Perubahan Iklim Dapat Menurunkan Jumlah Produksi Wine

fancy woman holding wineglass

Wine adalah minuman beralkohol yang dibuat dari anggur yang difermentasi. Minuman ini bisa dibilang sebagai minuman yang cukup berkelas dan mahal. Semakin lama wine disimpan, maka rasanya akan lebih enak sehingga harganya pun lebih mahal.

Wine sendiri dikonsumsi oleh banyak orang di berbagai negara seperti Italia, Amerika, China, Rusia, Inggris, dan lain-lain. Bahkan wine juga banyak dikonsumsi di Vatikan sebagai bagian dari pelaksanaan ibadah komuni Gereja Katolik.

Namun, baru -baru ini ada penelitian yang mengungkapkan bahwa nantinya produksi wine bisa terancam oleh adanya perubahan iklim. Penelitian ini sendiri ditulis oleh Sarah Fect dari Columbia University.

Dalam penelitiannya ditulis jika terjadi kenaikan suhu 2 derajat celcius di daerah penghasil anggur wine maka luas lahan penghasil anggur wine akan berkurang sebesar 56%. Jika 4 derajat celcius, maka penurunan akan terjadi sebesar 85%.

Benjamin Cook dari Columbia University menjelaskan hal ini dapat terjadi karena anggur wine sangat sensitif terhadap perubahan iklim sehingga agak susah untuk menyesuaikan anggur dengan kondisi iklim yang berubah.

Hal inilah yang mengakibatkan adanya pengurangan luas lahan penghasil anggur wine sehingga akhirnya mengurangi produksi wine.

Lalu apa yang harus dilakukan untuk mengatasi masalah ini?

Penelitian ini menuliskan bahwa solusinya adalah menanam berbagai jenis varietas anggur yang dapat bertahan di suhu yang lebih panas di berbagai lahan penghasil anggur wine.

Menurut para peneliti, jika para petani melakukan hal ini maka angka pengurangan lahan sebesar 56% dapat berkurang menjadi 24% saja. Tentunya ini adalah solusi yang cukup bagus untuk masalah ini.

Sebagai contoh, kita dapat menanam anggur jenis mourvedre di daerah Bordeaux, Prancis untuk menggantikan cabarnet sauvignon yang tidak dapat bertahan di suhu yang lebih panas.

Contoh yang lainnya adalah kita dapat menanam anggur jenis merlot dan grenache yang dapat bertahan di suhu yang lebih panas di tempat yang lebih dingin seperti Jerman, Selandia Baru, dan beberapa wilayah Amerika Serikat.

Walaupun terdengar sederhana, solusi ini juga sebenarnya agak susah diterapkan oleh para petani.

Elizabeth Wolkovich, yang memimpin studi ini mengatakan bahwa ada beberapa kendala seperti kurangnya pengetahuan para petani tentang jenis anggur lainnya karena tradisi yang sudah mengakar selama ratusan tahun membuat mereka hanya menanam satu jenis anggur saja.

Selain itu, mereka juga harus memiliki konsumen yang menerima wine dengan jenis anggur yang berbeda dengan biasanya. Walaupun begitu, masih ada kesempatan untuk beradaptasi bagi para petani ini.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s