11 Cara Terakhir Untuk Mengurangi Dampak Perubahan Iklim Sebelum Terlambat

Clouds above earth

Semakin lama, bumi kita ini makin panas. Permukaan air laut pun mulai meningkat setiap tahun karena mencairnya es kutub utara. Tentunya hal ini mengancam kehidupan manusia.

Oleh karena itu, para politisi dan ilmuwan mulai menyarankan agar pemerintah mulai bertindak lebih dari sekedar menahan pertambahan jumlah gas emisi rumah kaca. Mereka ingin ‘meretas’ bumi ini.

Istilah teknis untuk ‘peretasan bumi’ ini adalah geoengineering. Konsep ini membangkitkan citra fantastik satelit pengontrol cuaca, cermin ruang raksasa, dan tabung penghisap karbon. Namun, beberapa teknik dari geoengineering ini tidak hanya akan menjadi khayalan.

Bahkan, diskusi tentang memanipulasi atmosfer untuk menurunkan suhu bumi ini semakin menjadi perhatian utama. Ada beberapa perusahaan yang mulai berfokus pada geoengineering seperti Climeworks dan Y Combinator.

Bahkan kandidat politik seperti Andrew Yang juga berpikir bahwa Amerika Serikat membutuhkan teknologi geoengineering ini untuk mengalahkan negara lain.

Namun, para peneliti juga tidak yakin bahwa teknik ‘meretas planet’ ini adalah ide yang bagus. Bahkan seorang aktivis lingkungan yang bernama Bill McKibben mengatakan bahwa efek dari teknologi ini sama buruknya dengan penyakit yang biasa dialami manusia.

McKibben juga mengatakan bahwa geoengineering juga tidak banyak membantu dalam mengatasi masalah yang muncul dari berbagai hal seperti emisi gas rumah kaca yang menyebabkan pengasaman laut.

Berikut ini adalah 11 metode geoengineering yang sudah diusulkan sejauh ini.

Ada 2 jenis geoengineering utama. Yang pertama adalah penangkapan karbon yang mencakup penghilangan karbondioksida dari atmosfer. There are two main types of geoengineering. The first is carbon capture, which entails removing carbon dioxide from the atmosphere.

Alat CCS (Carbon Capture and Storage) menjadi diterima secara luas sebagai alat yang digunakan untuk melawan perubahan iklim. Banyak orang melihat alat ini sebagai cara untuk memperbaiki kerusakan yang disebabkan oleh manusia.

Pembangkit listrik di Amerika Serikat dan Kanada sudah mulai menggunakan alat CCS untuk menurunkan emisinya. Pada tahun 2014, sebuah pembangkit listrik bendungan di dekat Estevan, Saskatchewan menjadi pembangkit listrik pertama yang berhasil menggunakan teknologi ini.

Menurut Pusat Solusi Iklim dan Energi, 21 proyek penangkapan karbon skala komersial beroperasi di seluruh dunia. Selain ada 22 proyek lain yang sedang dikembangkan pada tahun 2017.

Dalam beberapa kasus, teknologi CCS juga dapat mencegah emisi karbon masuk ke atmosfer. Alih-alih, karbondioksida yang dihasilkan dari pembakaran batubara malah dapat ditangkap lagi oleh pabrik dan disimpan.

Beberapa perusahaan sudah mengembangkan teknologi CCS yang menjanjikan Some companies are already developing promising carbon-capture technologies.

Koordinator teknologi CCS milik Norwegia, GassNova mendanai pengembangan, demonstrasi, dan studi percontohan teknologi CCS di negara tersebut.

Start-up yang berbasis di New York, Global Thermostat menggunakan spons karbon untuk menyerap karbondioksida langsung dari atmosfer, cerobong asap, atau keduanya.

Perusahaan ini mendirikan pabrik penangkapan karbon langsung berskala komersial pertama di Huntsville, Alabama. Salah satu co-founder Global Thermostat, Graciela Chicilnisky mengatakan bahwa begitu pabrik beroperasi, pabrik akan menyedot jutaan ton Co2 dari udara setiap tahunnya.

Selain Global Thermostat, start-up yang berbasis di British Columbia, Carbon Engineering yang sebagian dimiliki oleh Bill Gates juga berusaha untuk membangun pabrik penangkapan karbon langsung berskala komersial juga.

Salah satu masalah terbesar dari teknologi CCS adalah dimana karbondioksida akan disimpan setelah ditangkap One of the biggest issues with these carbon-capture technologies, however, is figuring out where to put the carbon dioxide after it's captured.

Menurut Asosiasi Penangkapan dan Penampungan Karbon, bak penyimpanan karbon biasanya berada jauh di bawah tanah di ladang minyak dan gas yang sudah menipis.

