Tanda-tanda Bahwa Bumi Kita Berada Di Ambang Kepunahan

A skeleton of a fish lies forgotten on the dry bed of Lake Peñuelas outside Santiago, Chile.

Seperti yang kita tahu, bumi kita ini sedang rusak karena berbagai sebab seperti pembakaran hutan yang dilakukan manusia. Tentunya hal ini sangatlah merugikan bagi lingkungan.

Tentunya hal tersebut disebabkan oleh manusia. Bahkan ada laporan yang menunjukkan bahwa tingkat kepunahan saat ini sudah mencapai 1000 kali dibandingkan dengan zaman dimana belum ada manusia.

Bahkan ada laporan yang mengatakan bahwa ada 1 juta spesies tumbuhan dan hewan yang sedang mengahadapi ancaman kepunahan karena aktivitas manusia. Berikut ini adalah tanda-tanda bumi akan hancur.

Banyaknya Serangga yang mati. Menurut penelitian, 40% spesies serangga di dunia sedang mengalami penurunan 

Menurut studi yang dibuat pada tahun 2019, ditemukan bahwa populasi serangga dunia menurun 2,5% setiap tahunnya. Jika hal itu terus berlanjut, bumi tidak akan memiliki serangga lagi pada tahun 2119.

Bahhkan salah satu penulis laporan penelitian, Fransisco Sanchez Bayo mengatakan kepada The Guardian bahwa mungkin dalam waktu 100 tahun bumi sudah tidak memiliki serangga lagi.

Hal itu tentunya menjadi masalah besar karena serangga menjadi sumber makanan bagi banyak spesies dan beberapa juga memiliki peran penting dalam produksi tumbuhan 

Studi terbaru lain yang diterbitkan oleh Nature Communications mengatakan bahwa sepertiga dari 353 spesies lebah liar dan hoverfly di Inggris mengalami penurunan di antara tahun 1980-2013.

Para penulis penelitian mencatat bahwa rentang geografis lebah liar dan hoverfly berkurang sekitar 25%. Itu berarti ada 11 spesies yang berkurang di setiap kilometer perseginya. Penyebabnya adalah pengurangan habitat.

Laporan PBB baru-baru ini menunjukkan bahwa proyeksi penurunan jumlah lebah liar dan penyerbuk lainnya menempatkan risiko sebesar $577 miliar dalam produksi tahunan tanaman.

Tidak hanya serangga, 500 spesies amfibi di seluruh dunia juga mengalami penurunan dalam waktu 50 tahun terakhir. Salah satu penyebabnya adalah penyakit jamur mematikan yang disebut chytridiomycosis

Sebuah studi yang baru-baru ini diterbitkan di jurnal Science menjelaskan penyebaran chtyridiomycosis dan seberapa cepat penyakit tersebut menyebar pada katak, cebong, dan spesies salamander di dunia.

Manusia diduga menyebabkan penyebaran penyakit jamur ini menjadi lebih cepat karena perdagangan satwa liar.

Menurut penulis dari penelitian ini, kematian amfibi yang terkait dengan penyakit jamur ini merupakan kehilangan keanekaragaman hayati terbesar yang disebabkan oleh suatu penyakit.

Studi lain yang diterbitkan di jurnal Current Biology juga mengatakan bahwa amfibi secara keseluruhan menjadi kelompok hewan yang paling terancam, dengan setidaknya ada 2000 spesies yang terancam punah.

Sepertinya bumi sedang mengalami “pemusnahan biologis” dimana setengah jumlah dari hewan yang ada di bumi sudah menghilang. 

Sebuah studi pada tahun 2017 dibuat dengan meneliti 27.600 spesies vertebrata. Hasilnya mereka menemukan bahwa 30% sedang mengalami penurunan.

Beberapa spesies sedang menghadapi kehancuran total, sedangkan yang lainnya akan mengalami kepunahan di area tertentu. Hal tersebut tentunya sangat memprihatinkan karena penulis menyebutnya sebagai “pendahuluan kepunahan spesies”.

Jadi, penurunan jumlah hewan yang belum menghadapi ancaman kepunahan juga merupakan tanda yang mengkhawatirkan.

Lebih dari 265.000 spesies sedang mengalami ancaman kepunahan dan bahkan jumlahnya diprediksi akan meningkat. 

Menurut International Union for Conservation of Nature Red List, lebih dari 27% spesies yang dinilai terancam punah. Saat ini ada 40% amfibi, 25% mamalia, dan 33% terumbu karang di bumi sedang terancam.

