Bibit Ajak Anak-anak di Jogja Ubah Sampah jadi Mainan

Agha mengambil empat botol bekas susu fermentasi yang dibawa dari rumah. Satu persatu botol itu dia lekatkan pada botol minuman berukuran lebih besar. Siswa sekolah dasar itu mematut-matutkan letak botol agar serasi. Dia tambahkan potongan plastik, per, dan benda lain. Kini pesawat mainan makin terbentuk setelah dia menempelkan sesuatu berbentuk silindris di bagian bawah pesawat fantasinya.

Agha, salah satu peserta dari 24 anak yang berlatih membuat pesawat mainan dari bahan-bahan tak terpakai, Minggu, 8 Desember lalu di sebuah tempat di Imogiri, Yogyakarta. Nama aktivitas merangkai benda jadi bentuk baru itu dinamai scratch building.

Sebagai hobi, scratch building terbilang baru di Indonesia. Ini hobi buat orang kreatif, tekun, teliti, dan punya imajinasi tinggi. Scratch building dengan kata lain bisa berarti membangun model menggunakan bahan-bahan yang dibuat sendiri. Entah dari plastik, kertas, kayu, logam, semen, bahan lain atau campuran. Model yang dibangun, misal, robot, pesawat ulang-alik, atau stasiun kereta api.

Scratch building dibedakan dengan model kits building, yang bahan dan asesoris sebuah model sudah tersedia pabrik dan penghobi tinggal merangkai jadi model impian.

Baik scratch building maupun kits building merupakan cabang dari hobi model building atau scale modeling. Ia kegemaran membangun model dalam skala biasa lebih kecil. Sebutan lain untuk kegemaran membangun model dari bahan yang sudah disediakan pabrik adalah kitbashing.

Bahan baku

Seorang penghobi sekaligus instruktur scratch building dari Yogyakarta bernama Bibit Kadar Susilo jadikan kegemaran ini untuk media kampanye pemanfaatan barang bekas agar tak berakhir di tempat pembuangan sampah.

“Membuat mainan salah satu yang disukai anak-anak. Nah, mereka kita ajak, kita ajari bagaimana membuat mainan dari barang-barang bekas di sekitar mereka.”

Barang-barang bekas itu diubah jadi bahan baku untuk membangun mainan. Barang yang dianggap tak berguna seperti botol susu, ballpoint, sikat gigi, sendok plastik, mouse, keyboard rusak, di tangan anak-anak bisa jadi mainan apapun yang mereka mau.

Scratch building tidak harus barang bekas, tapi saya memanfaatkan dari barang bekas. Saya pernah bikin workshop, peserta anak-anak dan dewasa. Ternyata yang anak-anak hasil karyanya tidak kalah dengan buatan orang dewasa. Daya imajinasi anak luar biasa. Sejak itu saya sering membuat workshop untuk anak-anak. Hampir setiap minggu mengisi workshop di berbagai kota,” katanya.

Dengan cara itu, Bibit, panggilan akrabnya berharap bisa menanamkan perilaku reuse, reduce, recycle kepada anak-anak.

“Sekarang mereka tidak melihat itu sebagai sampah, tetapi bahan baku. Jadi mereka tidak akan membuang itu. Saat mereka membeli sesuatu mereka tidak membuang wadahnya, imajinasi mereka akan tumbuh jadikan bahan baku itu jadi apa.”

Kadang mereka sampai kekurangan barang dan minta bahan baku ke temannya. Menurut dia, hal ini bagus karena nilai barang bekas jadi naik hingga tidak berakhir ke tempat sampah begitu saja.

“Di kelas, mereka tak sekadar membuat pesawat, tapi mengarah ke pesawat apa. Roketnya harus seperti apa, mesin bagaimana. Di luar negeri orang-orang dewasa menyukai ini. Di Indonesia, kita kembangkan mulai anak-anak,” katanya.

“Kalau di Malaysia minimal 12 tahun. Kita 8 tahun tidak apa-apa, mereka sudah bisa mengoperasikan lem tembak. Untuk memotong menggunakan pisau atau gunting kita dampingi.”

Ketertarikan Bibit kepada scratch building gara-gara saat kecil dia hampir tidak pernah dibelikan mainan. Akhirnya, dia cari akal untuk bisa memiliki mainan.

“Sejak itu saya berpikir untuk membuat mainan sendiri, dengan cara sendiri dari barang bekas. Hanya saat itu belum ada lem tembak. Barang bekas yang saya temukan lalu dirangkai dengan berbagai cara. Saya pernah merangkai penyangga obat nyamuk menjadi robot. Sampai dibeli sama teman, SD. Hobi itu berlanjut sampai dewasa.”

Dia yakin, kalau anak kenal dengan hobi yang menantang kreativitas dan disukai anak, maka «mereka akan meneruskan kegemaran itu hingga dewasa.

