Tingkatkan Pemanfaatan Energi Terbarukan

Kelapa Sawit. Foto Ilustrasi: Ist

Pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih sedikit jika dibandingkan potensi yang dimiliki negara kita. Hal ini tak lepas dari masih minimnya pengembangan energi terbarukan. Sejumlah kendala untuk pengembangan energi terbarukan di antaranya besarnya investasi yang dibutuhkan, biaya produksi yang masih tinggi, penguasaan teknologi, dan ketersediaan sumber dana manusia (SDM) yang mumpuni.

Pemerintah pun bertekad terus meningkatkan porsi energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi primer dalam bauran energi pembangkit listrik nasional. Berdasarkan data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), kontribusi EBT bertambah 2% dalam tiga tahun menjadi 12,15% pada akhir 2017.

Dari jumlah itu, porsi panas bumi dan EBT lainnya mencapai 5,09% dan air 7,06%. Porsi EBT dalam bauran energi ditargetkan mencapai 23% pada 2025 atau setara dengan 45 gigawatt (GW). Sedangkan batu bara menempati porsi mayoritas sebesar 57,22% hingga akhir 2017, gas bumi sebesar 24,82% dan bahan bakar minyak (BBM) sebesar 5,81%.

Pemerintah memang terus mengupayakan porsi BBM dalam bauran energi di pembangkit listrik nasional terus turun. Pada akhir 2017, porsi BBM tersebut menurun signifikan hingga lebih dari separuh dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 11,81%.

Di tengah tren harga minyak yang meningkat, porsi BBM dalam bauran energi untuk pembangkit listrik sudah sepatutnya terus diturunkan agar tidak makin memberatkan APBN. Dari harga jual BBM jenis solar sebesar Rp 5.150 per liter, pemerintah masih memberikan subsidi Rp 500 per liter.

Bahkan pemerintah berencana menaikkan besaran subsidi BBM solar menjadi Rp 2.000 per liter. Tambahan subsidi Rp 1.500 per liter itu dengan mempertimbangkan kenaikan harga minyak dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Di sisi lain, Indonesia harus mengimpor separuh dari total kebutuhan 1,6 juta barel minyak per hari. Tingginya impor minyak ini berdampak memperburuk neraca perdagangan Indonesia, menggerus cadangan devisa, dan melemahkan nilai tukar rupiah. Karena itu, kenaikan harga minyak saat ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk menggenjot pemanfaatan energi terbarukan yang sumbernya melimpah di dalam negeri.

Peningkatan pemanfaatan energi terbarukan juga untuk mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil yang bakal habis. Saat ini Indonesia memiliki cadangan terbukti minyak bumi sekitar 3,3 miliar barel. Dengan asumsi produksi konstan 800.000 barel per hari (bph) misalnya, jika tanpa adanya temuan cadangan baru maka dalam 11 hingga 12 tahun ke depan Indonesia tidak mampu memproduksi minyak bumi lagi.

Tidak hanya untuk pembangkit listrik, peningkatan pemanfaatan energi terbarukan juga mesti ditingkatkan untuk sektor lainnya, terutama yang bersumber dari bahan bakar nabati (BBN) untuk campuran solar atau biodiesel. Saat ini penggunaan biodiesel baru untuk solar bersubsidi, pembangkit listrik, dan kereta api.

Mulai pertengahan tahun ini, pemerintah akan memperluas pemanfaatan biodiesel hingga ke sektor pertambangan, dan kemudian ke sektor industri lainnya.

Bahan campuran solar ini adalah unsur nabati atau fatty acid methyl eter (FAME) yang berbahan dasar minyak sawit. Adapun produksi sawit nasional mencapai 38 juta ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 11 juta ton diserap dalam negeri dan sisanya diekspor. Artinya, peningkatan mandatori perluasan penggunaan biodiesel tidak akan terhambat oleh pasokan bahan baku minyak sawit.

Sementara itu, persoalan masih tingginya biaya produksi bahan campuran solar ini diatasi dengan pemberian insentif kepada para produsen BBN. Insentif diberikan agar harga jual biodiesel bisa ditekan dan dapat diserap konsumen.

Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) telah mengalokasikan dana hingga Rp 9 triliun untuk insentif penggunaan biodiesel tahun ini, masing-masing 3 juta kilo liter (kl) untuk program solar bersubsidi dan pembangkit listrik PLN, 200 ribu kl untuk program nonsubsidi, dan 20 ribu kl untuk kereta api.

Sebagai negara produsen utama, Indonesia memiliki 12 juta hektare lahan sawit. Produksi minyak sawit Indonesia juga bagus. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mencatat, pada 2017 produksi minyak mentah kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) Indonesia mencapai 38,17 juta ton, sementara produksi palm kernel oil (PKO) atau minyak inti kelapa sawit mencapai 3,05 juta ton.

Dengan demikian, total produksi kelapa sawit Indonesia sepanjang tahun 2017 mencapai 41,98 juta ton. Angka itu meningkat 18% dibanding tahun sebelumnya.

Dengan produksi minyak sawit yang meningkat, kita dapat meningkatkan produksi bahan bakar nabati (BBN) yang bersumber dari minyak sawit. Peningkatan produksi BBN itu bisa dilakukan dengan mengurangi volume ekspor minyak sawit dan dialihkan untuk bahan baku BBN. Langkah itu juga sebagai antisipasi jika Uni Eropa jadi mengamendemen Pedoman Energi Terbarukan atau Renewable Energy Directive (RED) yang dapat merugikan negara produsen minyak kelapa sawit.

Kebijakan itu akan diberlakukan oleh Uni Eropa terhadap minyak kelapa sawit, termasuk produk-produk turunannya dan biofuel. Rencananya, pada 2030, sebanyak 32% sumber energi di Uni Eropa akan berasal dari energi terbarukan. Namun, untuk memenuhi komitmen 32% tersebut, Uni Eropa berencana menghapus kontribusi minyak kelapa sawit (biofuel) sebagai salah satu sumber energi terbarukan. (*)

Sumber: id.beritasatu.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s