IUCN memperkirakan bahwa ada 99,9 % spesies yang terancam punah dan 67% dari spesies yang terancam tersebut akan hilang dalam waktu 100 tahun ke depan.

Menurut laporan PBB, jumlah spesies yang terancam punah mencapai angka 1 juta

Laporan PBB memperkirakan bahwa ada 40% spesies amfibi, lebih dari 33% mamalia laut dan karang pembentuk terumbu, dan 10% spesies serangga sedang mengalami ancaman.

Para penulis juga mengungkapkan bahwa ada 500.000 spesies darat yang tidak memiliki habitat alami yang dapat menjamin kelangsungan hidup jangka panjang mereka.

Hilangnya 1 spesies saja dapat menyebabkan ‘efek domino’ sehingga menyebabkan kehancuran seluruh komunitas biologis. 

Sebuah studi yang diterbitkan di Scientific Reports mengatakan bahwa banyak ilmuwan yang cenderung meremehkan jumlah spesies yang rentan terhadap kepunahan.

Para penulis penelitian juga menulis bahwa punahnya 1 spesies saja dapat menyebabkan lebih banyak spesies yang menghilang dan mungkin juga kehancuran massal.

Sebagai contoh jika lebah punah, bunga tidak dapat melakukan penyerbukan sari sehingga akhirnya bunga pun juga mengalami kepunahan.

Para penulis penelitian juga mencatat bahwa kepunahan biasanya dipicu jauh sebelum kehancuran massal.

Sebuah studi yang dibuat tahun 2015 yang meneliti spesies burung, reptil, amfibi, dan mamalia menyimpulkan bahwa tingkat kepunahan rata-rata mencapai 100 kali lebih tinggi.  Image result for burung

Elizabeth Kolbert, penulis buku “The Sixth Extinction” mengatakan bahwa pandangan dari penelitian itu sangat menerikan. Itu berarti ada 75% spesies hewan yang akan punah dalam kehidupan manusia.

Dalam waktu 50 tahun, akan ada 1700 spesies amfibi, burung, dan mamalia yang akan menghadapi resiko yang lebih parah karena habitat mereka yang menipis. 

Sebuah studi yang dibuat di tahun 2019 mengatakan bahwa 1700 spesies akan kehilangan 30-50% habitatnya di tahun 2070 karena alih fungsi lahan.

Spesifiknya akan ada 886 spesies amfibi, 436 spesies burung, dan 376 spesies mamalia yang terkena dampaknya dan resiko punah menjadi lebih besar.

Penebangan di hutan Amazon menjadi perhatian khusus. 

Menurut WWF, sekitar 17% dari wilayah Amazon sudah dihancurkan dalam waktu 50 tahun terakhir yang sebagian besar terjadi karena alih fungsi lahan menjadi peternakan.

Sekitar 80% spesies dunia dapat ditemukan di hutan hujan Amazon, termasuk macan tutul Amur yang terancam punah. Bahkan penggundulan hutan di daerah yang kecil juga menyebabkan hewan punah karena beberapa spesies hanya hidup di beberapa daerah yang kecil dan terisolasi.

Setiap tahunnya, hutan kehilangan lahan seluas 18 juta hektar. Itu setara dengan kehilangan 27 lapangan sepak bola setiap menitnya.

Selain beresiko terhadap punahnya hewan, penebangan hutan Amazon juga menghilangkan pohon-pohon yang membantu menyerap karbondioksida.

Akibatnya, bumi pun menjadi semakin panas karena jumlah pohon yang menyerap karbondioksida menjadi lebih sedikit.

Sebuah studi mengatakan bahwa dalam 50 tahun ke depan manusia akan membawa begitu banyak spesies mamalia menuju kepunahan sehingga keanekaragaman evolusi bumi tidak akan pulih selama 3 juta tahun. 

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian yang diterbitkan pada tahun 2018 itu menyimpulkan bahwa setelah mamalia punah, bumi akan membutuhkan sekitar 3-5 juta tahun dalam skenario yang baik untuk kembali ke tingkat keanekaragaman hayati yang kita miliki saat ini.

Mengembalikan keanekaragaman hayati bumi ke keadaan semula sebelum manusia modern berevolusi akan membutuhkan waktu hingga 7 juta tahun.

