Perempuan dan Anak Dinilai Berisiko Tinggi Terdampak Perubahan Iklim

Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC-COP25) di Madrid, Spanyol (Mei Amelia/detikcom)

Jakarta – Isu gender menjadi salah satu agenda pembahasan penting dalam Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC-COP25) di Madrid, Spanyol. Yenny Wahid sendiri memuji keterlibatan perempuan dalam proses negosiasi pada acara COP25 ini.

“Dalam proses negosiasi Indonesia cukup maju dibanding beberapa negara lain, peran perempuan Indonesia maju dalam negosiasi ini,” kata Yenny Wahid di Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC-COp), Ferua de Madrid, Madrid, Spanyol, Senin (9/12/2019).

Hal senada diungkap oleh Penasihat Senior Menteri Koordinator Kemaritiman untuk Perubahan Iklim, Kartini Sjahrir. Menurut Kartini, Indonesia sudah sangat maju dalam pelibatan kaum perempuan di pergelaran COP25 ini.

“Karena tidak ada kendala bagi peserta perempuan untuk aktif dalam proses UNFCCC, posisi Indonesia dalam hal ini sangat maju. Indonesia telah mengimplementasikan kesetaraan gender pada berbagai sektor,” imbuhnya.

Kartini menyampaikan pentingnya peranan perempuan dalam mengatasi perubahan iklim. Sebab, perempuan lebih berisiko terkena dampak akan perubahan iklim, selain anak dan manula.

“Perempuan umumnya menghadapi risiko lebih tinggi dari dampak krisis iklim, khususnya dalam situasi kemiskinan,” kata Kartini lagi.

Pemerintah sendiri memiliki program terkait pengarusutamaan gender (PUG), bahkan sudah pada perencanaan tingkat daerah. Bahkan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan sendiri telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 31 Tahun 2017 tentang Pedoman Pengarusutamaan Gender Bidang LHK.

“Di samping itu, Menteri LHK telah menandatangani kesepakatan bersama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta mendorong PUG dalam hal penganggaran maupun pelaksanaan kegiatan LHK,” ujar Kartini.

Ada tiga hal yang menjadi poin pembahasan terkait isu gender ini, yakni meningkatkan basis data, termasuk disagregasi data gender (gender disagregration data) tentang perempuan yang terkait dengan perubahan iklim. Kedua pentingnya memahami kearifan lokal, kurangnya akses perempuan terhadap permodalan/pendanaan, pelayanan kesehatan pendidikan, dan pelatihan menyebabkan kaum perempuan umumnya bertumpu pada pengetahuan yang berasal dari kearifan lokal, diwariskan turun-temurun secara oral.

“Perempuan dan kearifan lokal adalah ibarat koin dengan dua sisi, saling melengkapi dan saling berinteraksi,” ucapnya.

sumber: detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s