Geliat Bank Sampah Bogor di Tengah Pandemi Corona

Bank sampah di Bogor

Bogor –

Banyak cara yang bisa dilakukan warga untuk memenuhi kebutuhannya, terutama di musim pandemi. Salah satunya dengan cara menabung sampah dan menukarnya dengan uang.

Seiring waktu, keberadaan bank sampah terus diminati warga. Karena selain membantu perekonomian, keberadaan Bank Sampah juga dinilai efektif untuk mengedukasi masyarakat terkait sampah dan meningkatkan kepedulian lingkungan.

Salah satunya adalah Bank Sampah Ranggamekar yang berada di Kelurahan Ranggamekar, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor. Sejak awal berdiri, bank sampah ini menerima tabungan warga dalam bentuk sampah, baik organik maupun non organik.

“Sejak awal berdiri 2015 lalu, Alhamdulillah respons masyarakat cukup baik, mereka sangat antusias dengan keberadaan bank sampah. Karena kini warga tahu kalau sampah yang ada di sekitarnya itu sebenarnya punya nilai ekonomis,” kata Ketua Bank Sampah Ranggamerkar, Kota Bogor saat berbincang dengan detikcom, Kamis (25/6/2020).

Heri menyebut, saat ini nasabah Bank Sampah Ranggamekar sudah berjumlah 600 orang. Nasabah-nasabah itu merupakan warga di Kelurahan Ranggamekar, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor dan sekitarnya.

“Nasabahnya itu ya warga di Kelurahan Ranggamekar dan sekitarnya. Ada juga warga perumahan, pembantu-pembantu rumah tangga di perumahan, anak-anak SD juga ada,” kata Heri.

“Di musim pandemi kaya sekarang, nasabah meningkat. Banyak nasabah baru,” tambahnya.

Keberadaan Bank Sampah Ranggamekar, lanjut Heri, cukup membantu warga di musim pandemi ini. Karena sampah yang ditabung bisa diambil dalam bentuk uang untuk menutupi kebutuhan mereka.

“Kalau dibilang membantu ya memang sangat membantu ya saya kira. Mereka yang dulunya berjualan, tetapi kemudian lapaknya ditutup karena pandemi, sementara kebutuhan uang terus berjalan. Makanya banyak tuh bulan kemarin pas lebaran yang ambil tabungannya,” cerita Heri.

“Pas lebaran banyak yang ambil tabungan, kita keluarkan uang sampai Rp 8 juta. Pas ditanya buat apa, katanya ada yang buat bayar daging, beli baju anak, bayar listrik dan lain-lain. Artinya tabungan sampah mereka bermanfaat di saat yang tepat,” tambahnya.

Heri mengatakan, Bank Sampah Ranggamekar berdiri sejak 2015 lalu. Dengan semangat peduli lingkungan, Heri bersama rekan-rekannya memanfaatkan program Pemerintah Kota Bogor tentang Bank Sampah.

“Saya ambil peluang itu (program Bank Sampah Kota Bogor,red), jadi ini memang program Pemkot Bogor. Nah terus saya ajak teman-teman yang punya kesamaan visi, dan Alhamdulillah sampai sekarang Bank Sampah Rangga Mekar masih berdiri dan cenderung berkembang,” ungkap Heri yang sempat mendapat beasiswa dari Pemkot Bogor untuk pelatihan pengelolaan sampah di Hiroshima, Jepang itu.

Sampah-sampah yang ditabung warga, kemudian oleh Heri dan rekan-rekannya dipisahkan antara sampah organik dan sampah non organik. Sampah non organik dijual dan uangnya masuk dalam bentuk tabungan. Sementara sampah non organik dijadikan pupuk untuk menanam pohon.

“Jadi sampah yang non organik jadi uang dan ditabung, sementara sampah organiknya kita jadikan pupuk. Karena kita juga punya program Urban Farming. Program ini juga kita kembangkan, kita terapkan untuk masyarakat. Jadi sebenarnya program sampah ini dari warga untuk warga,” sebut Heri.

“Jadi dari sampah ini, bisa jadi uang dan bisa dikembangkan untuk bercocok tanam,” tambahnya.

Selain memiliki nilai ekonomi, keberadaan bank sampah juga menjadi ajang edukasi bagi warga terkait lingkungan.

“Kita juga punya nasabah pelajar SD, dari kelas 4 sampai kelas 6. Tujuan utama kami adalah mengajarkan mereka peduli lingkungan sejak dini. Bagaimana menjaga kebersihan, mengumpulkan sampah kemudian memisahkan mana sampah organik nana sampah non organik,” ungkap Heri.

“Disamping itu, kegiatan mereka juga memiliki nilai ekonomi. Uang yang dihasilkan dari sampah yang mereka kumpulkan kemudian ditabung, biasanya mereka baru ambil di musim kenaikan kelas. Ada yang buat beli seragam baru, ada yang buat bayar tour sekolah, biaya jalan-jalan. misalnya,” kata Sulton, rekan Heri.

Sulton menyebut, awalnya warga yang datang ke Bank Sampah dan membawa sampah yang akan ditabung. Kini, pihaknya yang datang dan mengambil sampah-sampah yang sudah dikumpulkan warga.

“Jadi sekarang kita libatkan itu ketua RT masing-masing wilayah. Dikumpulkan dulu oleh koordinator tiap RW atau RT, baru kemudian kita jemput. Setidaknya ini mengurangi biaya operasional warga,” ucapnya.

sumber: detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s