Beberapa ahli paleobiologi bahkan memperkirakan bahwa bumi membutuhkan waktu 10 juta tahun untuk memulihkan bumi dari kepunahan massal. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Ecology and Evolution mengatakan bahwa butuh waktu sekitar 10 juta tahun untuk memulihkan keanekaragaman hayati.

Spesies asing juga menjadi penyebab utama dari kepunahan spesies lain. 

Sebuah penelitian yang diterbitkan pada bulan Februari 2019 menemukan bahwa spesies asing menjadi penyebab utama dari kepunahan spesies hewan dan tumbuhan baru-baru ini.

Spesies asing merujuk pada spesies tumbuhan, hewan, jamur, dan bakteri yang bukan asli ekosistem. Beberapa spesies asing bahkan bersifat invasif sehingga dapat membahayakan lingkungan.

Banyak spesies asing invasif yang secara tidak sengaja disebarkan oleh manusia sendiri. Orang dapat membawa spesies asing bersama mereka dari satu benua, negara, atau wilayah ke tempat lain saat bepergian.

Pengiriman barang dan kargo juga menjadi pendukung dari penyebaran spesies asing ini. Kerang zebra dan kumbang busuk kecoklatan adalah contoh dari banyak spesies invasif yang ada di Amerika Serikat.

Studi terbaru bahwa sejak tahun 1500 setidaknya ada 953 spesies yang mengalami kepunahan total. Sepertiga dari jumlah tersebut disebabkan oleh adanya spesies asing.

Banyak spesies laut dan terumbu karang terancam karena panas yang terperangkap di bumi diserap oleh laut.  Image result for laut

Laut menyerap 93% panas yang terperangkap di bumi karena adanya gas rumah kaca. Tahun lalu merupakan tahun dimana laut memiliki suhu terpanas.

Para ilmuwan pun menyadari bahwa laut memanas 40% lebih cepat dari yang mereka pikirkan. Sebagai akibatnya, terumbu karang dan ekosistem laut terancam.

Di seluruh dunia, sekarang hanya tersisa 50% terumbu karang karena yang lainnya mati dalam waktu 3 dekade terakhir.

Spesies yang tinggal di air tawar juga mengalami ancaman karena pemanasan bumi.

Sebuah studi yang dibuat pada tahun 2013 mengatakan bahwa 82% spesies ikan air tawar asli di California sedang mengalami ancaman kepunahan karena perubahan iklim.

Para penulis studi mengatakan bahwa kebanyakan spesies ikan air tawar asli ini diperkirakan menurun dan sebagian bahkan mulai menuju kepunahan.

Spesies ikan yang membutuhkan air dengan suhu yang lebih rendah dari 25 derajat celcius untuk hidup menjadi yang paling terancam.

Pemanasan laut tentunya juga berpengaruh pada naiknya permukaan air laut. Tentunya hal ini berdampak pada habitat spesies yang rentan.

Menurut Smithsonian, permukaan air laut global sudah sekitar 7-10 cm lebih tinggi daripada rata-rata di tahun 1900.

Pada bulan Februari tahun ini, kementrian lingkungan hidup Australia secara resmi mengumumkan bahwa spesies Bramble Cay menjadi spesies hewan pertama yang punah karena perubahan iklim yang tentunya juga karena kenaikan permukaan air laut.

Spesies kerabat tikus kecil itu berasal dari sebuah pulau di Queensland. Namun, wilayah dataran rendahnya hanya setinggi 3 meter dari permukaan laut.

Pulau ini semakin sering dibanjiri oleh air laut selama pasang naik dan badai yang tentunya berdampak pada kehidupan tanaman di pulau tersebut.

Akibatnya jumlah tanaman di pulau tersebut yang menjadi sumber makanan bagi spesies ini menjadi berkurang dan akhirnya berdampak pada menurunnya jumlah populasi spesies hewan pengerat ini.

Lautan yang memanas juga menyebabkan pencairan es Arktik dan Antartika yang belum pernah terjadi sebelumnya yang berakibat pada naiknya permukaan air laut. Akibatnya, ada 17% spesies di Amerika Serikat yang terancam. 

Mencairnya lapisan es tentunya membuat kenaikan permukaan air laut terjadi secara signifikan. Lapisan es antartika mencair 6 kali lebih cepat daripada yang terjadi di tahun 1980-an.

Lapisan es di Greenland juga mencair 4 kali lebih cepat daripada yang terjadi 16 tahun lalu. Total ada sekitar 400 milyar ton es yang mencair di tahun 2012 saja.

