Bappenas: Target Energi Terbarukan 16% pada 2019 Sulit Tercapai

Bambang Bappenas

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) merasa pesimistis terhadap pengembangan energi terbarukan. Bappenas memprediksi target porsi energi baru dan terbarukan (EBT) sebesar 16% sulit tercapai.

Menteri PPN/ Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019 realisasi penggunaan energi terbarukan pada tahun 2016 hanya mencapai 6,9%. Padahal target yang dicanangkan pemerintah mencapai 11%. Begitu pula dengan sasaran tahun ini serta 2018 mendatang sebesar 15%.

“Terlalu jauh dari posisi (target) 2019,” kata Bambang dalam acara The 6th Indo EBTKE Conex 2017, di Jakarta, Rabu (13/9).

Meski Bappenas pesimistis dengan target tersebut, hingga kini pemerintah belum berencana merevisi target dalam RPJMN tersebut. Hanya saja memang diperlukan percepatan agar sasaran utama penggunaan energi baru dan terbarukan pada tahun 2025 sebesar 23 persen masih dapat terkejar.

Bambang menyoroti beberapa permasalahan yang menjadi penyebab investasi di sektor energi terbarukan ini berjalan lambat. Beberapa di antaranya adalah tingginya risiko pengembalian modal investor. Lalu ada pula posisi sumber energi terbarukan yang relatif jauh dari pasar.

“Sehingga yang termudah dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU),” katanya.

Meski demikian, mantan Menteri Keuangan tersebut melihat ada beberapa cara agar investasi energi ini menarik. Salah satunya adalah pengenaan tarif listrik berjenjang. Selain itu perlu juga dicari model pembiayaan lain supaya porsi energi terbarukan semakin besar. Cara lainnya adalah dengan mengganti pembangkit diesel dengan tenaga surya (solar cell) di pukau terluar.

Namun Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jonan sendiri mengklaim investor di sektor energi baru terbarukan terus bermunculan. Bahkan ada beberapa investor dari luar negeri yang ingin menanamkan modalnya untuk membangun pembangkit berbasis energi baru terbarukan.

Salah satu contohnya adalah investor asal Belanda yang berencana membangun pembangkit listrik tenaga arus laut di Selat Larang Hutan, Nusa Tenggara Timur (NTT). Adapun pembangkit tersebut berkapasitas 20 MW dengan rata-rata kecepatan arus laut sebesar 4-5 meter per detik.

Sumber: katadata.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s