Suhu Lautan dan Daratan Memanas

JAKARTA, KOMPAS — Suhu permukaan laut dan daratan di sebagian besar dunia diperkirakan di atas normal pada September-November 2019, padahal tidak sedang terjadi El Nino. Peningkatan temperatur itu mengindikasikan pemanasan global dan berdampak pada meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi.

El Nino dan Southern Oscillation (ENSO) merupakan fenomena memanasnya suhu permukaan laut di Pasifik bagian tengah dan timur khatulistiwa. Fenomena itu biasanya berkaitan dengan meningkatnya ancaman bencana alam, seperti hujan lebat, banjir di wilayah Amerika Selatan, dan kekeringan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Berdasarkan data ENSO triwulanan yang dirilis oleh Badan Meteorologi Dunia atau World Meteorological Organization (WMO) pada Selasa (3/9/2019), suhu permukaan laut di Pasifik secara umum berada di ambang batas ke tingkat El Nino lemah sejak Oktober 2018. Namun, kondisi ini kembali ke tingkat netral pada bulan Juli. Indikator atmosfer juga beralih ke netral.

”Juli 2019 adalah bulan terpanas dalam catatan, dengan gelombang panas dan cuaca ekstrem lainnya, bahkan tanpa peristiwa El Nino yang kuat,” kata Maxx Dilley, Direktur Bidang Adaptasi dan Prediksi Iklim WMO. Beberapa rekaman badan meteorologi di sejumlah negara di Eropa menunjukka anomali suhu di bulan Juli tercatat 2 derajat celsius di atas normal.

”Sinyal dari perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia sekarang telah menjadi lebih kuat,” kata Dilley.

El Nino biasanya memiliki pengaruh pemanasan pada suhu global, sementara La Nino memiliki efek sebaliknya. Akan tetapi, ketika saat ini ENSO dalam kondisi netral, temperatur ternyata lebih hangat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

Dilley mengatakan, kondisi itu disebabkan suhu udara dan permukaan laut meningkat akibat terjadi perubahan iklim. Dengan lebih dari 90 persen energi yang terperangkap oleh gas rumah kaca masuk ke lautan, kandungan panas lautan mencapai tingkat rekor baru pada 2018.

Menurut perkiraan WMO, suhu permukaan laut diprediksi akan di atas rata-rata untuk sisa 2019 hingga awal 2020.  Kondisi curah hujan mendekati rata-rata diperkirakan bakal terjadi di Pasifik khatulistiwa tengah dan timur, sedangkan curah hujan di atas normal terjadi di Pasifik barat dan Samudra Hindia barat daya meluas ke Afrika khatulistiwa.

Daerah yang diperkirakan mendapatkan curah hujan di bawah normal selama tiga bulan mendatang termasuk Afrika bagian selatan dan barat, Oseania dan Australia, serta Karibia dan Amerika Selatan bagian timur laut. Ada kemungkinan kondisi lebih basah daripada kondisi normal di Tanduk Afrika.

Kepala Subbidang Informasi Iklim dan Kualitas Udara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Siswanto mengatakan, pemanasan global telah menaikkan temperatur rata-rata dari tahun ke tahun. Kondisi itu akan menyebabkan variabilitas iklim antartahunan El Nino atau La Nina akan berfluktuasi mengikuti tren kenaikan temperatur global tersebut.

Sejalan dengan data global, rekam data BMKG menunjukkan suhu di Indonesia rata-rata lebih tinggi ketimbang rata-rata tahunan. Contohnya, selama Juni lalu, suhu di Indonesia lebih tinggi 1,25 derajat celsius daripada periode 1981-2010. Itu terpantau di Jakarta, Sumatera, sebagian besar Kalimantan, dan Sulawesi.

”Indonesia juga akan terpengaruh perubahan ini,” kata Siswanto. Meskipun terjadi anomali suhu di bawah normal di beberapa daerah di Indonesia pada puncak musim kemarau kemarin, temponya singkat. Sementara analisis kenaikan suhu dari rata-rata tahunannya terus naik.

”Proyeksi masa depan mengindikasikan tren kenaikan suhu global terus naik dan memiliki konsekuensi terhadap peningkatan siklus hidrologi. Daerah yang basah cenderung lebih basah dan yang kering semakin kering,” katanya.

Kebakaran lahan

Selain itu, WMO memperingatkan, kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah, mulai dari Amazon, Siberia yang merupakan bagian dari Antartika, Greenland dan Alaska, hingga Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan berdampak pada kondisi amosfer.

Selain dampak langsung kepada penduduk di sekitarnya, kebakaran hutan juga mengeluarkan polusi, meliputi partikel berbahaya dan gas toksik, seperti karbon monoksida dan nitrogen oksida, ke atmosfer.

The European Union’s Copernicus Atmosphere Monitoring System (CAMS) melaporkan, sebanyak 255 megaton karbon dioksida telah terlepas ke atmosfer dalam periode 1 sampai 25 Agustus. ”Setiap hari sejak 9 Juni total radiasi dari kebakaran hutan di wilayah Antartika berada di atas rata-rata dibandingkan 15 tahun terakhir. Ini membuat musim panas 2019 menjadi musim api yang luar biasa untuk area ini,” tutur ilmuwan ECMWF Mark Parrington.

Partikel dan gas dari pembakaran biomassa hutan dapat dibawa hingga jarak jauh. Contohnya, gumpalan asap dari wilayah Amazon telah menimbulkan kabut asap ke Sao Paulo, lebih dari 2.500 km dari sumbernya. Bahkan, menurut CAMS, asap menyebar hingga ke pantai Atlantik.

sumber: kompas.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s