Dalam skenario terburuk, perairan yang hangat dapat menyebabkan gletser yang menahan lapisan es Antartika dan Greenland runtuh. Tentunya sejumlah besar es akan menuju ke lautan dan mengarah pada kenaikan permukaan air laut secara cepat.

Menurut Pusat Keanekaragaman Hayati, kenaikan permukaan air laut sendiri dapat mengancam 223 spesies hewan dan tumbuhan yang dilindungi oleh pemerintah Amerika Serikat.

Laporan tersebut melaporkan bahwa 17% spesies yang terancam punah di Amerika rentan terhadap kenaikan permukaan laut. Salah satunya adalah penyu tempayan.

Jika hal ini berlanjut dan memperparah perubahan iklim, maka 1 dari 6 spesies akan menuju kepunahan. 

Sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2015 yang menilai 130 studi tentang menurunnya jumlah populasi hewan menemukan bahwa 1 dari 6 spesies akan punah jika pemanasan global berlanjut.

Flora dan fauna di Amerika Selatan diperkirakan akan mengalami dampak yang terparah, sedangkan yang di Amerika utara sebaliknya.

Pemusnahan massal yang terjadi sebelumnya juga menunjukkan tanda-tanda. Tanda-tanda tersebut sangat mirip dengan apa yang terjadi sekarang. 

Kepunahan massal yang paling mematikan sepanjang sejarah adalah kepunahan Permian-Trias atau yang disebut juga”Kematian Hebat”. Kepunahan massal itu terjadi sekitar 252 juta tahun lalu.

Menurut National Geographgic, selama kepunahan massal itu terjadi, sekitar 90% spesies bumi musnah, 95% spesies laut musnah, dan hanya sepertiga spesies hewan darat yang selamat.

Peristiwa ini bahkan lebih parah daripada bencana yang memusnahkan dinosaurus yang terjadi 187 juta tahun kemudian setelah kejadian tersebut.

Para ilmuwan pun berpikir bahwa kepunahan massal ini terjadi karena pelepasan gas rumah kaca dalam skala besar dengan cepat ke atmosfer oleh gunung berapi Siberia yang dengan cepat menghangatkan planet ini. Artinya, ada tanda-tanda peringatan sebelum kejadian tersebut terjadi.

Faktanya, studi tahun 2018 mencatat bahwa tanda-tanda awal itu muncul sejak 700.000 tahun sebelum kepunahan.

Salah satu penulis studi, Wolfgang Kiebling mengatakan bahwa beberapa bukti pemanasan global yang parah adalah pengasaman laut dan kekurangan oksigen. Untungnya, sejauh ini perubahan yang terlihat tidak terlalu parah.

Masih ada beberapa perdebatan apakah kita akan mengalami kepunahan massal atau tidak.

Para ilmuwan masih berdebat tentang apakah bumi akan mengalami kepunahan massal keenam kalinya atau tidak. Menurut The Atlantic, ahli paleontologi Smithsonian yang bernama Doug Erwin mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan terjadi.

Namun, hal tersebut dibantah oleh ilmuwan lain. Bahkan Kolbert mengatakan kepada National Geographic bahwa jika itu adalah jawaban yang pasti maka bumi akan kehilangan sebagian besar spesiesnya.

Laporan terbaru dari PBB mungkin dapat mengakhiri perdebatan ini. 

Menurut laporan tersebut, 75% daratan dan 66% lautan sudah diubah secara signifikan oleh manusia. Lebih dari 85% lahan basah dunia sudah hilang dan lebih dari 79 juta hektar hutan primer hilang di antara tahun 2010 dan 2015.

Penulis laporan mengatakan bahwa gangguan dan degradasi habitat alami hewan ini diyakini dapat mempercepat laju kepunahan.

Huge Possingham, kepala ilmuwan The Nature Conservacy mengatakan kepada Business Insider bahwa hilangnya banyak spesies akan mempengaruhi ekonomi global dan kesehatan setiap individu.

Possingham menambahkan bahwa perdebatan tentang apakah keadaan kita saat ini merupakan kepunahan massal yang keenam tidaklah tepat.

Bahkan Possingham mengatakan bahwa debat ini adalah hal yang konyol. Namun dia juga mengatakan bahwa ini tetaplah bencana bagi bumi walaupun bukan merupakan kepunahan massal bumi yang terbesar.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s