3 Anak Muda Indonesia Bicara soal Perubahan Iklim di COP25

Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC-COP) di Madrid. (Foto: Mei Amelia/detikcom)

Madrid –

Tiga anak muda Indonesia bicara soal isu perubahan iklim pada ajang Konferensi Perubahan Iklim (UNFCCC-COP) di Madrid. Ketiganya menyampaikan harapannya pada negara-negara delegasi untuk memberikan solusi nyata dalam mengatasi perubahan iklim.

Ketiga anak bangsa itu adalah Laetania Belai Djandam (18), Adinda Saraswati (17) dan Ramadhan Subakti (22). Ketiganya menjadi panelis pada diskusi bertema ‘Engaging Women and Youth Community in Climate Change Actions’ di Paviliun Indonesia pada ajang COP25 di Feria de Madrid, Madrid, Spanyol, Kamis (12/12/2019).

Belai, panggilan akrab Laetania Belai Djandam merasa prihatin karena perhatian masyarakat akan perubahan iklim sangat kurang. Di sisi lain, dia juga menyayangkan isu perubahan iklim tidak menjadi isu arus utama di Indonesia.

“Menurut saya perubahan iklim merupakan isu yang belum mendapatkan sorotan, karena di Indonesia sendiri, isu perubahan iklim kurang dipedulikan,” kata Belai.

Laetina Belai.

Gadis bersuku Dayak ini menyebut bahwa yang terjadi saat ini bukan lagi perubahan iklim, tetapi sudah menjadi krisis iklim. “Hal itu sudah jelas terjadi dan berdampak kepada kehidupan kita sehari-hari,” ujar mahasiswa Universitas Diponegoro ini.

Remaja yang aktif di organisasi Climate Strike ini pun mengajak para pemuda-pemudi untuk bergerak melakukan perubahan menyelamatkan bumi.

“Para pemuda-pemudi harus bergerak untuk melawan krisis iklim ini, karena kita sudah nggak ada waktu lagi,” kata Belai yang akan melanjutkan studinya di University of Sheffield, Inggris.

Sementara menurut Adinda, perubahan iklim adalah hal yang paling mudah dipahami, tetapi sulit untuk dicari solusinya.

“Climate change itu merupakan masalah yang paling gampang kita percayai karena impact-nya di sekitar kita dan paling mudah untuk kita pahami, tetapi paling susah untuk kita bersatu dan mencari solusi,” kata Adinda.

Ananda Saraswati.

Putri dari politisi Akbar Faisal ini menyebut, perempuan dan anak perlu diedukasi agar berperan aktif dalam mengatasi masalah perubahan iklim.

“Perempuan adalah jembatan yang akan memimpin anak-anak supaya mereka bisa menjadi lebih responsible, mereka bisa menjadi generasi yang hidup lebih baik daripada manusia zaman sekarang,” kata remaja yang masih bersekolah di ACS Cikeas ini.

Menurutnya, anak muda seusianya, terutama perempuan harus bisa menjadi pemimpin dalam perubahan. Menurutnya lagi, anak-anak muda bisa melakukan hal yang lebih berguna daripada hanya mengidolakan bintang K-Pop.

“Perempuan ini, kalau di Indonesia, seumuran saya ini terinspirasi oleh industri entertainment seperti K-Pop. I’m not blaming K-Pop, but sebenarnya kita bisa menggunakan resources kita untuk sesuatu yang jauh lebih berguna untuk kita,” tutur remaja yang sudah aktif mengikuti konferensi perubahan iklim sejak COP25 di Polandia ini.

Ramadhan

Sementara Ramadhan mengatakan, memperbaiki iklim adalah dengan memulai dari diri sendiri, melakukan perubahan dari hal-hal terkecil

“Kunci perubahan iklim dari perilaku kita sehari-hari. Mulai dari hal-hal terkecil seperti jangan buang sampah sembarangan,” kata mahasiswa Universitas Presiden ini.

sumber: detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s