Usai Turun Hujan di Wilayah Karhutla, Kualitas Udara Mulai Membaik

Dirjen Penegakan Hukum Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Rasio Ridho Sani mengungkapkan, terhitung sejak 2015, pemerintah menggugat perdata 17 perusahaan terkait karhutla dan sembilan di antaranya sudah inkracht atau berkekuatan hukum tetap. Nilai gugatan dan ganti rugi mencapai Rp3,9 triliun.

Namun, hingga kini, pemerintah baru menerima Rp79 miliar dari kompensasi yang harus dibayarkan perusahaan akibat karhutla di lahan mereka.

KOMPAS.com – Hujan dengan intensitas ringan hingga lebat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) cukup membantu menurunkan jumlah titik panas dan konsentrasi debu polutan.

Data dari Bidang Klimatologi BMKG menyebutkan bahwa Jambi dan Riau sudah mendapatkan 1-5 hari hujan. Sementara Kalimantan Barat dan Tengah baru turun hujan dalam beberapa hari terakhir.

Kemarin, Sabtu (28/9/2019), Stasiun BMKG Jambi mencatat curah hujan 11 mm/hari. Sedangkan di Stasiun Juwata, Kalimantan, hujan tercatat 19 mm/hari.

Di Jawa, beberapa wilayah yang selama ini dilanda kekeringan juga sudah merasakan hujan seperti di Semarang dan daerah selatan Jawa Barat. Meskipun belum secara iklim dikatakan memasuki awal musim hujan.

Hujan diakibatkan oleh faktor alam dan buatan. Faktor alam karena bertambahnya suplai massa uap air dan kelembapan udara menuju masa transisi musim. Faktor buatan karena kegiatan penyemaian awan, atau istilah teknisnya modifikasi cuaca hujan buatan.

Dalam hal kegiatan hujan buatan tersebut, BMKG menyediakan data dan informasi kondisi cuaca yang digunakan sebagai dasar dan syarat penyemaian awan dengan inti kondensasi berupa garam dari pesawat.

Berdasarkan informasi terkini kondisi atmosfer dan prediksi potensi lokasi tumbuhnya awan hujan, Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT telah melaksanakan penyemaian awan di Riau. Kemudian berlanjut di beberapa wilayah lain seperti Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.

Hasil monitoring jumlah hotspot di Sumatera dan Kalimantan selama dilaksanakan Teknologi Modifikasi Cuaca, jumlah hotspot menurun drastis jika sehari sebelumnya terjadi hujan dengan skala luas.

Artinya, hujan adalah solusi paling efektif dalam mengurangi bencana kebakaran hutan.

Demi mendukung Teknologi Modifikasi Cuaca, BMKG juga terus mengembangkan produk informasi baru. Produk terbaru yang dibuat BMKG berkaitan dengan hal tersebut adalah “Peta Potensi Pertumbuhan Awan Hujan”.

Peta tersebut menggambarkan sebaran daerah potensi pertumbuhan awan hujan dalam bentuk prosentase yang terbagi menjadi 2 kategori, yaitu potensi tinggi (>70 persen) dan potensi sedang (50-70 persen).

Turunnya hujan juga berimbas pada meningkatnya kualitas udara. Hujan yang turun secara teori akan meluruhkan konsentrasi debu polutan yang mengapung di atmosfer, atau disebut proses rain washing.

Saat setelah turun hujan, konsentrasi debu polutan berukuran kurang dari 10 mikron (PM10) dapat turun secara drastis hingga 6-8 kali lipat. Akibat kejadian karhutla, konsentrasi paling timggi PM10 dapat mencapai lebih dari 500 ug/m3 pada jam-jam tertentu.

Saat ini secara umum, konsentrasi PM10 berada pada level 50 – 100 ug/m3 terukur di Sampit, Pekanbaru dan Palangkaraya, kategori sedang. Bahkan di Jambi dan Pontianak, kualitas udara saat ini dikategorikan baik pada konsentrasi kurang dari 50 ug/m3.

sumber: kompas.com

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s