Krisis Energi, Pakai Saja Matahari

Krisis Energi, Pakai Saja Matahari

Energi merupakan sesuatu yang kekal (tetap). Energi tidak dapat diciptakan ataupun dimusnahkan, dan energi hanya dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain.

Begitu yang diucapkan Budi Wirawan ketika membuka Lokakarya Energi Terbarukan, Jumat (13/4/2018) di Ruang Guru SMA Negeri 8 Malang (Smarihasta). Kegiatan diikuti sekitar 100 peserta dari seluruh dewan guru dan karyawan Smarihasta.

Dimulai pada pukul 08.30, kegiatan yang diprakarsai Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) itu menampilkan Budi Wirawan sebagai narasumber. Peserta tampak antusias.

“Kegiatan ini merupakan follow up dari IBEKA sebagai tindak lanjut atas apa yang telah diberikan sebelumnya, yaitu Paboratorium Pembelajaran Panel Surya agar sarana itu tetap bisa dimanfaatkan secara optimal,” papar Lilis Indrawati, moderator kegiatan.

Selanjutnya, dalam materi awal, Budi mengatakan, berbicara isu yang berkaitan dengan energi ini memang tidak bisa dikatakan main-main. “Proses pembuatan energi membutuhkan waktu yang sangat lama, dan jauh berbanding terbalik dengan intensitas pemakaian,” paparnya.

Persentase tertinggi pemanfaatan sumber energi untuk pembangkit listrik di Indonesia adalah minyak. Menempati urutan kedua adalah batubara, lalu gas alam, dan air.

Peringkat pertama hingga ketiga masuk dalam kategori sumber energi tak terbarukan, yang memang membutuhkan proses yang sangat lama untuk memperbarui.

Berangkat dari situlah, kiranya semua manusia yang hidup di bumi ini sudah harus memikirkan alternatif lain sebagai penghasil energi. Salah satu yang memiliki potensi besar untuk dimanfaatkan adalah energi matahari.

Diskusi semakin menarik ketika di sesi pertama peserta menanyakan alasan terkuat mengapa energi matahari ini memiliki potensi yang sangat tinggi untuk dimanfaatkan daripada sumber energi terbarukan lain seperti angin dan air.

Menurut Budi, energi matahari tidak terlepas dari sifat yang dimiliki. Energi yang terkandung sangat besar dan lebih ramah lingkungan sebab tidak memerlukan lahan yang luas untuk pemanfaatannya.

“Sejatinya semua energi terbarukan ini ramah lingkungan, namun apabila dianalisis lebih jauh, memang energi matahari ini memiliki alasan lebih,” paparnya.

Pertemuan kala itu bukan untuk mencari energi mana yang lebih baik dan tepat untuk dimanfaatkan sebagai alternatif energi yang digunakan saat ini.

Eensinya adalah, bagaimana menyadarkan manusia tentang ketersediaan energi yang selama ini dinikmati sudah masuk pada taraf waspada. Diharapkan, manusia menyadari itu dan sama-sama menjaga lingkungan serta beralih menggunakan energi terbarukan.

Sumber: tribunnews.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s