Bikin Hujan Buatan, BPPT Pakai Garam dan Senyawa CaO

Penaburan garam dari cerobong pesawat saat membuat hujan buatan di langit Dumai, Riau, (1/7). Penyemaian garam ke awan terus dilakukan untuk membuat hujan di Riau mengingat masih ditemukan beberapa titik api dalam kebakaran lahan gambut. TEMPO/Wisnu Agung Prasetyo

TEMPO.COJakarta – Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi atau BPPT menggunakan beberapa bahan untuk menurunkan hujan buatan untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

“Yang biasanya menggunakan garam untuk modifikasi cuaca, BPPT juga pakai senyawa CaO dari kapur Tohor,” ujar Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca BPPT Tri Handoko Seto, 24  September lalu.

Dengan teknologi modifikasi cuaca tersebut, BPPT sudah menurunkan hujan hingga puluhan juta meter kubik di wilayah karhutla. BPPT menggunakan dua jenis pesawat untuk pemadaman karhutla, Casa C-212-200 dan CN-295, masing-masing dua, dan direncanakan akan ditambahkan.

Proses modifikasi cuaca dilakukan setiap hari, dari pagi sampai dengan sore, untuk memberikan perlakuan terhadap awan agar hujan turun. “Kami akan menambahkan satu pesawat lagi, Hercules C-130. Sampai dengan sekarang beberapa lokasi karhutla berhasil dipadamkan,” kata Seto.

Di Kalimantan, Seto melanjutkan, memiliki posko di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, selain di daerah kerja, juga ada di Kalimantan Selatan. Akhirnya Kalimantan bisa hujan secara signifkan besarnya 70 juta meter kubik. Sementara, di Palangkaraya juga sudah terjadi hujan walau pun belum sebanyak dan semerata di Kalbar.

Sedang di Kalimantan Tengah terhitung mulai Jumat, pekan lalu sudah terjadi hujan signifikan, sampai hari ini Kalimantan Tengah hujannya baru 15 juta meter kubik. Menurut Seto, hujan di Kalteng masih belum mampu meredam kepekatan asap secara seginifikan.

“Sementara di Sumatera, terdapat dua posko, di Riau dan Sumatera Selatan, Palembang. Keduanya mengcover, selain di Riau dan Palembang, termasuk Jambi dan Sumba diperbatasan Riau. Untuk Riau saat ini sudah hujan cukup banyak, lebih sedikit dari Kalimantan Barat tapi lebih banyak dari Palangkaraya, sekitar 30 juta meter kubik,” tutur Seto.

Beberapa hari terakhir, di Jambi juga hujan termasuk Palembang. Ke depan, BPPT memperkirakan di Sumatera sampai akhir bulan akan terjadi pengurangan kepekatan asap yang signifikan. Ditambah dengan Smsejak Jumat pekan lalu, sudah banyak dijumpai potensi awan di kedua wilayah tersebut.

 

sumber: tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s