Energi Terbarukan untuk Indonesia

Energi Baru Terbarukan di Pantai Baru, Bantul

Selama puluhan tahun negara-negara maju tumbuh dan menikmati buah pertumbuhan ekonomi tanpa mempertimbangkan sisi keberlanjutan atau sustainability. Akibatnya, banyak yang harus “dibayarkan” negara dalam mengatasi bencana akibat perubahan iklim, biaya kesehatan masyarakat akibat buruknya kualitas udara dan lainnya.
Setidaknya dalam satu dekade terakhir, masyarakat dunia semakin sadar akan pentingnya memasukkan isu lingkungan ke dalam strategi pembangungan mereka. Strategi ini dikenal sebagai segitiga keberlanjutan atau sustainability triangle yang mencakup isu ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Di Indonesia sendiri, sampai dengan tahun 2014, pemerintah menjalankan strategi pembangunan di atas 4 pilar pembangunan nasional yaitu pro-growth, pro-job, pro-poor, dan pro-environment. Setelah pemerintahan baru terpilih, isu lingkungan diharapkan masuk ke dalam salah satu tujuan pembangunan nasional Nawacita yaitu “meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia”.
Isu Lingkungan yang Kehilangan Gaung

Mencegah pemanasan global

Mencegah pemanasan global. (Foto: Shutterstock)

Di luar percaya atau tidaknya Anda pada perubahan iklim yang diakibatkan pemanasan global, tentu kita semua mendambakan hidup dalam lingkungan berudara bersih dan segar. Namun faktanya saat ini, Jakarta berada di urutan pertama untuk kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Jakarta meninggalkan 2 ibu kota negara dengan penduduk terbesar di dunia seperti Beijing dan New Delhi. Sepanjang 2017, dari 365 hari dalam setahun, hanya 28 hari yang masuk ke dalam kategori baik, artinya selama 11 bulan Anda menghirup polusi berbahaya.

– –

Karbon dioksida, karbon monoksida, dan timbal hasil pembakaran yang keluar dari mulut knalpot kendaraan bukan hanya berbahaya bagi tubuh kita, namun juga yang menjadi penyebab efek rumah kaca. Partikel-partikel kecil inilah yang menyebabkan bencana-bencana yang diakibatkan oleh perubahan iklim.
Partikel ini bukan hanya sulit ditangkap oleh siklus karbon atau carbon cycle, keberadaannya dalam jumlah besar juga menjebak panas dari cahaya matahari yang dipantulkan bumi, lebih buruk lagi, partikel yang dikategorikan sebagai gas rumah kaca (GRK) atau greehouse gases ini juga mengeluarkan emisi panas.
Akibat dari laju pertumbuhan jumlah GRK yang tidak diimbangi dengan kemampuan alam mengolahnya adalah apa yang terjadi hari ini, bencana, dan naiknya suhu permukaan bumi.
Hal ini diperburuk dengan masih maraknya perambahan hutan di Hutan Hujan Tropis milik bangsa Indonesia yang disebut sebagai paru-paru dunia ini, laju pertumbuhan kendaraan baru, standar kualitas bahan bakar yang tidak meningkat, dan lemahnya pengembangan bahan bakar nabati (BBN) seperti biofuel, bioethanol, biodiesel, dan biogas.

Selain ambisi dan keseriusan pemerintah dalam mengembangkan energi bersih, media dan masyarakat diharapkan dalam meningkatkan eksposur pentingnya pemilihan energi yang ramah lingkungan untuk kualitas hidup yang lebih baik dan berkelanjutan.

– –

Menghijaukan yang Tidak Hijau

Potensi energi panas bumi di Dieng

Potensi energi panas bumi di Dieng (Foto: ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Di Indonesia sendiri, energi bersih ini sering kali disebut dengan istilah Energi Baru Terbarukan (EBT), namun simplifikasi ini dapat menggiring opini publik ke kesalahpahaman. Di Eropa dan Amerika, diksi yang dipilih untuk merepresentasikan energi bersih adalah Energi Terbarukan (ET) atau Renewable Energy (RE).

Karena pada dasarnya tidak ada energi baru, ET sendiri adalah energi yang telah lama umat manusia manfaatkan seperti energi angin untuk para nelayan berlayar dan energi matahari untuk para petani menjemur produk pertanian mereka.

