Masih ada proyek energi hijau mandek

Masih ada proyek energi hijau mandek

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, masih ada 45 pengembang listrik swasta energi baru terbarukan (EBT) mandek di tengah jalan. Padahal sebelumnya proyek energi hijau itu telah meneken perjanjian jual beli listrik atau power purchase agreement(PPA).

Mereka masih kesulitan mencari pendanaan dari perbankan. Sehingga, sampai batas waktu yang sudah ditentukan dalam PPA, belum juga mencapai financial clossing.

Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Rida Mulyana mengungkapkan, Perusahaan Listrik Negara (PLN) sedang mengevaluasi 45 pembangkit itu. Apabila dalam evaluasi masih ada perkembangan, maka PPA akan terus dilanjutkan. “Kalau tidak, mau bagaimana lagi (dicabut PPA). Sudah dikasih jangka waktu, kan,” ujarnya ke KONTAN, Senin (25/6).

Sebelumnya terdapat 70 pengembangan listrik EBT yang sudah melaksanakan tandatangan PPA pada tahun 2017 lalu. Namun sampai saat ini, baru ada empat pembangkit yang sudah masuk tahap pengoperasian secara komersial aliascommercial operation date (COD)

Rida menerangkan, saat ini, pihaknya bekerjasama dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menyelesaikan masalah ini. Para pengembang dari 45 pembangkit itu diminta mengirimkan kesulitan mereka kepada OJK. “OJK mau memfasilitasi dan satu per satu diminta profilnya. Mereka bisa membantu dari segi keuangan. OJK sudah membuka diri, dalam waktu dekat akan ada undangan untuk mempertemukan mereka,” ungkapnya.

Hanya saja, sampai saat ini, masih ada beberapa perusahaan yang juga belum melaporkan profil ke OJK. Rida telah mendapatkan laporan hal tersebut sedikit lambat. “Kami juga tidak akan membiarkan, karena sayang potensinya,” terangnya.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pengembang Listrik Tenaga Air (APPLTA) Riza Husni membenarkan, OJK akan ikut membantu. Hanya saja, sesuai dengan PPA yang sudah dilakukan bahwa proyek tersebut tetap tidak bankable terkecuali ada paksaan atau government guarantee. “Solusinya Menteri ESDM harusnya punya keinginan meninggalkan legacy yang baik untuk EBT. Jangan arogansi never serve anyone,” ungkapnya.

Saat ini tidak ada bank yang mau membiayai, karena EBT dianggap tidak menarik. Kalaupun OJK dan Kementerian ESDM mau untuk memaksa pihak bank, kata Riza, ini merupakan tindakan yang tidak baik dan menjadi beban pemerintah. “Ada empat yang bisa mendapat pendanaan karena didukung grup usaha besar. Sisanya tak mendapat pendanaan,” tandasnya.

Sumber: Kontan.co.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s