Riset: efisiensi energi hindari pembangunan 50 pembangkit listrik baru di Indonesia

Permintaan listrik di Indonesia meningkat pesat akibat pertumbuhan ekonomi yang dibarengi oleh urbanisasi dan industrialisasi.

Berdasarkan Statistik Kementerian Energi dan Sumberdaya Mineral yang dikeluarkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), puncak kebutuhan listrik harian juga meningkat hingga dua kali lipat, menjadi lebih dari 160 gigawatts (GW) pada tahun 2030.

Peralatan dan kebutuhan rumah tangga, seperti pendingin ruangan (AC), alat penerangan, lemari pendingin (kulkas), dan TV, meningkatkan permintaan energi di Indonesia pada tahun 2030, sebanyak 70% dari kebutuhan saat waktu puncak, yaitu pukul 8 malam.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik yang meningkat ini, Indonesia berencana untuk menambah 87GW – setara dengan membangun 175 pembangkit listrik dengan kapasitas 500 megawatt – pada tahun 2030.

Namun, penelitian kami mengidentifikasi strategi untuk menghemat konsumsi listrik hingga 25GW pada tahun 2030, setara dengan 35% dari konsumsi listrik puncak pada tahun yang sama.

Menggunakan teknologi yang efisien energi akan mengurangi listrik pada lampu, AC, kulkas, dan peralatan lainnya. Dengan teknologi ini pula, Indonesia bisa menghindari pembangunan 50 pembangkit listrik yang baru pada tahun 2030.

Teknologi efisiensi energi kurangi daya puncak
Pemodelan kami memprediksi permintaan energi berdasarkan tipe peralatan dan menganalisa skenario penerapan teknologi yang berbeda untuk melihat dampak terhadap puncak daya listrik di masa depan.

Kami menemukan bahwa teknologi efisiensi energi menyediakan pelayanan yang sama bagi rumah tangga (penerangan, alat pendingin, dsb) dengan sedikit mengeluarkan energi. Ini membuat peralatan rumah tangga tersebut menjadi 50% lebih murah bagi konsumen.

Contoh teknologi efisiensi energi adalah lampu LEDs (light-emitting diodes) yang menghasilkan cahaya lebih terang dengan sedikit panas, AC dengan inverter (bekerja pada kecepatan rendah yang bervariasi), dan meningkatkan insulasi pada kulkas untuk mendinginkan lebih lama.

Meskipun beberapa masyarakat Indonesia sudah membeli barang-barang tersebut, jutaan produk rumah tangga yang boros energi tetap menjadi minat pada tahun-tahun ke depan.

Oleh sebab itu, penting untuk memiliki kebijakan yang kuat untuk menghilangkan produk boros energi dari pasaran dan mendorong efisiensi energi ke pasar.

Contohnya, penjualan AC tumbuh sebesar 7.5% per tahun di Indonesia, kami menemukan potensi penghematan apabila bisa menerapkan teknologi efisiensi energi setengah dari jumlah tersebut.

Penelitian lanjutan dari tim kami menunjukkan penggunaan teknologi inverter pada pendingin sudah tersedia di Indonesia dengan harga yang tidak jauh berbeda daripada yang boros energi.

Dalam konteks dampak perubahan iklim, kami menemukan bahwa peralatan dan penerangan yang efisien bisa mencapai 27% dari target penurunan emisi yang dibebankan kepada sektor energi. Ini berarti menurunkan 84,5 juta ton CO₂ pada tahun 2030.

Teknologi ini menjadi alat penting dalam upaya penurunan emisi karbon (decarbonisation) Indonesia pada sektor energi, sekaligus menerapkan energi terbarukan.

Kementerian ESDM telah meluncurkan target sektoral nasional untuk konservasi energi ke dalam Rencana Umum Kelistrikan Nasional atau RUKN, untuk menurunkan konsumsi energi di tahun 2019.

Rencana umum ini mewajibkan 37GW dari total 166GW permintaan energi di tahun 2030 dapat dicegah melalui konservasi energi selama sepuluh tahun ke depan.

Konservasi energi merupakan upaya menghemat energi melalui teknologi efisiensi energi (yang merupakan fokus dari penelitian kami) dan perubahan gaya konsumsi masyarakat (contohnya mematikan lampu saat meninggalkan ruangan).

Rekomendasi
Saat permintaan akan listrik meningkat di Indonesia bersamaan dengan upaya meningkatkan energi bersih, maka efisiensi energi merupakan alat penting bagi kelayakan finansial dan ketahanan energi.

Efisiensi energi berarti menggunakan sedikit energi untuk melakukan kerja yang sama. Teknologi menawarkan kepada kita keuntungan dari efisiensi energi. Kebijakan efisiensi energi akan mendukung perkembangan teknologi ini.

Kami merekomendasikan Indonesia untuk mempertimbangkan efisiensi energi sebagai modal untuk pemenuhan kebutuhan energi di masa depan.

Dengan rendahnya harga batubara, efisiensi energi menjadi cara termurah untuk menyediakan listrik bagi masyarakat Indonesia.

Secara umum, kami menemukan biaya untuk menghemat per satu unit listrik (kWh) sekitar 2-3 sen, dibandingkan dengan harga listrik rumah tangga sekitar 10-11 sen/kWh di Indonesia.

Efisiensi energi juga membantu pengintegrasian energi terbarukan, seperti panel surya, dengan menurunkan permintaan puncak pada sore hari dan kebutuhan untuk sistem penyimpanan energu atau pembangkit listrik yang mahal yang hanya beroperasi untuk kebutuhan tinggi, seperti “peaker” plants.

Akibat lonjakan permintaan – tertinggi pada jam 8 malam – sistem akan membutuhkan kapasitas tambahan dengan beban dasar yang tidak bisa dipenuhi, contohnya batubara.

Kami merekomendasikan Kementerian ESDM untuk beralih kepada target konservasi energi sebesar 37GW untuk mencapai target penurunan emisi sebesar 29% pada tahun 2030.

Kami berharap penelitian kami bisa mendukung prioritas kebijakan dan melacak perkembangan menuju target iklim dan mencapai energi bersih.

Menerapkan target-target ini akan mengurangi pengeluaran negara, sekaligus polusi lokal dan nasional, dan akhirnya mengurangi biaya yang harus dikeluarkan oleh konsumen di Indonesia.

sumber: theconversation.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s