Kehidupan Pemulung Sampah Semakin Sulit

Kehidupan Pemulung Sampah Semakin Sulit

Bekasi, Beritasatu.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) bersama PT Fajar Surya Wisesa Tbk menyalurkan bantuan sembako kepada pemulung, buruh sektor persampahan, dan warga sekitar Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST) Bantargebang dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sumurbatu, Kota Bekasi. Bantuan diberikan kepada pemulung karena termasuk yang paling terdampak pendemi Covid-19.

“Bantuan sembako sebanyak 500 paket diserahkan langsung Lim Chong Thian, selaku vice president PT Fajar Surya Wisesa Tbk,” ujar Ketua Umum Asosiasi Pelapak dan Pemulung Indonesia (APPI), Bagong Suyoto, Rabu (17/6/2020).

Selain itu, diserahkan 10 unit alat cuci tangan yang akan di tempatkan di sejumlah titik yakni permukiman warga dan pemulung serta TK/PAUD Pelangi Semesta Alam, MTs Al-Muhajirin, dan sebagainya.

“Paket Sembako berisi beras 5 kg, mi instan 10 bungkus, minyak goreng 1 kg dan gula putih 1 kg. Bantuan sembako dari instansi tersebut bertujuan untuk meringankan beban ekonomi di masa ekonomi sulit,” imbuhnya.

Menurutnya, kegiatan berbagi tersebut hendaknya diikuti oleh perusahaan lain, terutama di wilayah Bekasi Raya atau Jabodetabek sehingga terbentuk solidaritas dan gotong-royong di masa sulit.

Sebelumnya, Ditjen Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) Kementerian LHK memberi bantuan sebanyak 500 paket alat pelindung diri (APD) kepada pemulung, baru-baru ini.

Bagong menceritakan, sejak Juni 2020 kehidupan sosial ekonomi pemulung dan pekerja sektor persampahan semakin sulit.

“Akibat dampak harga-harga pungutan sampah terjun bebas atau anjlok. Bahkan, sejumlah barang tidak laku jual, seperti plastik lembaran dan plastik kresek. Contoh harga sampah campuran hanya Rp 500-600/kg dari sebelumnya Rp 1.000-1.200/kg, slopan dari Rp 1.000/kg terjun tinggal Rp 200/kg, plastik ember dari Rp 2.500/kg terjun hingga Rp 800-1.000/kg, botol dan mainan dari Rp 4.500/kg terjun menjadi Rp 2.000/kg. Imbasnya, sejumlah pelapak, usaha pencacahan plastik dan pabrik daur ulang, telah tutup,” ungkapnya.

Ketika pemulung menjual hasilnya ke pelapak, barang ditimbang tapi tak dibayar alias diutang.

Bahkan beberapa kali menimbang barang tak dibayar sama pelapak atau bosnya. Belum lagi kena potongan sebesar 15-20 persen. Ada juga yang potongannya hingga 35 persen, seperti sampah jenis kertas.

“Nasib pemulung terjepit dan terhimpit ke dalam struktur ekonomi paling dasar dan sangat rentan. Posisi pemulung sangat lemah. Akhirnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, seperti beras, lauk-pauk, dan sebagainya harus menggadaikan sepeda motor atau barang berharga lainnya. Sedang untuk mencari panjaman sulit, kecuali ke rentenir dengan bunga cukup tinggi, 10-20 persen,” pungkasnya.

Sumber: BeritaSatu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s