu, berluas 2 juta meter persegi memprioritaskan pejalan kaki, ruang hijau dan kendaraan self-driving. Kota ambisius-dalam-kota-tersebut menempati sebidang tanah reklamasi menjorok ke muara Sungai Pearl. Dirancang untuk mengakomodasi populasi sekitar 80.000 orang, situs ini terutama akan melayani Tencent, konglomerat di belakang WeChat dan layanan pesan QQ yang populer di Cina.

Tetapi selain menyediakan tempat tinggal dan kantor perusahaan, lingkungan ini diharapkan dapat menampung toko-toko, sekolah dan fasilitas publik lainnya, dan akan terhubung ke seluruh kota Shenzhen melalui jembatan, jalan, feri, dan sistem kereta bawah tanah kota. Perusahaan Amerika di belakang rencana induk tersebut, NBBJ, berharap bahwa tempat hiburan, taman, dan kawasan pejalan kaki di distrik baru ini akan menarik pengunjung dari tempat lain di kota ini.

Net City nantinya bukan sebagai kota tertutup yang eksklusif, namun bisa diakses oleh masyarakat umum. Menurut Jonathan Ward, mitra desain di NBBJ, tak akan ada plagiarisme untuk arsitekturnya – yang bakal jadi era baru arsitektur di Cina.

Meniadakan Mobil Berbahan Bakar Fosil

NBBJ memenangkan memenangkan kompetisi internasional untuk mendesain Net City yang dicita-citakan Tencent. Menurut Ward, pihaknya memikirkan kembali peran mobil dalam perencanaan kota, “Tujuan utama kami adalah menyediakan tempat di mana inovasi benar-benar dapat berkembang,” jelasnya. “Untuk melakukan itu, kami berusaha meminimalkan dampak mobil sebanyak mungkin.”

“Menjadi ‘bebas mobil’ masih sedikit menantang di dunia kita, jadi kami menghabiskan banyak waktu merancang kota agar serendah mungkin, menyingkirkan (mobil dari) tempat yang tidak perlu dan fokus pada orang.”

Meskipun mobil biasa akan dapat mengakses beberapa bagian lingkungan, rencana tersebut berpusat di sekitar “koridor hijau” yang dirancang untuk bus, sepeda dan kendaraan otonom. Koridor tersebut disebut Ward, sebagai tata letak lalu lintas yang “tidak perlu”.

“Anda tidak perlu satu blok dikelilingi oleh jalan – Anda mungkin dapat memiliki delapan blok dikelilingi oleh jalan, dan mengambil semua yang ada di antaranya,” katanya. “Kami telah ‘mengurangi’ jalan di tempat-tempat di mana kami pikir orang dapat berjalan dua menit lebih lama dari subway atau drop-off (taksi).

“Dan, dalam dua menit itu, kamu mungkin melihat sesuatu yang menginspirasi, terhubung dengan alam atau bertemu kolega yang sudah lama tidak kamu lihat – semua hal yang kamu lihat terjadi di lingkungan tempat kerja bisa terjadi di kota.”

Kota yang Terintegrasi

Selain mengintegrasikan dengan struktur perkotaan Shenzhen yang lebih luas, rencana induk NBBJ dirancang untuk menawarkan apa yang disebutnya “ekosistem organik yang saling berhubungan dan berfokus pada manusia.

Untuk karyawan Tencent, ini dapat berarti mengikis perbedaan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka – sebuah ide yang telah menjadi semakin relevan sehubungan dengan pandemi Covid-19, kata Ward.

“Kota-kota tradisional sangat sunyi, bahkan di kota-kota terpadat di mana ada lebih banyak interaksi dan pencampuran,” tambahnya. “Tapi apa yang bisa terjadi sekarang adalah Anda bisa mulai mengaburkan garis-garis itu (antara bekerja dan bermain), dan membawa lebih banyak interaksi antara berbagai bagian kehidupan.

Rencana induk NBBJ mempertimbangkan kelestarian lingkungan, dengan atap panel surya dan sistem rumit untuk menangkap dan menggunakan kembali air limbah. Perencana juga melihat proyeksi kenaikan permukaan laut di masa depan untuk memastikan bahwa bangunan lebih terlindungi dari perubahan iklim.

Diberitakan CNN, Tencent bukan satu-satunya perusahaan swasta yang ingin membuat kota miniaturnya sendiri. Awal tahun ini, produsen mobil Toyota meluncurkan rencana untuk “Woven City” seluas 175 hektar di kaki Gunung Fuji.

Kota itu bakal digunakan untuk menguji kendaraan otonom, teknologi pintar, dan kehidupan yang dibantu robot.

Di Toronto, Sidewalk Labs, anak perusahaan Google, Alphabet, berencana mengubah tepi pantai menjadi lingkungan baru yang futuristik, sebelum membatalkan proyek dengan alasan “ketidakpastian ekonomi” yang disebabkan oleh Covid-19.

Ada juga sejumlah perkembangan skala besar lainnya yang sedang direncanakan di Shenzhen, sebuah kota yang telah meledak dalam ukurannya sejak 1980, ketika pemerintah Cina menamakannya “Zona Ekonomi Khusus.” Fase pertama dari sebuah distrik bisnis baru bernama Shenzhen Bay Headquarters City, juga sedang dibangun di atas tanah reklamasi, diharapkan selesai pada tahun 2022.

Net City Tencent akan memakan waktu sekitar tujuh tahun untuk menyelesaikannya. Dengan konstruksi diharapkan akan dimulai akhir tahun ini. Lusinan bangunan individu, yang akan berkisar dari satu hingga 30 lantai, akan dirancang oleh berbagai perusahaan arsitektur yang berbeda.

sumber: tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s