Upaya penyimpanan karbon di bawah tanah sudah berhasil dilakukan dalam sebuah proyek dengan cara menyuntikkan karbon yang tersimpan ke dalam 2 ladang minyak yang sudah menipis.

Pada tahun 2008, sebuah fasilitas di sebuah pulau yang terletak di Laut Barents menyimpan hampir 4 ton karbon di reservoir bawah permukaan lepas pantai.

Karbon yang ditangkap dapat disimpan dalam wadah yang diisi dengan karbondioksida atau alga dan bakteri Captured carbon could also get stored in containers filled with carbon-dioxide-eating or converting algae and bacteria.

Unit penyimpanan ini kadang disebut bioreaktor. Sebuah perusahaan di Quebec City, Kanada yang bernama CO2 Solution telah merekayasa bakteri E.Coli secara genetik untuk menghasilkan enzim yang mengubah karbondioksida menjadi bentuk alternatif yang disebut bikarbonat.

Menurut studi tahun 2010, kolam ganggang juga efektif menangkap karbondioksida secara alami melalui fotosintesis.

Beberapa perusahaan sedang mencoba untuk mengubah karbon yang ditangkap menjadi sesuatu yang bermanfaat Some companies are trying to turn the carbon they capture into useful materials.

Pada tahun 2017, perusahaan yang berbasis di Zurich, Swiss yang bernama Climeworks membuka pabrik penangkapan karbon komersial pertamanya yang mengompresi karbon dioksida yang ditangkap dan mengubahnya menjadi pupuk.

Sebuah perusahaan yang bernama Blue Planet mengubah karbondioksida menjadi bikarbonat yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan A company called Blue Planet converts carbon dioxide into bicarbonate then uses that to make building materials.

Blue Planet mengambil karbon dioksida yang ditangkap oleh beberapa pabrik seperti pembangkit listrik terbesar California di Moss Landing. Nantinya karbondioksida yang ditangkap akan diubah menjadi lapisan batu kapur yang menutupi bahan bangunan beton milik perusahaan.

Menurut Caltrans, produk-produk yang dihasilkan Blue Planet masih belum tersedia dalam jumlah yang cukup besar untuk proyek-proyek skala besar. Namun, perusahaan ini sedang mengembangkan fasilitas produksi yang lebih besar di wilayah Teluk SAn Fransisco.

Terlepas dari kenyataan bahwa produk dari perusahaan ini masih belum ada di pasar komersial, batu bikarbonat yang dihasilkan perusahaan ini digunakan dalam konstruksi Bandara Internasional San Fransisco.

Strategi ‘peretasan planet’ utama lainnya adalah geoengineering surya yang melibatkan penyuntikan partikel atau awan ke langit yang memantulkan sinar matahari kembali ke luar angkasa Another major planet-hacking strategy is solar geoengineering, which involves injecting particles or clouds into the sky that reflect sunlight back into space.

Ini juga disebut manajemen radiasi atau modifikasi albedo. Pada akhirnya, geoengineering surya bertujuan untuk meningkatkan jumlah radiasi matahari yang dipantulkan ke luar angkasa dari bumi ini untuk menurunkan suhu bumi.

Namun, pada kenyataannya tidak ada bukti bahwa teknologi ini dapat digunakan dalam ‘peretasan planet’. Bahkan sebagian besar dari metode penggunaan teknologi ini menimbulkan kontroversi sehingga belum diuji coba.

Gagasan adanya geoengineering surya didapatkan dari erupsi vulkanik The idea for solar geoengineering is inspired by the effects of volcanic eruptions.

Ketika gunung berapi mengalami erupsi, ia mengeluarkan sulfur dan abu yang menutupi langit sehingga memantulkan sinar matahari yang menuju ke bumi dan akhirnya menurunkan suhu bumi.

Hampir 200 tahun yang lalu, Gunung Tambora mengalami erupsi paling mematikan did unia. Para ilmuwan pun percaya erupsi gunung ini menyebabkan adanya hawa dingin di musim panas pada tahun berikutnya yang akhirnya memicu salju yang mematikan di Inggris dan wilayah Eropa lainnya.

Efek vulkanik ini dapat ditiru melalui teknik yang disebut dengan hamburan aerosol stratosfer. Teknik ini melibatkan penyuntikan atmosfer bagian atas dengan partikel reflektif kecil seperti asam sulfat atau aerosol This volcanic effect could be mimicked via a technique called stratospheric aerosol scattering. This involves injecting the upper atmosphere with tiny reflective particles like sulfuric acid or aerosols.

Idenya adalah bahwa partikel-partikel ini akan memantulkan cahaya matahari dari bumi dan kembali ke ruang angkasa.

