Indonesia dan Denmark Lanjutkan Kerja Sama Energi Terbarukan

Indonesia dan Denmark Lanjutkan Kerja Sama Energi Terbarukan

Bisnis.com, JAKARTA – Indonesia dan Denmark akan melanjutkan kerja sama di bidang energi baru terbarukan (EBT) untuk mendorong pengembangannya di Tanah Air.

Sebelumnya, Indonesia dan Denmark telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman pada 2015 terkait kerja sama di bidang energi yang meliputi percontohan energi, integrasi energi terbarukan, dan efisiensi energi.

Denmark juga telah mendukung Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di empat provinsi, yakni Sulawesi Utara, Gorontalo, Kalimantan Selatan, dan Riau.

Hasil analisis dan rekomendasi Denmark untuk Sulawesi Utara dan Gorontalo, yakni masing-masing dapat mengembangkan energi terbarukan dari hidro dan matahari. Jika keduanya mengembangkan energi hidro dan matahari serta menggunakan gas alam untuk menggantikan batu bara, maka kedua provinsi dapat mengurangi emisi gas rumah kaca kurang lebih 50% pada 2030.

Kalimantan Selatan direkomendasikan untuk mengembangkan energi angin, matahari, dan natural gas combined cycles dalam menggantikan batu bara. Apabila pada 2020 provinsi ini berhasil mengembangkan EBT hingga 34% untuk pasokan listrik, maka emisi gas rumah kaca dapat berkurang hingga 48% pada 2030.

Adapun Riau dan Sumatra Selatan direkomendasikan memanfaatkan energi angin dan matahari. Kedua energi tersebut dianggap kompetitif apabila mendapatkan skema pembiayaan yang baik.

Jika bauran EBT dapat mencapai 2/3 pasokan listrik Riau pada 2030 sesuai Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PT PLN (Persero), maka akan terjadi penghematan pembiayaan infrastruktur listrik senilai Rp13 miliar.

Menteri ESDM Arifin Tasrif mengatakan kajian dari Denmark tersebut akan diimplementasikan oleh pemerintah Indonesia. Apalagi, Denmark memiliki pengetahuan dan teknologi mengenai EBT yang dapat membuat pemanfaatannya sangat efisien. Hal tersebut yang selanjutnya akan dicontoh oleh Indonesia.

Denmark dinilai telah sukses mengembangkan energi terbarukan karena pada 2018 kontribusi EBT-nya mencapai 41% dari total produksi listrik negara tersebut. Meskipun Indonesia telah memiliki pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) Sidrap dan Jeneponto, tetapi masih perlu upaya ekstra untuk mencapai target EBT 23% pada 2025.

“Indonesia mempunyai sumber daya yang lebih banyak. Kami tadi sampaikan Indonesia memiliki biomassa, biofuel, solar, dengan area yang luas yang memang kalau dimanfaatkan itu sebagiannya akan cukup menyuplai energi yang dibutuhkan dalam jangka panjang,” katanya, Kamis (5/12/2019).

Minister of Development of Cooperation of Denmark Rasmus Prehn mengatakan empat provinsi yang telah dikaji memiliki potensial yang cukup besar dalam mengembangkan EBT. Keempat wilayah tersebut akan menjadi percontohan untuk wilayah Indonesia lainnya.

Apabila keempat provinsi tersebut mengembangkan EBT sesuai kajian Denmark, akan memberikan solusi efisiensi biaya untuk pengembangan energi hijau di Indonesia. Potensi penghematan keuangan Indonesia jika kajian tersebut diimplementasikan, yakni senilai US$2 miliar selama 2019 hingga 2030.

“Kami yakin telah memilih wilayah yang tepat sehingga kami punya kesempatan untuk meningkatkannya di wilayah Indonesia lainnya,” katanya.

sumber: bisnis.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s