Mentahkan Klaim DKI, Greenpeace Tegaskan PSBB Tak Bikin Udara Jadi Sehat

Emisi gas buang kendaraan kerap jadi biang kerok buruknya kualitas udara Jakarta. Jika memang demikian, pemerintah diharapkan turun tangan menanganinya.

Jakarta – Kelompok pemerhati lingkungan, Greenpeace, menyatakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta tidak membuat kualitas udara di Ibu Kota menjadi sehat. PSBB masa transisi kemudian memperburuk kualitas udara Jakarta.
“Selama masa PSBB, polusi udara di Jakarta diklaim mengalami penurunan. Greenpeace mengamati dan menganalisis data PM 2,5 yang diambil dari dua stasiun pemantauan kualitas udara di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat,” kata Greenpeace sembari menyinggung klaim Jakarta soal kualitas udara, lewat siaran pers di situs Greenpeace, Selasa (23/6/2020).

PM 2,5 adalah partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). PM 2,5 berbahaya karena cukup halus sehingga bisa masuk langsung ke paru-paru.

PSBB Jakarta dimulai pada 10 April 2020, sedangkan PSBB masa transisi dimulai 5 Juni 2020. Namun sebelum PSBB, Greenpeace mencatat aktivitas kerja dari rumah (work from home) sudah mulai ada sejak 14 Maret. Meski begitu, kualitas udara tidak juga membaik.

“Greenpeace mencatat ada lima Hari dalam Kategori tidak sehat di Jakarta Selatan khususnya, pada masa awal Kerja Dari Rumah ini (14 Maret – 9 April 2020). Tidak ada Hari dengan kondisi udara Baik (Sehat) di masa ini di Jakarta selatan maupun Jakarta Pusat,” kata Greenpeace.

Memasuki masa PSBB pada 10 April-4 Juni 2020, kualitas udara juga tidak mengalami perbaikan. Kadar PM2,5 di udara masih berada pada kategori menengah (moderate) dan tidak sehat untuk kelompok sensitif.

“Bahkan di Jakarta Selatan ada 24 hari tidak sehat. Jika diamati data rata-rata setiap jamnya seringkali terjadi peningkatan level PM 2.5 pada malam hari,” kata Greenpeace.

Memasuki PSBB transisi mulai 5 Juni-16 Juni 2020, kondisi udara di Jakarta bertambah buruk. Konsentrasi PM 2,5 di Jakarta naik. Data AQI Air Visual menunjukkan, Jakarta kembali menduduki peringkat lima besar kota di dunia dengan tingkat polusi paling tinggi pada jam-jam tertentu.

Konsentrasi PM 2,5 di Jakarta melampaui nilai ambang batas (NAB) atau baku mutu nasional sebesar 65 ugram/m3.

“Dapat dilihat bahwa konsentrasi PM 2.5 selama 2 pekan di bulan Juni telah mengalami lonjakan yang signifikan, bahkan melebihi baku mutu ambien nasional yaitu 65 ug/m3 per hari (selama empat hari di Jakarta Selatan). Sedangkan, jika mengacu pada baku mutu ambien WHO, terdapat 12 hari di Jakarta Pusat maupun Jakarta Selatan yang melebihi batas aman selama bulan Juni ini,” kata Greenpeace.

Greenpeace menggunakan data yang diambil dari dua stasiun monitoring kualitas udara di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat milik Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.

Bila dibandingkan dengan data tahun sebelumnya, yakni bulan Maret hingga Juni 2019 dengan Maret hingga Juni 2020, maka kualitas udara Maret hingga Juni 2020 lebih rendah.

“Bahkan AQI selama bulan Maret hingga Juni tahun ini lebih buruk dari tahun-tahun sebelumnya dengan jumlah hari sehat nyaris tidak ada. Jika kita bandingkan, dua pekan masa PSBB transisi ini memiliki delapan hari tidak sehat di Jakarta Selatan, yang mana sudah dua kali lipat jumlah hari Tidak Sehat pada masa PSBB sebelumnya,” tutur Greenpeace.

Greenpeace menyimpulkan, PSBB tidak memperbaiki kualitas udara secara signifikan. Adaptasi kebiasaan baru dinilai hanya terletak pada protokol kesehatan, sementara perbaikan polusi udara tidak ada yang berubah, khususnya di kota yang sudah berumur 493 tahun ini.

“Pemerintah harus segera melakukan inventarisasi emisi secara berkala agar dapat mengetahui sumber pencemar sebagai dasar ilmiah pengendalian sumber pencemar baik bergerak maupun tidak bergerak, menambah stasiun pemantauan kualitas udara yang bisa mewakili Jakarta secara keseluruhan, memperketat baku mutu udara ambien nasional yang masih tiga kali lebih lemah dibandingkan dengan standar WHO, serta berkoordinasi dengan Pemerintah Jawa Barat dan Banten dalam hal pengendalian polusi udara lintas batas”, tegas Bondan Andriyanu, Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia.

Klaim Jakarta

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta menyebut kualitas udara semakin baik sejak diberlakukan PSBB. Bahkan, saat Idul Fitri, kualitas udara di Jakarta terbaik selama lima tahun terakhir.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Andono Warih, saat hari-H Idul Fitri 2020, 24 Mei 2020 lalu, konsentrasi PM 2,5 di semua lokasi pemantauan kualitas udara menunjukkan angka penurunan dibanding beberapa hari sebelumnya. Secara keseluruhan, rata-rata PM 2,5 sebelum dan saat Idul Fitri memenuhi baku mutu PM 2,5.

“Disimpulkan, kualitas udara Lebaran 2020 paling baik dibanding Lebaran 5 tahun ke belakang,” kata Andono dalam keterangannya, Selasa (25/5) lalu.

sumber: detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s