Program penelitian geoengineering surya dari Harvard University saat ini sedang mencoba untuk memodelkan bagaimana awan partikel-partikel seperti itu di atmosfer dapat menjadi seperti balon yang dapat dikendalikan.

Program penelitian juga menunjukkan bahwa kita dapat mencerahkan awan laut sehingga mereka dapat memantulkan lebih banyak sinar matahari.

Selain itu, para ilmuwan juga memiliki ide yang cukup gila yaitu menempatkan cermin raksasa di luar angkasa untuk memantulkan sinar matahari Mirrors, of course, also reflect sunlight. So some scientists have floated the idea of putting giant mirrors in space.

Pada tahun 2000-an, seorang ilmuwan bernama Lowell Wood dari Lawrence Livermore National Laboratory menyarankan untuk menggunakan cermin raksasa yang terbuat dari alumunium untuk memerangi pemanasan global.

Namun, dia juga mengingatkan bahwa cermin itu harus seluas 600.000 mil persegi atau seluas Greenland. Ide ini kemungkinan besar akan mengeluarkan begitu banyak uang untuk mewujudkannya.

Wood menjelaskan pada Popular Science di tahun 2005 bahwa cermin tersebut akan seperti layar jendela yang terbuat dari kawat logam yang sangat halus. Namun, sampai sekarang ide tersebut masih menjadi sebuah hipotesis.

Menipiskan atau menghilangkan awan cirrus bisa menjadi cara untuk mengembalikan panas ke ruang angkasa kembali Eliminating or thinning some cirrus clouds —a type of cloud that sits high in the atmosphere and absorbs radiation — could be another way to send heat back into space.

Upaya ini dilakukan dengan melibatkan pengurangan awan cirrus di ketinggian tinggi dengan menyemprotkan aerosol penipis air.

Awan-awan kecil ini sebenarnya tidak begitu berpengaruh dalam memantulkan sinar matahari. Tetapi mereka sangat berpengaruh dalam menangkap radiasi. Jadi secara teoritis penipisan awan cirrus dapat membantu mengurangi pemanasan global.

Salah satu teknologi yang memanipulasi awan sudah digunakan saat ini. Cara ini tidak benar-benar membantu mengurangi perubahan iklim, tapi setidaknya dapat membuat hujan dimana saja dan kapan saja One technology that manipulates the clouds is already in use today. It doesn't really address climate change, but it does allow us to make it rain when and where we want.

Teknik ini dilakukan untuk membuat hujan dengan cara menjatuhkan ion perak ke udara di atmosfer. Hujan pun terjadi karena kelebapan yang cukup berkumpul di sekitar partikel di udara sehingga ion-ion ini memberikan partikel tambahan untuk kelembapan.

Teknologi ini pun sudah diuji oleh pemerintah China, Rusia, dan Uni Emirat Arab.

Menurut Pacific Standard Magazine, teknik ini sudah digunakan selama 75 tahun dan bahkan berhasil mengatasi kekeringan di bagian barat Amerika Serikat. Pada tahun 2015, Texas pun mengalami kenaikan curah hujan sebesar 34% karena teknik ini.

Selain itu, para ilmuwan juga mencoba untuk mendapatkan kembali es yang sudah mencair karena semakin banyak es, maka lebih banyak panas yang terpantul dari bumi ke luar angkasa Instead of focusing on clouds, some researchers are looking into ways to save melting Arctic ice. Ice sheets are responsible for reflecting lots of sunlight into space, so less ice means less heat leaving the planet.

Sebuah tudi yang dibuat pada tahun 2018 menunjukkan bahwa hilangnya 75% volume es kutub utara yang sudah terjadi sejak tahun 1979 ternyata memberi kontribusi terhadap pemanasan bumi.

Sebuah organisasi non-profit bernama Ice911 mengatakan bahwa mereka ingin menyebarkan manik-manik kaca kecil di sekitar Arktik yang meniru kemampuan reflektif es A nonprofit called Ice911 wants to spread tiny glass beads around the Arctic that mimic ice's reflective abilities.

Manik-manik kaca yang akan disebar terbuat dari pasir, berukuran kecil, dan berlubang. Mereka terlihat seperti salju.

Leslie Field, pendiri Ice911 ingin menebarkan manik-manik kaca ini di sekitar Arktik dengan harapan membuat es kutub utara lebih reflektif dan tidak mudah mencair.

Organisasi ini masih menguji teknologinya di dekat Barrow, Alaska. Pada tahun 2017, Ice911 sudah menutupi lebih dari 3 lapangan sepakbola dengan manik-manik kacanya.

Pada tahun 2018, mereka menebarkan lebih banyak lagi manik-manik kaca dengan luas lahan 161.000 kaki persegi. Hasilnya menunjukkan bahwa daerah yang ditebari manik-manik kaca memiliki tingkat reflektivitas yang lebih tinggi sehingga lebih sedikit es yang mencair.

