Garda Pangan: Kawal Makanan Sebelum Berakhir di Tempat Sampah

Garda Pangan: Kawal Makanan Sebelum Berakhir di Tempat Sampah

Bagaimana rasanya lihat makanan pada gambar di atas? Ikut terasa lapar?

Tak sedikit orang yang langsung dihinggapi rasa lapar dan langsung menuruti keinginan sesaat itu dengan membeli apapun yang menggugah selera makannya. Tak sedikit pula yang sadar bahwa ternyata saat itu tidak sedang lapar dan makanan yang terbeli jadi tidak termakan.

Berarti yang tadi itu karena perut yang lapar atau hanya lapar mata saja? Lalu bagaimana kalau ada makanan yang tidak termakan, dibuang ke tempat sampah?

Nah, kalau sudah sering merasakan kejadian seperti itu, saatnya kita mengenal ‘pengawal makanan’ yang satu ini: Garda Pangan. Yup! Garda Pangan hadir untuk mencegah makanan-makanan yang tak dihabiskan itu sebelum berakhir di tempat sampah.

Sebenarnya tak hanya sering terjadi karena lapar mata, isu sampah makanan (food waste) ini juga banyak terjadi setelah acara-acara besar yang memesan menu dalam jumlah banyak. Inilah yang sering dirasakan Dedhy Trunoyudho dan Indah Audivtia, pasangan suami-istri yang juga pelaku bisnis katering dan merasakan langsung banyaknya makanan sisa yang akan terbuang pasca acara.

Oleh karena itu, bersama Eva Bachtiar, Dedhy dan Indah mendirikan Garda Pangan yang berfokus pada isu food waste yang sudah digodok sejak September 2016 dan mulai aktif berjalan sejak Juni 2017.

Eva (paling kiri), Dedhy (paling kanan) bersama beberapa relawan dan pengurus Garda Pangan | Foto: Dok. Garda Pangan

Food Waste Bukan Masalah Sepele, Apalagi di Indonesia

Foto: foodmanufacture.co.uk

Isu food waste di Indonesia termasuk salah satu permasalahan yang besar. Terbukti pada sebuah penelitian dari Economist Intelligence Unit, Indonesia menjadi negara terbesar kedua di dunia dalam hal pembuangan sampah makanan pada 2017, dimana satu orang bisa membuang hampir 300 kilogram makanan tiap tahunnya. Ironisnya, ada 19,4 juta rakyat Indonesia juga yang masih kelaparan dan berjuang untuk makan setiap hari.

Dari kacamata ketiga pengagas Garda Pangan sendiri, food waste juga memiliki tiga dampak. Dari segi ekonomi, food waste bukan hanya persoalan makanan yang terbuang saja. Melainkan juga seluruh sumber daya yang digunakan untuk memproduksi makanan tersebut, seperti lahan, listrik, bahan bakar, tenaga, dan lain-lain.

Dampak pada lingkungan juga bahaya. Sampah makanan yang tertumpuk di landfill dapat mengeluarkan gas metana yang 23 kali lebih berbahaya dibanding karbon dioksida dan juga merupakan salah satu penyumbang emisi rumah kaca.

Peduli food waste! | Foto: Dok. Garda Pangan

Selain segi ekonomi dan lingkungan, tentunya food waste juga berdampak pada segi sosial. “Menurut kami sebuah ironi ada makanan terbuang dalam jumlah sangat banyak, sementara masih banyak juga masyarakat yang kelaparan,” jelas Eva.

Konsep Food Bank Gerakan Garda Pangan

Tak hanya berangkat dari kesadaran akan isu food waste, Eva sendiri juga tergerak karena dari dulu sudah bercita-cita mendirikan food bank.

“Saya percaya setiap kota (khususnya kota besar) harus punya food bank untuk mengakomodasi gaya hidup masyarakat urban sekaligus kantong-kantong kemiskinan di kota,” ujar wanita yang juga berprofesi sebagai Market Development Consultant ini.Garda Pangan terinspirasi sistem food bank dari luar negeri | Foto: Dok. Garda Pangan

Konsep food bank ini diakuinya terinspirasi dari luar negeri. Meskipun begitu, food bankdari luar negeri tidak bisa langsung diterapkan di Indonesia mengingat karakter dari negaranya saja sudah berbeda.

Bila di luar negeri orang lebih banyak mengonsumsi makanan kaleng siap saji yang penyimpanannya relatif lebih mudah, orang-orang Indonesia punya budaya “makan nasi” sehingga cenderung banyak menangani makanan basah yang jangka waktu distribusinya jauh lebih singkat.

Namun, hal yang ingin dicontoh Eva adalah manajemen food bank di luar negeri yang sangat terstruktur dan rapi, infrastruktur penunjang berupa gudang storage dan armada yang mumpuni, hingga hampir seluruh masyarakat mau bergantian menjadi volunteer.

“Konsep inilah yang sedang in progress kami godok, supaya nanti semua orang bisa berpartisipasi menjadi volunteer harian,” tambahnya.

Di Indonesia sendiri, menurut Eva istilah food bank ini masih asing dikarenakan konsepnya yang cukup baru. Hal ini membuat Garda Pangan mengalami beberapa kendala, salah satunya adalah mereka harus mengeluarkan usaha ekstra untuk memperkenalkan diri kepada bisnis dan usaha makanan.

Selain itu, infrastruktur pendukung operasional serta manajemen relawan untuk menyebar kebermanfaatan lewat gerakan food bank ini juga masih menjadi kendala di lapangan.