– –

Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 79 Tahun 2014, energi baru adalah energi yang berasal dari teknologi baru, baik dari ET maupun energi tak terbarukan (ETT), seperti nuklir, hidrogen, gas metana batubara (coal bed methane), batubara tercairkan (liquified coal), dan batubara tergaskan (gasified coal). Di dunia, nuklir adalah cabang energi yang berdiri sendiri, demikian pula dengan turunan batubara yang seharusnya masuk ke dalam cabang batubara karena merupakan olahan dari batubara.
Masih di dalam PP Nomor 79 tahun 2014, dijelaskan bahwa ET adalah energi yang dihasilkan sumber energi berkelanjutan seperti panas bumi, angin, bioenergi, sinar matahari, aliran, dan terjunan air, serta gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut.
Dengan demikian, istilah EBT kurang tepat dan misleading untuk mewakili ET, pemerintah telah menghijaukan sumber energi yang sebenarnya tidak hijau.
Hal ini penting sebagai pijakan untuk membandingkan kontribusi ET Indonesia dengan negara lain, serta mengkaji kebijakan pemerintah Indonesia dalam mengembangkan ET.

Saat ini, ET setidaknya telah berkontribusi ke sumber energi banyak negara dunia seperti Islandia 77%, Norwegia 70%, Swedia 55%, Jerman 15%, Kerajaan Inggris 10%, Amerika Serikat (AS) 10%, dan Tiongkok 28%.

– –

Agar Indonesia memiliki ketahanan energi yang tangguh, maka diperlukan bauran sumber energi nasional. Semakin banyak sumber energi nasional, semakin kecil ketergantungan negara atas salah satu sumber energi. Untuk mencapai hal ini, Dewan Energi Nasional (DEN) telah mengeluarkan target bauran energi nasional pada 2025, atau 7 tahun dari sekarang.
Sumber energi nasional di 2025 akan bersumber dari 22% gas bumi, 30% batubara, 25% minyak bumi, dan 23% EBT. Meski 23% EBT terdengar angka yang besar, tentu angka ini tidak dapat langsung mewakili keberpihakan pemerintah dalam mengembangkan ET karena di dalam EBT masih ada produk turunan energi tidak bersih atau tidak terbarukan.
Dengan kata lain, target 23% EBT tidak dapat menjadi justifikasi Indonesia akan memiliki 23% sumber energi dari ET.
Hal ini semakin mencemaskan ketika melihat porsi sumber energi nasional yang berasal dari ET hanya 8% di 2015. Jika 23% EBT yang dimaksud pemerintah adalah 100% ET, maka diperlukan peningkatan pembangunan ET sebanyak 16% dalam kurun waktu 5 tahun kedepan.

Pada 2015, kapasitas terpasang produksi listrik nasional adalah sekitar 52.000 MW, di mana hanya sekitar 8% saja yang berasal dari ET seperti tenaga air, panas bumi, dan energi matahari.

– –

Dengan demikian, diperlukan setidaknya 57% pembangkit ET dalam proyek 35.000 MW, sehingga pada 2025 nanti 23% energi dari total kapasitas terpasang nasional yang mencapai 87.000 MW bisa bersumber dari ET.
Namun sayang, antara target bauran energi nasional dan program pemerintah tidak sejalan, di mana lebih dari 50% proyek 35.000 MW adalah pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) baru yang energi bersumber dari batubara. Sebetulnya ini adalah perhitungan kasar, karena produksi energi aktual dari pembangkit ET akan jauh lebih kecil daripada kapasitas terpasangnya.
Penjabaran singkat ini diperlukan untuk menjelaskan betapa masih banyaknya pembangkit ET baru yang harus pemerintah bangun untuk mencapai target 23% ET nasional. Pemerintah perlu juga mempertegas dan memperjelas target 23% EBT tersebut adalah dari total kapasitas terpasang nasional, total produksi energi dari pembangkit listrik atau total konsumsi energi akhir (total final energy consumption/ TPES)? Karena semua nilai tersebut berbeda dan dapat menyebabkan misleading.
Untuk mengejar ketertinggalan ini, pemerintah perlu membuat kebijakan yang holistik lintas kementerian yang bersinggungan dengan kepentingan pengembangan ET di tanah air.
Seperti Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dalam mengkaji kebijakan tax holiday bagi start-up bisnis bidang ET, kemudahan pendanaan dari perbankan nasional, instrumen sertifikat karbon, kebijakan subsidi produsen teknologi ET, kebijakan subsidi feed-in-tarif, harga pokok penjualan listrik yang lebih kompetitif atau power purchase agreement, dan seluruh hal yang yang dapat menstimulus perkembangan ET nasional.