Beberapa peneliti juga menyarankan untuk menopang es yang sudah mencair dari bawah ke atas Alternatively, some researchers are pushing to shore up melting ice from the bottom up.

Sebuah artikel baru-baru ini di jurnal Nature menyarankan menggunakan geoengineering untuk menjaga lapisan es benua dengan menargetkan tempat-tempat dimana es bertemu dengan air laut yang memanas.

Salah satu teknik yang diusulkan adalah meningkatkan punggungan buatan untuk melindungi gletser yang lemah. Tetapi para ilmuwan memperingatkan bahwa teknik ini membutuhkan dana sebesar milyaran dolar.

Terlepas dari semua cara, para ilmuwan juga mencoba mencari cara yang terdengar seperti dunia fiksi  Beyond all of these options, researchers and investors are also thinking about geoengineering strategies that sound like something out of science fiction.

Y Combinator, inkubator bergengsi yang menawarkan beberapa pelayanan seperti Dropbox dan Airbnb, mengeluarkan permintaan tahun lalu kepada para start-up yang berfokus kepada ide untuk geoengineering.

Perusahaan ini menulis di halaman website mereka bahwa start-up yang berfokus pada geoengineering harus bersemangat untuk mengejar solusi untuk permasalahan geoengineering ini.

Contoh dari solusi yang dimaksud adalah fitoplankton yang dikembangkan dengan direkayasa secara genetika yang menyerap karbondioksida melalui fotosintesis dan gurung terapung untuk menciptakan micro-oase yang dapat digunakan untuk menyerap karbondioksida.

Perusahaan juga menulis bahwa cara ini seperti mengangkangi batas antara fiksi ilmiah dan sains di dunia nyata.

Teknik Wilder yang masih menjadi usulan Wilder still is a proposal to create a cloud of asteroid dust in space that would shield the Earth from sunlight.

Gagasan ini disampaikan oleh sekelompok peneliti dari Skotlandia pada tahun 2012.

Rencana mereka adalah mendorong asteroid ke titik tertentu di ruang angkasa dimana ia akan merasakan tarikan gravitasi yang sama dari bumi dan matahari sehingga akan tertanam di tempatnya. Kemudian pesawat ruang angkasa akan mendarat di asteroid dan melemparkan debu asteroid ke ruang angkasa.

Para peneliti mengatakan bahwa rencana ini dapat mengurangi jumlah sinar matahari yang sampai ke bumi hampir 2% yang cukup untuk mengimbangi pemanasan 5 derajat fahrenheit.

Rencana ini tentunya memiliki banyak resiko seperti kemungkinan asteroid dapat masuk ke atmosfer bumi secara tidak sengaja.

Setiap teknik geoengineering mendapat banyak tentangan  In general, any geoengineering project or proposal that involves tweaking the delicate chemistry of Earth's atmosphere and its cycles faces enormous opposition.

Banyak ilmuwan merasa prihatin dengan eksperimen geoengineering matahari karena sebagian besar model memperkirakan bahwa efeknya akan terasa berbeda di seluruh dunia.

Sebagai contoh, jika teknologi geoengineering matahari diarahkan ke bagian bumi selatan, maka bagian utara bumi akan mengalami badai di banyak wilayah.

Ditambah lagi, teknik geoengineering yang gagal dapat menyebabkan kimia atmosfer di bumi berubah secara permanen. Bahkan kegagalan tersebut juga bisa merusak lapisan ozon.

Namun, sebuah studi baru mengungkapkan bahwa sangat mungkin untuk mengubah atmosfer bumi dengan cara yang akan mencegah bagian lain dari planet mengalami serangan cuaca  However, a recent study asserted that it is possible to tweak the atmosphere in a way that would prevent other parts of the planet from experiencing weather backlash.

Studi yang dipublikasikan oleh Nature Climate Change ini memodelkan skenario dimana sejumlah kecil geoengineering akan menurunkan suhu bumi.

Meskipun cara-cara tersebut akan menggangu iklim, namun hal tersebut masih lebih baik daripada membiarkan perubahan iklim merusak bumi lebih parah lagi.

Mereka pun menyarankan untuk membentuk program penelitian internasional untuk menangani masalah ini.

Para peneliti dan politisi memperingatkan bahwa geoengineering dapat menyebabkan perang  Yet some scientists and politicians are already warning that geoengineering could lead to war.

Hal ini disampaikan oleh seorang profesor lingkungan yang bernama Alan Robock. Dia khawatir bahwa proyek geoengineering dapat menyebabkan konflik yang berujung ke perang nuklir karena dimanfaatkan oleh negara yang jahat.

Selain Alan, kandidat politik yang bernama Andrew Yang juga menyampaikan hal serupa.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s