Adanya Kemungkinan Kebocoran Metana, Apakah Baik Untuk Menggunakan Gas Alam?

DUNKIRK, NEW YORK, 2016: A NRG-owned coal-fired energy facility that planned to convert to a natural gas facility.

Batubara adalah bahan bakar yang banyak mencemari dunia yang biasanya dipakai untuk memproduksi listrik. Tentunya hal ini dapat memperbanyak jumlah CO2 sehingga kita perlu menghentikan penggunakan batubara secepatnya.

Banyak yang berpendapat bahwa daripada menghentikan seluruh penggunaan batubara, lebih baik dipakai untuk membakar gas alam. Gas alam juga memancarkan kurang dari setengah jumlah karbondioksida yang dihasilkan saat pembakaran batubara.

Selain itu, gas alam juga memancarkan lebih sedikit nitrogen oksida dan sulfur dioksida yang merupakan polutan paling berbahaya bagi manusia. Selain itu, gas alam juga dapat dikirim, tidak seperti tenaga angin dan matahari yang harus menunggu angin atau matahari untuk menghasilkan listrik.

Tetapi penggunaan gas alam tidak dapat menunjukkan berapa biaya yang dibutuhkan secara jelas. Gas alam itu sendiri adalah gas metana yang merupakan gas rumah kaca yang sangat kuat sebelum dibakar, meskipun umurnya di atmosfer lebih pendek daripada CO2.

Banyak laporan yang menunjukkan bahwa penggunaan gas alam dapat membocorkan gas metana dengan jumlah tidak jelas. Hal ini menyebabkan adanya rasa ragu untuk menentukan manakah yang lebih baik antara gas alam dan batubara.

Sekelompok peneliti dari Jepang, Prancis, Norwegia, dan Inggris baru saja menerbitkan makalah di Nature Climate Change yang mencoba membuat penilaian itu. Bagaimanapun, tetaplah penting apakah gas alam dapat benar-benar mengurangi dampak perubahan iklim.

Dalam skenario jangka panjang, gas alam lebih baik daripada batubara 

Para peneliti juga melihat sejumlah emisi lain seperti nitrogen oksida dan sulfur oksida. Ini penting karena batubara lebih banyak melepaskan oksida belerang yang berumur pendek daripada gas alam.

Oksida belerang sebenarnya memiliki efek positif yaitu mendinginkan iklim, namun sayangnya senyawa ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia dan hujan asam.

Oleh karena itu, seluruh pabrik batubara di dunia diharuskan memiliki teknologi mitigasi sulfur-oksida.

Untuk memperhitungkan akibat dari kedua bahan bakar tersebut, para peneliti pun mengekstrapolasi dari sejumlah pabrik batubara di berbagai negara seperti Amerika, China, dan India.

Mereka menerapkan profil emisi dari pembangkit ini ke beberapa formula berbeda yang telah ditetapkan sebelumnya untuk menghitung potensi pemanasan global dan efek suhu pada 20-100 tahun ke depan.

Mereka juga melakukan stresstest terhadap hasil mereka dengan memperhitungkan sedikit banyak kebocoran gas alam dari skenario terbaik ke terburuk.

Pada akhirnya makalah ini menyimpulkan bahwa dalam skenario jangka panjang, perubahan penggunaan batubara ke gas alam mengurangi dampak iklim jangka panjang.

Dalam skenario jangka pendek, hasilnya juga sama. Namun, hanya saja dampaknya lebih tidak jelas.

Kebocoran metana menjadi masalah dalam beberapa skenario 

Ada beberapa skenario dimana kebocoran metana dapat berakibat lebih parah. Jika kebocoran diasumsikan berada di sisi yang tinggi seperti di China, emisi gas rumah kaca akan meningkat karena pembakaran kedua bahan bakar tersebut dalam skenario 100 tahun.

Selain itu, dalam skenario jangka pendek yaitu 20 tahun, gas alam dapat menyebabkan dampak iklim yang lebih besar daripada batubara di China, Jerman, Amerika, dan India.

Tetapi selama kebocoran gas metana diasumsikan berlanjut pada tingkat yang rendah sampai sedang, mengubah pembangkit kebangkitan listrik batubara menjadi gas alam masih lebih baik dari perspektif perubahan iklim.

Para peneliti mencatat bahwa bahwa model mereka tidak dapat menjelaskan semua skenario. Secara khusus, model mereka tidak dapat menjelaskan titik kritis dimana emisi yang sangat tinggi dalam skenario jangka pendek menyebabkan pemanasan global menjadi tidak terkendali.

Jika kebocoran metana tinggi terjadi, ada kemungkinan titik kritis seperti akan terjadi.

Para penulis juga mengakui bahwa ada masalah lain dalam perubahan batubara ke gas alam. Yaitu teknologi gas alam baru mungkin mengikat perusahaan-perusahaan listrik untuk mengikat perusahaan-perusahaan listrik untuk membakar bahan bakar fosil lebih lama daripada yang dapat diterima jika kita serius menangani perubahan iklim.

Surat kabar tersebut menuliskan bahwa perluasan gas alam dapat menunda penyebaran teknologi yang kurang intensif karbon seperti energi terbarukan, mewakili penguncian karbon dari infrastruktur bahan bakar fosil.

Hasil dari penelitian ini harus mengonfirmasi bahwa menghapus penggunaan batubara secara bertahap dan menggantinya dengan gas alam lebih baik daripada tidak melakukan apa-apa. Namun kebocoran gas alam harus dikendalikan sehingga dapat menjadi pilihan terbaik untuk menggantikan batubara.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s