Wabah Virus Corona Dapat Mengancam Pasar Minyak Bumi

Coronavirus

Pada Januari 2020, dunia dihebohkan dengan kabar bahwa adanya wabah virus Corona di Wuhan, China yang akhirnya menyebar ke Asia Tenggara, Eropa, Amerika, Timur Tengah, dll.

Menurut pemerintah China, jumlah orang yang terinfeksi sekitar 2000 orang lebih. Namun para petugas medis di berbagai tempat mengatakan bahwa jumlahnya jauh lebih banyak yaitu sekitar 100.000 orang.

Akibatnya, Tahun Baru Imlek di China pun terganggu karena orang-orang tidak berani keluar rumah. Lalu apa hubungannya antara wabah virus Corona dengan ancaman terhadap pasar minyak?

Baklah, mungkin apa yang saya tulis ini tidak begitu tepat karena situasi yang cukup mencekam. Namun kita juga tetap harus melihat dampak negatif lain terhadap ekonomi dari virus Corona selain dampak terhadap kesehatan.

Seperti yang kita tahu, jumlah perjalanan transportasi di China saat ini berkurang begitu banyak. Padahal saat ini China masih liburan Tahun Baru Imlek dan biasanya ada banyak orang yang pulang kampung hingga disebut-sebut sebagai migrasi manusia paling besar di dunia.

Namun karena virus Corona menyebar, tentunya banyak orang yang tidak jadi pulang ke kampung halaman. Tentunya hal ini berdampak pada menurunnya penggunaan minyak karena berbagai transportasi pastinya menggunakan bensin.

Selain itu, berbagai negara dan maskapai penerbangan juga mengehentikan perjalanan ke China. Ditambah lagi pemerintah China sudah mulai mengehentikan pengoperasian berbagai transportasi umum sehingga pasar minyak bumi pun makin tertekan.

Tidak hanya itu, China juga menjadi negara kedua yang paling banyak menggunakan minyak bumi.

Tercatat bahwa di tahun 2018 saja, China sudah mengonsumsi 13,5 juta barrel per hari dan mengalami pertumbuhan sekitar 5,5 % per tahunnya. Jumlah trsebut jauh lebih besar dibanding Amerika yang hanya mengalami pertumbuhan sekitar 0,5% per tahun.

Akibatnya, Goldman Sachs mengatakan bahwa penjualan dan harga minyak akan menurun. Goldman mencatat bahwa ada penurunan harga minyak dari $4,5 per barrel menjadi $2,9 per barrel.

Dalam patokan Brent, harga minyak bahkan menurun dari $65,95 menjadi $61,41 . Tentunya ini adalah ancaman terhadap ekonomi China dan dunia.

Sebelumnya di tahun 2002, harga minyak bumi menurun hingga 20% ketika pada saat itu China sedang mengalami wabah SARS. Penurunan harga minyak di tahun ini tentunya lebih parah dibandingkan dengan tahun 2002 lalu.

Tentunya hal ini dapat menghancurkan ekonomi China yang merupakan negara adidaya itu.

Sejauh ini, sudah ada 18 negara di dunia yang melaporkan adanya kasus virus Corona dan korban meninggal mencapai angka 170 orang. Sampai saat ini, para ilmuwan masih terus bekerja untuk membuat vaksin virus Corona.

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s