Energi Baru Terbarukan di Pantai Baru, Bantul

Energi Baru Terbarukan di Pantai Baru, Bantul (Foto: Resya Firmansyah/ kumparan)

Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) yang telah memasukkan topik energi sebagai salah satu prioritas riset mereka, harus pula diimbangi dengan kebutuhan topik energi yang bersinggungan dengan industri ET. Kementerian Energi dan Sumber daya mineral (ESDM) yang menjadi tumpuan perumusan regulasi tumbuh kembangnya industri ET di tanah air perlu menyiapkan langkah-langkah strategis untuk menggapai target bauran nasional 2025, bisa berupa buku putih energi terbarukan nasional agar pergerakan masyarakat lebih tergerak dan mengerti lagi.
Kementerian BUMN pun sebagai pionir dari banyak bisnis di bumi nusantara dapat meluncurkan sebuah perusahaan penyedia listrik berbasis ET berada di bawah holding perusahan listrik nasional, semata-mata untuk mempercepat penetrasi dan pasokan energi bersih nasional. Hal-hal tersebut adalah intervensi postif negara dalam menghadirkan dan mengejar target pengembangan ET di Indonesia.
Ketahanan Energi Nasional

Energi

Energi alternatif menggunakan angin (Foto: Wikimedia)

Dalam menjaga stabilitas ekonomi, politik, dan keamanan nasional, ada dua ketahanan yang perlu diperjuangkan negara yaitu ketahanan pangan nasional dan ketahanan energi nasional. Pangan dan energi adalah kebutuhan dasar atau basic needs sebuah bangsa.
Indonesia yang dianugerahi batubara dan gas alam yang melimpah patut bersyukur jika dibandingkan dengan negara-negara tanpa sumber energi murah tersebut.

Tidak semua energi bisa disimpan dengan mudah, terutama energi yang berasal dari energi angin dan matahari. Namun batubara dan gas alam adalah senyawa yang sudah menyimpan kandungan energi atau bernilai kalori.

– –

Dengan demikian, energi ini dapat disimpan dalam jangka waktu panjang, dan dapat digunakan saat diperlukan dengan fleksibilitas tinggi. Di samping itu, harganya yang murah menjadikan banyak negara bertopang pada kebutuhan batubara dan gas alam.
Namun, produksi yang signifikan tidak terkendali dari batubara dalam 10 tahun terakhir yang meningkat 284% atau 244 MTOE pada 2015 telah sangat mengkhawatirkan, ironisnya sebagian besar batubara ini untuk tujuan ekspor, padahal batubara Indonesia adalah modal penting pembangunan dan bahan bakar industri masa depan kita.
Setidaknya dicanangkan 30% energi nasional akan bersumber dari batubara di 2025. Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) tidak tepat lagi diidentikkan dengan debu dan hitam. Teknologi Electrostatic Precipitator (ESP) telah mampu menahan hampir seluruh partikel hasil pembakaran batubara, membuat emisi yang dihasilkan lebih rendah.
Bukan tidak mungkin bebebrap tahun mendatang dunia akan memiliki PLTU dengan zero emission seperti yang sedang beberapa negara di Eropa kembangkan, sehingga dapat menjadi bagian dari menahan laju pemanasan global.

Emisi Karbon Perkotaan

Emisi Karbon Perkotaan (Foto: Aly Song)

Selain batubara dan gas alam, Indonesia dapat mengandalkan pembangkit listrik ET dari panas bumi yang baru sekitar 5% dimanfaatkan dari total potensinya yang mencapai 29 Giga Watt. Pemerintah telah cukup serius dengan menaikkan harga jual listrik dari panas bumi sehingga dapat menarik minat investor baru, mempublikasikan buku potensi panas bumi dan memetakan 33 wilayah kerja pertambangan (WKP) panas bumi.
Untuk mengejar 23% target energi bersih, pemerintah perlu pula mulai memperkenalkan kendaraan listrik berbasis baterai dan sel bahan bakar atau fuel-cell. Penarikan subsidi terhadap bahan bakar minyak (BBM) diharapkan menjadi salah satu alasan masyarakat dapat beralih ke kendaraan listrik.
Untuk diketahui, negara-negara di kawasan Eropa telah mendapat banyak dukungan dari industri kendaraan dan pemerintah untuk mulai beralih ke kendaraan listrik. Seperti Toyota akan mulai memberhentikan penjualan mobil diesel mereka di Eropa.
Selain itu, Perdana Menteri (kanselir) Jerman Angela Merkel sejak 2015 telah menargetkan 1 juta mobil listrik di Jerman sampai 2020 mendatang. Sambil memperkenalkan kendaraan listrik ke masyarakat, pemerintah perlu pula mulai menaikkan standar emisi mobil dan motor sehingga pelaku industri kendaraan dan industri bahan bakar dapat meningkatkan kualitas produk mereka sehingga bisa menekan laju produksi emisi.