Bibit memulai dengan workshop di berbagai kota. Setiap pekan selalu ada jadwal memberikan pelatihan scratch building. Kebanyakann dari mereka adalah untuk anak-anak.

“Saya ingin ini sampai ke perlombaan. Tapi saya ingin ini dikenal dulu. Ini bisa jadi alternatif hobi baru bagi anak-anak.”

Dalam setiap workshop, Bibit meminta mereka membawa barang bekas yang akan jadi bahan baku model. Selanjutnya, dalam waktu tiga jam mereka diberi kebebasan membangun model sesuai materi.

Hasil karya yang baik dinilai berdasarkan kemiripan dengan rancangan, kerumitan, hingga kreativitas peserta, misal, membuat pesawat tempur, detil merujuk ke pesawat tempur harus muncul.

Keseriusan Bibit  mengembangkan scratch building di Indonesia sampai bikin kurikulum pelatihan. Kelas workshop terbagi menjadi tiga, untuk pemula, reguler, dan lanjut.

“Memang yang beginner lebih sederhana. Ini dimulai dari mereka. Untuk kelas reguler, kita juga ajari membuat efek cat berkarat memakai garam. Saya ingin nanti lebih tinggi dari ini.”

Hingga kini, dia sudah membuat empat materi berkurikulum, mulai model mecha atau robot, pesawat, bangunan, hingga diorama.

Dia contohkan, pesawat, tentang jenis, seperti drone, tempur, penghancur, penumpang, penjelajah. “Struktur juga beda. Diharapkan peserta tidak asal nempel. Mereka diajak mikir ini buat apa. Contoh sendok bisa untuk bagian sayap. Botol kecil untuk turbin.”

Selain mengajarkan bagaimana merangkai bahan bekas jadi bentuk baru, Bibit selalu menyisipkan bahaya pengelolaan sampah tak tepat. Dengan menyajikan data dan fakta terkait sampah dalam bahasa sederhana, termasuk memanfaatkan banyak gambar, dia berharap anak-anak mudah menangkap pesan untuk menjaga lingkungan.

“Kalau di luar, setahu saya tidak ada kurikulumnya. Saya mencoba membuat sendiri, sekaligus jadi instruktur. Kalau ada perlombaan, nanti akan ada nama, nama project, misal pesawat tempur. Kelengkapan pesawat tempur apa saja, ini ada dalam buku panduan yang saya susun,” ucap Bibit.

Perubahan kesadaran dan sikap terhadap sampah setidaknya dialami Jehu, anak berusia hampir 10 tahun, kini asisten Bibit. Dia belajar scratch building sejak 2016. Kini, Jehu jarang beli mainan dan lebih suka membuat sendiri dari barang bekas.

“Kalau ada barang bekas di jalan itu aku ambilin, nggak dimarahin mama, malah didukung. Kalau makan puding sendok plastik, cup plastik, aku kumpulin. Cita-citaku ingin jadi scratch builder. Mau bikin diorama yang susah,” katanya.

Menginspirasi

Workshop pemanfaatan barang bekas untuk jadi mainan baru ini mendapat dukungan Akar Embun, organisasi nirlaba yang peduli pada pemberdayaan masyarakat bidang lingkungan dan pendidikan.

“Salah satu misi Akar Embun itu bagaimana mengelola sampah. Mas Sillo sahabat saya, suatu ketika kami ketemu lalu bekerja sama. Akar Embun ingin menginspirasi siapapun, dengan melibatkan banyak orang dan komunitas,” kata Alfa Ghasani, salah satu pendiri Akar Embun.

Oleh Akar Embun, scratch building yang memanfaatkan barang bekas ini jadi sarana mengkampanyekan zero waste.

Zero waste adalah gerakan mendorong perilaku pemanfaatan sumberdaya dalam siklus tertutup hingga semua produk bisa bermanfaat lagi. Tidak ada sampah dari proses itu yang berakhir di tempat sampah.

“Mungkin orang melihat ini remeh temeh. Sebenarnya sangat penting, bagaimana anak-anak di sini belajar mengembangkan kreativitas sekaligus menyelamatkan lingkungan dengan cara yang menyenangkan. Sederhana tapi efektif untuk mengurangi permasalahan sampah, antara lain sampah plastik.”

Dia berharap, workshop ini makin meluas, dengan begitu makin banyak anak-anak kenal pemanfaatan barang bekas. Sejumlah rencana pun disiapkan agar kegiatan berdampak besar dan berkelanjutan.

“Kami ingin mendorong orang memanfaatkan sampah dengan cara apapun. Nanti, setelah ini kita coba bikin pameran, kompetisi, menjualnya. Tapi mereka yang membeli harus dengan sampah. Dari sampah kembali memberikan solusi untuk sampah.”

sumber: mongabay.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s