CDP London: Amerika Latin Pimpin Energi Terbarukan Dunia

Brazil

Saat ini lebih dari 100 kota di seluruh dunia telah menggunakan energi terbarukan untuk 70 persen atau lebih dari total kebutuhan energi mereka. Menempatkan 57 kota-kotanyanya dalam daftar tersebut, Amerika Latin memimpin capaian penggunaan energi terbarukan dengan sebagian besar listrik mereka berasal dari pembangkit listrik tenaga air. Benua Eropa menempati posisi kedua dengan memenuhi 20 persen dari daftar, disusul 9 persen berada di Afrika, dan 9 persen di Amerika Utara.
Dalam daftar yang disusun oleh kelompok lingkungan berbasis di London bernama Carbon Disclosure Project (CDP) dan diumumkan pada akhir Feburari lalu, juga disebutkan agresivitas Amerika Serikat dalam investasi energi terbarukan dengan menghabiskan 1.7 milyar dollar AS di Eropa, 236 juta di Afrika, dan 183 juta dollar AS di Amerika Latin.
Seiring turunnya harga energi terbarukan, semakin banyak kota yang tidak lagi menggunakan listrik berbasis bahan bakar fosil. CDP mencatat bahwa lebih dari 40 kota dalam daftar tersebut mendapatkan listriknya dari gabungan tenaga angin, matahari, air, dan biomassa, yaitu berupa bahan biologis yang berasal dari organisme atau makhluk hidup.
CDP juga melacak komitmen terkait iklim oleh perusahaan dan pemerintah, melihat 570 kota di seluruh dunia untuk laporan tersebut. Kelompok ini mendefinisikan energi terbarukan seperti sumber energi matahari, angin, air, gelombang, biomassa, panas bumi–atau semua sumber bahan bakar non-nuklir dan non-fosil–dan termasuk kota-kota di mana listrik dari sumber energi bersih berada di seluruh kota, tidak hanya di gedung-gedung kota.
“Kota-kota bertanggung jawab atas 70 persen emisi CO2 yang terkait dengan energi, dan ada potensi besar bagi mereka untuk memimpin pembangunan ekonomi berkelanjutan,” demikian kata Kyra Appleby, yang memimpin proyek kota untuk CDP.
Menurut Kyra, temuan CDP telah menunjukkan dengan meyakinkan bahwa ada begitu banyak komitmen dan ambisi kota-kota di seluruh dunia untuk beralih ke energi terbarukan dan yang paling penting, kenyataan menunjukkan bahwa mereka bisa segera melakukannya.
Tenaga Air Paling Banyak Digunakan
Kota-kota dalam survei CDP umumnya tidak menggunakan satu sumber energi saja menggunakan campuran berbagai sumber energi terbarukan. Ada 275 kota yang menggunakan tenaga air, 189 kota mengandalkan listrik dari angin, dan menggunakan aplikasi panel surya untuk energi dengan mengubah sinar Matahari menjadi listrik. Beberapa kota juga menggunakan campuran biomassa, yang digunakan oleh 164 kota, dan panas bumi digunakan oleh 65 kota.
Kota Reykjavik di Islandia, mendapatkan semua listriknya dari pembangkit listrik tenaga panas bumi dan tenaga air. Dan saat ini mereka mulai mencoba untuk mengubah seluruh armada kendaraannya–baik publik maupun swasta–dengan target menjadi bebas fosil pada tahun 2040. Kota terbesar ketiga di Swiss, yaitu Basel, mendapat sebagian besar tenaga dari pembangkit listrik tenaga air, ditambah 10 persen dari angin.
Tren ini kemungkinan akan berlanjut. Dalam sebuah laporan yang dikeluarkan pada bulan Januari, Badan Energi Terbarukan Internasional (International Renewable Energy Agency. IREA) menemukan bahwa biaya pembangkit tenaga listrik dari energi terbarukan akan menjadi seimbang dengan pembangkit bahan biaya bakar fosil dalam dua tahun ke depan.
“Pada tahun 2020, semua teknologi pembangkit listrik terbarukan yang sekarang digunakan secara komersial diperkirakan termasuk dalam kisaran biaya cukup rendah atau setara dengan pembangkit bahan bakar fosil, “ kata laporan tersebut.
Laporan CDP menyebutkan bahwa mereka merekap 570 lebih kota dari seluruh dunia. Tapi, laporan ini tidak menyertakan China yang dilaporkan sangat agresif dalam pengembangan tekologi terbarukan. World Economic Forum dan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA), misalnya, menyebut bahwa China saat ini bergerak menuju menjadi pemimpin global dalam teknologi terbarukan saat AS menarik diri. China adalah penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia dan masih berinvestasi di batu bara namun dalam beberapa tahun terakhir ini telah menjadi investor terbesar dalam energi terbarukan dalam negeri. IEEFA menyebut China sekarang berada pada jalur untuk memimpin investasi internasional di sektor ini.
Sementara Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan pada akhir tahun lalu, bauran energi baru terbarukan (EBT) masih di posisi 12,5 persen dari target 23 persen pada 2025, artinya hanya ada 7 tahun lagi untuk mengejar penambahan EBT sebanyak 10,5 persen. Bukan hal yang mudah untuk menambah persentase EBT 1,5 persen setiap tahun sebab pengembangan EBT di Indonesia hingga angka 12,5 persen seperti saat ini membutuhkan 2 dekade.
Pada pertengahan Desember 2017 lalu, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merilis hasil pemeriksaan Proyek Pengembangan Pembangkit Listrik EBT yang tengah dikerjakan Kementerian ESDM. Dari hasil pemeriksaaan BPK ditemukan 142 proyek mangkrak dengan total nilai Rp1,17 triliun. Meski kabar itu dibantah oleh ESDM yang menyebut hanya proyek senilai Rp. 300-an miliar yang mangkrak, tidak terlalu keliru jika kesimpulan sementara proyek EBT di Indonesia adalah komitmen setengah-setengah, visi meragukan, tapi proyeknya selalu ada, duit ada, dan hasilnya mangkrak.
Sumber: Kumparan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s