Bukan Untung Finansial, Melainkan Kebermanfaatan Itulah yang Membawa Kebahagiaan dan Keberlanjutan Garda Pangan

“Reaksi warga-warga penerima makanan sangat priceless buat kami dan memberikan kepuasan batin tersendiri,” ucap Eva mengungkap alasan Garda Pangan bisa terus konsisten berjalan menjemput makanan setiap hari dan menyalurkannya kepada warga yang membutuhkan walaupun harus menghadapi kendala-kendala di atas.

Hal ini senada dengan yang dirasakan oleh anggota Garda Pangan lain, yaitu Sofin, Ozon, dan Fuad.

“Ketika memberi makanan ke orang yang membutuhkan terus orangnya bilang terima kasih, tuh seneng banget meskipun kita sendiri nggak ikut buat, nggak ikut makan, dan hanya deliver ke mereka,” tambah Ozon.

Respon positif itu jugalah yang baru diterima ketiganya setelah mengantarkan kue berlebih untuk memeriahkan acara Laskar 5.0 Edisi Ramadhan pada Senin (28/5) yang diadakan Taman Baca Masyarakat (TBM) Semampir.Acara bersama TBM Semampir

Sebelumnya, Sofin dan Fuad melakukan food rescue di daerah Biliton, Surabaya. Istilah tersebut merujuk pada kegiatan rutin harian Garda Pangan untuk mengumpulkan makanan berlebih lalu didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Dalam kegiatan ini, pemilihan makanan berlebih dilakukan dengan memperhatikan kualitas, baik itu sebelum diterima, dikemas, hingga saat perjalanan menuju lokasi penerima makanan.

Handling-nya pun kita nggak boleh tangan kosong, minimal harus pakai sarung tangan. Terus waktu distribusi juga dijaga supaya nggak kena kotor-kotor,” timpal Sofin.

Dalam melakukan food rescue, Garda Pangan tetap jaga kualitas makanan | Foto: Dok. Garda Pangan

Selain food rescue, ada juga food drive yang membuka dapur umum saat ada perayaan besar. Gleaning juga menjadi salah satu kegiatan Garda Pangan. Kegiatan ini bertujuan mengumpulkan buah atau sayuran yang terbuang karena tidak memenuhi “standar penampilan” yang diinginkan pasar. Mereka menyebut ini dengan ugly produce.

“Padahal itu belum tentu berpengaruh sama vitamin di dalamnya, bahkan rasa,” jelas Ozon.

Kampanye ugly fruit | Foto: Dok. Garda Pangan

Namun tak hanya mengambil dan mengantar makanan saja, Garda Pangan juga berusaha untuk mengedukasi warga Surabaya tentang food waste. Kegiatan ini biasanya dilakukan di car free day (CFD) Taman Bungkul. Di sini, mereka juga kerap membagikan olahan dari ugly produce kepada masyarakat.

Layaknya Sebuah Bank, Garda Pangan Juga Punya Nasabah

Mereka adalah 3 restoran, 1 pasar organik, 1 katering, 4 festival makanan, 2 toko kue dan roti, serta 1 distributor buah-buahan. Dari para nasabahnya itu, hingga April 2018 Garda Pangan berhasil mengumpulkan donasi sebanyak 24.499 porsi makanan yang disebarkan kepada 21.082 penerima. Jika dikonversi lagi, porsi makanan itu berubah menjadi 3,6 ton potensi makanan yang terbuang.

Terbayang tidak banyaknya food waste yang kadang tidak sengaja kita lakukan sehari-hari ini? | Sumber: Dok. Garda Pangan

Untuk menjaga relasi dan kepercayaan para nasabah atau mitranya ini, Garda Pangan memberikan laporan bulanan kepada mitra usaha makanan di media sosial. Laporan bulanan juga dilakukan untuk membangun reputasi agar Garda Pangan semakin dipercaya dan didukung oleh banyak orang.

Selain masalah laporan bulanan, Garda Pangan juga terus mengembangkan organisasi seperti mengurus legalitas yayasan, bekerja sama dengan komunitas lintas bidang di Surabaya, hingga tanggap isu-isu bencana di sekitar. Seperti yang dilakukan baru-baru ini, Garda Pangan membantu recovery atas kejadian pengeboman di Surabaya pada Minggu (13/5) lalu.

Gerakan Garda Pangan yang murni swadaya ini berharap lebih banyak lagi pihak-pihak yang terlibat.

Tak bisa dipungkiri, menggerakkan diri untuk menjalankan food rescue tidak mudah, butuh komitmen yang luar biasa. Namun demi terwujudnya Indonesia bebas sampah makanan, Garda Pangan beserta 60 food heroes−sebutan untuk relawannya−terus bisa bergerak selama ini.

Kawan GNFI juga bisa, loh menjadi donatur individu atau eventual selepas acara seperti pernikahan, seminar, acara keagamaan, pesta, atau acara-acara besar lainnya yang memiliki kelebihan makanan minimal 20 porsi agar bisa dijemput langsung oleh si pengawal makanan ini. Atau setidaknya Kawan GNFI harus memiliki kesadaran akan food waste sehingga tidak menyia-nyiakan makanan yang ada.

Yuk kurangi food waste di Indonesia! Selamat Hari Lingkungan Hidup Sedunia!

Sumber: http://www.goodnewsfromindonesia.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s