Mau tidak mau, suka tidak suka, kita semua akan segera masuk dalam era baru, era di mana peradaban manusia akan bersandar pada kendaraan listrik, listrik yang di masa depan akan banyak dihasilkan dari energi terbarukan.

– –

Penanganan bersama pemanasan global telah mendapat panggung di dunia internasional, mulai dari Kyoto Protocol, Bali Roadmap sampai kesepakatan Paris. Indonesia bersama Norwegia juga aktif dalam kegiatan penanganan hutan di program REDD sebagai langkah inisiatif yang dapat dilakukan untuk menahan laju pemanasan global.
Bagi sebagian orang, negara berkembang seolah ditekan dan dipaksa untuk mengembangkan ET, di saat negara-negara maju telah menikmati hasil pembakaran energi kotor selama puluhan tahun.
Tentu saja pengembangan ET masih bisa pararel dengan pemanfaatan energi fosil, dengan catatan bahwa di masa depan pembangkit listrik berbahan bakar fosil ini dapat menangkap semakin banyak emisi yang dihasilkan atau bahkan sampai nihil emisi atau zero emission.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir. (Foto: Wikimedia Commons)

Dalam mengejar target 23% energi bersih, pemerintah tidak dapat mengambil jalan pintas dengan mendirikan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Karena nuklir sampai hari ini masih masuk kategori energi tidak terbarukan, walau memang betul ada penelitian untuk bisa mendaur ulang bahan bakar PLTN.
Isu nuklir di Indonesia kencang kembali berhembus setelah ada diskusi Indonesia dengan Rusia yang diwakili Rosotom. Ada juga kalangan yang masih memiliki sindrom inferior kompleks atau inferiority complex syndrome yang menganggap pemilik teknologi nuklir adalah mereka yang pasti bangsanya maju.

Seolah negara maju harus memiliki PLTN, saat ini Bangladesh, Mesir pun akan menyusul India, dan Pakistan dalam memiliki PLTN, namun hal ini ternyata tidak akan pernah otomatis membuat mereka terlabel negara maju.

– –

Tujuan Indonesia bukan sebatas negara maju namun lebih dalam daripada itu, yaitu negara sejahtera. Masih banyak sederet negara sejahtera dan maju yang tidak memilih nuklir sebagai sumber energinya. Sumber energi yang paling tepat bagi negara tertentu haruslah berakar dari potensi energi yang dimiliki masing-masing negara.
Pada tahun 2011 paska terjadinya tragedi Fukushima, PM Jerman Angela Merkel langsung memutuskan untuk menutup “seluruh” PLTN mereka sampai 2020 mendatang. Semua energi yang bersumber dari PLTN akan dialihkan ke sumber-sumber energi ramah lingkungan seperti energi angin, energi matahari dan biomasa, kenapa kita justru mulai berpikir untuk memiliki PLTN?
Seperti halnya pilihan investasi saham, high risk, high return, demikian pula dengan pilihan sumber energi. PLTN memang memiliki efisiensi tinggi dalam ongkos produksi listrik, harga listrik dari PLTN jauh di bawah harga listrik yang dihasilkan energi terbarukan dan bahan bakar fosil.

Peta Indonesia

Peta Indonesia (Foto: Thinkstock)

Namun demikian, PLTN masih menyisakan pertanyaan tentang keamanan, sustainability, pengolahan limbah, dan ketahanannya terhadap Indonesia yang geografisnya rentan bencana tsunami, longsor, banjir, gempa bumi, dan gunung meletus. Sebagai bagian dari “ring of fire”, setidaknya Indonesia memiliki 150 gunung api, tentu hal ini perlu menjadi perhatian dan pertimbangan.
Kita semua mencintai benua Indonesia sepanjang 5000 km ini. Artikel ini semata-mata ditulis sebagai penyeimbang informasi di media tentang pentingnya keberadaan ET, mendorong keberpihakan pemerintah Republik Indonesia dalam mengembangkan ET serta gagasan-gagasan yang dapat diterapkan berdasarkan potensi energi nasional, tantangan geografis, dan perkembangan energi dunia.
Sumber: Kumparan.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s